Pertumbuhan Pengaruh China Guncang Asia Tenggara Saat AS Melemah

Kamis, 16 Januari 2020 - 04:01 WIB
Pertumbuhan Pengaruh...
Pertumbuhan Pengaruh China Guncang Asia Tenggara Saat AS Melemah
A A A
SINGAPURA - Pertumbuhan pengaruh ekonomi dan politik China di Asia Tenggara semakin menjadi sumber kekhawatiran saat pengaruh Amerika Serikat (AS) melemah di era Presiden Donald Trump.

Hasil survei bertema The State of Southeast Asia itu diungkap setelah meminta pendapat 1.300 responden yang terdiri atas para pejabat, akademisi dan profesional lainnya.

Menurut survei itu, tingkat ketidakpercayaan pada China meningkat lebih dari 60% dari sebelumnya di bawah 52% pada 2019. Hampir 40% menyatakan mereka berpikir China adalah "kekuatan revisionis dan bermaksud mengubah Asia Tenggara menjadi wilayah pengaruhnya."

"Wilayah ini khawatir dengan pengaruh substansial China dan pengaruh yang masih tumbuh itu muncul dari ketidakpastian tentang bagaimana China menggunakan kekuatannya yang besar sekali," ungkap Tang Siew Mun dari ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura yang menggelar survei itu.

"Ketegasan China di Laut China Selatan dan kegemaran Beijing menjadikan perdagangan sebagai senjata cukup menyebabkan kekhawatiran bahwa kebangkitan China mungkin tidak sedamai seperti tujuan awalnya," papar Tang, dilansir Reuters.

Misalnya, pada salah satu isu terkini yang paling penting, masa depan jaringan 5G, Huawei dan perusahaan telekomunikasi China lainnya dianggap lebih baik dibandingkan pesaing asal AS, meski AS menuduh peralatan Huawei dapat digunakan untuk spionase.

Hampir 80% responden menganggap China sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh, naik dari 73% pada 2019. Sebanyak 52% menyatakan China kekuatan politik paling penting dan strategis, naik dari 45%.

Mayoritas responden yang memilih Beijing itu menyatakan mereka khawatir dengan pertumbuhan pengaruh China tersebut.

Responden dari Vietnam dan Filipina paling tidak percaya pada China.

Lebih dari tiga per empat responden menyatakan kedekatan AS dengan Asia Tenggara berkurang di era Trump dibandingkan pendahulunya, Barack Obama.
(sfn)
Berita Terkait
Buka KTT ASEAN-China,...
Buka KTT ASEAN-China, Presiden Jokowi Sebut China Sebagai Mitra Strategis Komprehensif
Perkaya Kemitraan Strategis,...
Perkaya Kemitraan Strategis, China Siap Bekerja Sama dengan ASEAN
Menlu ASEAN Fokus Bahas...
Menlu ASEAN Fokus Bahas Laut China Selatan dan Perang Myanmar
China Jadi Sumber Investasi...
China Jadi Sumber Investasi Terbesar ASEAN, Tembus Rp207 Triliun
Blok Perdagangan Terbesar...
Blok Perdagangan Terbesar di Dunia Terbentuk, Apakah Kepanjangan Tangan China?
Biden Janjikan Rp2,2...
Biden Janjikan Rp2,2 Triliun ke ASEAN dengan Mata Tertuju China
Berita Terkini
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
2 jam yang lalu
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
4 jam yang lalu
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
5 jam yang lalu
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
6 jam yang lalu
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
7 jam yang lalu
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
9 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved