Pemimpin Hong Kong Tolak Desakan Tutup Perbatasan dengan China
Jum'at, 31 Januari 2020 - 23:01 WIB
Pemimpin Hong Kong Tolak Desakan Tutup Perbatasan dengan China
A
A
A
HONG KONG - Pemimpin Hong Kong Carrie Lam menolak desakan dari serikat pekerja medis untuk menutup perbatasan dengan China daratan demi mengatasi penyebaran wabah virus corona baru. Dia meminta staf medis tidak terlalu jauh bertindak dengan menggelar mogok kerja.
Aliansi Pegawai Otoritas Rumah Sakit menyatakan bahwa 6.500 anggotanya akan menggelar mogok kerja jika perbatasan tetap dibuka. Ancaman itu diungkapkan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan virus corona sebagai darurat global.
WHO merekomendasikan semua negara mencegah atau mengurangi penyebaran penyakit lintas perbatasan. Namun WHO menyatakan berbagai kebijakan jangan sampai mempengaruhi perdagangan atau perjalanan.
"Saya khawatir (penutupan perbatasan) bertentangan dengan saran WHO yang meminta pemerintah tidak mengambil langkah apapun yang mungkin memicu diksriminasi," papar Lam saat mengumumkan sejumlah kebijakan baru untuk melawan penyakit itu.
Dia menyatakan setiap aksi industri oleh staf medis hanya akan membuat situasi memburuk. "Pada akhirnya yang akan menderita adalah kita warga Hong Kong dan sistem kesehatan publik," ungkap Lam, dilansir Reuters.
Otoritas telah mengumumkan 12 infeksi terkonfirmasi di Hong Kong tapi tak ada korban tewas. Jumlah kasus yang dikonfirmasi di China meningkat melebihi 9.800 dan 213 orang meninggal di China.
Lam menjelaskan pada 30 Januari bahnya hanya 9,7% kedatangan ke Hong Kong, termasuk di bandara, yang berasal dari China daratan dan sebagian besar sisanya adalah warga Hong Kong yang kembali.
Dia menyatakan jumlah kunjungan dari warga China akan berkurang karena kota-kota di China daratan menerapkan penutupan.
Aliansi Pegawai Otoritas Rumah Sakit menyatakan bahwa 6.500 anggotanya akan menggelar mogok kerja jika perbatasan tetap dibuka. Ancaman itu diungkapkan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan virus corona sebagai darurat global.
WHO merekomendasikan semua negara mencegah atau mengurangi penyebaran penyakit lintas perbatasan. Namun WHO menyatakan berbagai kebijakan jangan sampai mempengaruhi perdagangan atau perjalanan.
"Saya khawatir (penutupan perbatasan) bertentangan dengan saran WHO yang meminta pemerintah tidak mengambil langkah apapun yang mungkin memicu diksriminasi," papar Lam saat mengumumkan sejumlah kebijakan baru untuk melawan penyakit itu.
Dia menyatakan setiap aksi industri oleh staf medis hanya akan membuat situasi memburuk. "Pada akhirnya yang akan menderita adalah kita warga Hong Kong dan sistem kesehatan publik," ungkap Lam, dilansir Reuters.
Otoritas telah mengumumkan 12 infeksi terkonfirmasi di Hong Kong tapi tak ada korban tewas. Jumlah kasus yang dikonfirmasi di China meningkat melebihi 9.800 dan 213 orang meninggal di China.
Lam menjelaskan pada 30 Januari bahnya hanya 9,7% kedatangan ke Hong Kong, termasuk di bandara, yang berasal dari China daratan dan sebagian besar sisanya adalah warga Hong Kong yang kembali.
Dia menyatakan jumlah kunjungan dari warga China akan berkurang karena kota-kota di China daratan menerapkan penutupan.
(sfn)