Rusia: Kebijakan Agresif AS Tingkatkan Ketegangan Global
Sabtu, 18 Januari 2020 - 13:27 WIB
Rusia: Kebijakan Agresif AS Tingkatkan Ketegangan Global
A
A
A
MOSKOW - Kepala kebijakan Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyebut kebijakan agresif Amerika Serikat (AS) meningkatkan ketegangan global. Ia pun memberikan catatan terhadap keengganan Washington untuk memperpanjang pakta senjata nuklir.
Lavrov mengatakan pertemuan para pejabat tinggi AS dan diplomat Rusia minggu ini mengenai stabilitas strategis tidak mencapai hasil segera. Pelaksana Menteri Luar Negeri Rusia itu, setelah mengundurkan diri dari kabinet pada Rabu lalu, menambahkan bahwa dialog terus berlanjut.
Ia juga mengatakan bahwa AS telah menghalangi dorongan Rusia untuk memperpanjang perjanjian senjata nuklir New Start yang berakhir pada 2021. Perjanjian tersebut adalah kesepakatan kontrol senjata AS-Rusia terakhir yang masih berlaku, dan Moskow berpendapat bahwa kematiannya akan menghapus penghalang terakhir yang membendung perlombaan senjata.
"Kami akan berusaha keras untuk menghindari mencabut perjanjian yang mengendalikan dan membatasi senjata nuklir dari dunia," kata Lavrov.
"Kami mendukung perpanjangan perjanjian New Start tanpa prasyarat apa pun," imbuhnya.
"Saya harap orang Amerika mendengar kita, tetapi kita belum menerima sinyal yang masuk akal dari mereka," ujarnya seperti dikutip dari AP, Sabtu (18/1/2020).
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah mendorong China untuk bergabung dengan perjanjian senjata nuklir, tetapi Lavrov menggambarkan gagasan itu tidak realistis. Ia menunjuk pada penolakan Beijing untuk membahas pengurangan arsenal nuklirnya, yang jauh lebih kecil daripada AS atau Rusia.
Lavrov menekankan bahwa dorongan AS agar Rusia mendorong China untuk berubah pikiran tidak masuk akal.
"Kami menghormati posisi China dan kami tidak akan membujuk China untuk mengubahnya," tukasnya.
Lavrov mengatakan pertemuan para pejabat tinggi AS dan diplomat Rusia minggu ini mengenai stabilitas strategis tidak mencapai hasil segera. Pelaksana Menteri Luar Negeri Rusia itu, setelah mengundurkan diri dari kabinet pada Rabu lalu, menambahkan bahwa dialog terus berlanjut.
Ia juga mengatakan bahwa AS telah menghalangi dorongan Rusia untuk memperpanjang perjanjian senjata nuklir New Start yang berakhir pada 2021. Perjanjian tersebut adalah kesepakatan kontrol senjata AS-Rusia terakhir yang masih berlaku, dan Moskow berpendapat bahwa kematiannya akan menghapus penghalang terakhir yang membendung perlombaan senjata.
"Kami akan berusaha keras untuk menghindari mencabut perjanjian yang mengendalikan dan membatasi senjata nuklir dari dunia," kata Lavrov.
"Kami mendukung perpanjangan perjanjian New Start tanpa prasyarat apa pun," imbuhnya.
"Saya harap orang Amerika mendengar kita, tetapi kita belum menerima sinyal yang masuk akal dari mereka," ujarnya seperti dikutip dari AP, Sabtu (18/1/2020).
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah mendorong China untuk bergabung dengan perjanjian senjata nuklir, tetapi Lavrov menggambarkan gagasan itu tidak realistis. Ia menunjuk pada penolakan Beijing untuk membahas pengurangan arsenal nuklirnya, yang jauh lebih kecil daripada AS atau Rusia.
Lavrov menekankan bahwa dorongan AS agar Rusia mendorong China untuk berubah pikiran tidak masuk akal.
"Kami menghormati posisi China dan kami tidak akan membujuk China untuk mengubahnya," tukasnya.
(ian)