Sidang Pemakzulan Trump: Senat AS Tolak Panggil Saksi

Sabtu, 01 Februari 2020 - 16:53 WIB
Sidang Pemakzulan Trump:...
Sidang Pemakzulan Trump: Senat AS Tolak Panggil Saksi
A A A
WASHINGTON - Sidang pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memasuki babak baru. Setelah sempat memanas hingga membuat Trump tersudut, perkembangan terbaru justru membuka jalan bagi presiden AS ke-45 itu untuk bebas minggu depan.

Situasi ini tidak terlepas dari keputusan Senat AS menolak memanggil saksi dan mengumpulkan bukti baru dalam persidangan pemakzulan Trump lewat mekanisme voting. Dengan suara 51-49, Senat AS yang dikuasai Partai Republik menghentikan upaya Partai Demokrat untuk mendengarkan kesaksian dari para saksi. (Baca: Sidang Pemakzulan Memanas, Trump Semakin Tersudut )

Salah satu saksi yang rencananya akan dihadirkan adalah mantan penasihat keamanan nasional John Bolton. Bolton dianggap memiliki pengetahuan langsung tentang upaya Trump menekan Ukraina untuk menyelidiki saingan politiknya, mantan Wakil Presiden Joe Biden.

Dalam pemungutan suara pada Jumat waktu setempat, hanya dua senator Partai Republik yang "membelot." Keduanya adalah calon presiden Partai Republik pada 2012 Mitt Romney dan Susan Collins.

"Amerika akan mengingat hari ini, sayangnya, di mana Senat tidak memenuhi tanggung jawabnya, di mana Senat berpaling dari kebenaran dan pergi bersama dengan pengadilan palsu," kata Pemimpin Senat Partai Demokrat Chuck Schumer kepada wartawan seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (1/2/2020).

Setelah pemungutan suara pertama tentang pemanggilan saksi, Schumer menawarkan lebih banyak amandemen yang berusaha memanggil saksi dan mendapatkan lebih banyak bukti, tetapi Senat menolak semua usulan itu. Romney dan Collins adalah satu-satunya Republikan yang mendukung memanggil Bolton sebagai saksi.

Senator Partai Republik Lindsey Graham mengatakan persidangan itu harus berakhir sesegera mungkin.

"Kue itu dipanggang dan kami hanya perlu bergerak sesegera mungkin untuk mendapatkannya di belakang kami," katanya kepada wartawan.

Pemungutan suara untuk memanggil para saksi datang beberapa jam setelah New York Times melaporkan rincian baru dari sebuah manuskrip buku yang tidak diterbitkan yang ditulis oleh Bolton. Dalam buku itu mantan ajudannya mengatakan Trump mengarahkannya pada bulan Mei untuk membantu dalam kampanye tekanan untuk membuat Ukraina melakukan penyelidikan yang akan menguntungkan Trump secara politis.

Bolton menulis bahwa Trump mengatakan kepadanya untuk menelepon Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk memastikan Zelenskiy akan bertemu dengan pengacara pribadi Trump Rudy Giuliani, tokoh kunci dalam kampanye itu, Times melaporkan.

Robert Costello, seorang pengacara untuk Giuliani, menyebut laporan Times tidak benar. Sedangkan pengacara dan juru bicara Bolton tidak menanggapi permintaan komentar.

The Times sebelumnya melaporkan bahwa Bolton - bertentangan dengan versi peristiwa Trump - menulis bahwa presiden mengatakan kepadanya bahwa ia ingin membekukan USD391 juta bantuan keamanan ke Ukraina sampai Kiev melakukan penyelidikan terhadap Demokrat, termasuk Biden dan putranya, Hunter Biden.

Demokrat mengatakan berita itu menggambarkan perlunya Senat untuk menempatkan Bolton di bawah sumpah alias menjadi saksi.

Tapi Partai Republik mengatakan mereka sudah cukup mendengar. Beberapa mengatakan mereka tidak berpikir bahwa Trump melakukan sesuatu yang salah. Senator Marco Rubio mengatakan pemakzulan akan memecah belah Amerika, bahkan jika seorang presiden terlibat dalam aktivitas yang jelas tidak dapat dielakkan.

Trump dimakzulkan oleh DPR AS pada Desember tahun lalu. Ia didakwa dengan dua pasal. Pasal pertama Trump dianggapa telah menyalahgunakan kekuasaan karena berusaha menekan pemerintah Ukraina untuk menyelidiki pesaing politiknya dari Partai Demokrat mantan Wakil Presiden AS Joe Biden dan anaknya, Hunter Biden.

Sementara pasal kedua adalah menghalangi Kongres, karena Trump mengganggu penyelidikan DPR, terutama dengan mengarahkan cabang eksekutif untuk tidak bekerja sama dengan penyelidikan. (Baca: Resmi, DPR AS Makzulkan Trump )

Senat AS hampir pasti akan membebaskan Trump dari tuduhan itu. Dibutuhkan dua pertiga suara Senat untuk memakzulkan Trump dan dari 53 anggota Senat Partai Republik dapat dipastikan akan menolak hal tersebut.
(ian)
Berita Terkait
Dimakzulkan Kedua Kali,...
Dimakzulkan Kedua Kali, Trump Minta Pendukungnya Tetap Tenang
Trump Jadi Presiden...
Trump Jadi Presiden AS Pertama yang Dimakzulkan Dua Kali
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Donald Trump Tinggalkan...
Donald Trump Tinggalkan Gedung Putih
Pendukung Trump dan...
Pendukung Trump dan Massa Anti-Trump Bentrok di Washington DC
Berita Terkini
Gelombang Panas Ganggu...
Gelombang Panas Ganggu Perayaan Kemerdekaan AS ke-250
40 menit yang lalu
10 Juta Rakyat Iran...
10 Juta Rakyat Iran Hadiri Pemakaman Khamenei, Bendera Merah Dikibarkan
1 jam yang lalu
Houthi Ancam Saudi,...
Houthi Ancam Saudi, Riyadh Janji Beri Respons Keras!
2 jam yang lalu
Siapa Charles Q. Brown...
Siapa Charles Q. Brown Jr? Jenderal AS yang Dipecat Trump Kritik Pemanfaatan Militer untuk Misi Politik
3 jam yang lalu
5 Alasan Pemakaman Ayatollah...
5 Alasan Pemakaman Ayatollah Khamenei Ditunda 4 Bulan, Memperkuat Persatuan dan Revolusioner Iran
4 jam yang lalu
Lebih dari 5.000 Sekolah...
Lebih dari 5.000 Sekolah Buka Pintu bagi Para Peziarah Pemakaman Khamenei
5 jam yang lalu
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved