Selain Soleimani, AS Juga Berusaha Bunuh Petinggi IRGC di Yaman
Sabtu, 11 Januari 2020 - 04:06 WIB
Selain Soleimani, AS Juga Berusaha Bunuh Petinggi IRGC di Yaman
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) dilaporkan berusaha untuk membunuh seorang komandan top Iran lainnya di hari yang sama saat mereka membunuh Jenderal Qassem Soleimani. Namun, upaya pembunuhan yang dilakukan melalui operasi khusus itu berujung pada kegagalan.
Seorang pejabat senior AS mengatakan pasukan operasi khusus AS gagal membunuh Abdul Reza Shahlai di Yaman. Shalai adalah seorang komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan pemodal yang menurut Departemen Luar Negeri AS adalah dalang upaya pembunuhan seorang Duta Besar Arab Saudi di AS pada 2011 lalu.
Pejabat AS yang berbicara dengan The Washington Post itu menolak memberikan secara rinci serangan udara yang gagal untuk menghabisi Shahlai. Namun seseorang mengatakan: "Jika kami (berhasil) membunuhnya, kami akan membual tentang hal itu pada malam yang sama," seperti dikutip dari Fox News, Sabtu (11/1/2020).
Menanggapi laporan itu, Pentagon membenarkan adanya serangan udara di Yaman pada 2 Januari. Namun mereka menolak berkomentar terkait operasi pembunuhan tersebut
"Kami telah melihat laporan serangan udara 2 Januari di Yaman, yang telah lama diketahui sebagai tempat yang aman bagi teroris dan musuh lainnya bagi Amerika Serikat," kata juru bicara Pentagon, Rebecca Rebarich.
"Departemen Pertahanan tidak membahas dugaan operasi di wilayah tersebut," imbuhnya.
Bulan lalu, Departemen Luar Negeri AS menawarkan hadiah atau sekitar Rp210 miliar untuk informasi yang mengarah kepada Shahlai dan mengacaukan kegiatan keuangan IRGC. AS telah menuduh unit militer Iran itu membantu kelompok teroris seperti Hizbullah secara finansial dan terlibat dalam konflik dunia melalui penggunaan kekuatan proksi. (Baca: AS Tawarkan Hadiah Rp210 M untuk Informasi Pejabat IRGC di Yaman )
"Shahlai merencanakan berbagai pembunuhan pasukan koalisi di Irak, memberikan senjata dan bahan peledak kepada kelompok-kelompok ekstremis Syiah dan merencanakan serangan 20 Januari 2007 di Karbala, Irak, yang menewaskan lima tentara Amerika dan melukai tiga lainnya," kata Departemen Luar Negeri ketika mengumumkan hadiah.
Deplu AS menambahkan bahwa Shahlai mengarahkan rencana pembunuhan Duta Besar Arab Saudi yang gagal di Washington pada 2011 lalu dan merencanakan serangan-serangan lain di AS serta tempat lain.
Jenderal Qassem Soleimani tewas dalam sebuah serangan pesawat tanpa awak AS di Bandara Baghdad, Irak, pada 3 Januari lalu. Serangan yang diperintahkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump itu juga menewaskan pemimpin milisi Irak yang didukung Iran, Abu Mahdi al Muhandis.
Sebagai kepala pasukan elit Iran, Pasukan Quds, Soleimani telah memobilisasi milisi kuat di seluruh wilayah dan dipersalahkan atas serangan mematikan terhadap sejumlah kepentingan Amerika di Irak yang menginvasi negara itu pada 2003. Di Iran, ia dipandang oleh banyak orang sebagai pahlawan nasional yang memainkan peran kunci dalam mengalahkan kelompok Negara Islam (IS) dan menentang hegemoni Barat.
Seorang pejabat senior AS mengatakan pasukan operasi khusus AS gagal membunuh Abdul Reza Shahlai di Yaman. Shalai adalah seorang komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan pemodal yang menurut Departemen Luar Negeri AS adalah dalang upaya pembunuhan seorang Duta Besar Arab Saudi di AS pada 2011 lalu.
Pejabat AS yang berbicara dengan The Washington Post itu menolak memberikan secara rinci serangan udara yang gagal untuk menghabisi Shahlai. Namun seseorang mengatakan: "Jika kami (berhasil) membunuhnya, kami akan membual tentang hal itu pada malam yang sama," seperti dikutip dari Fox News, Sabtu (11/1/2020).
Menanggapi laporan itu, Pentagon membenarkan adanya serangan udara di Yaman pada 2 Januari. Namun mereka menolak berkomentar terkait operasi pembunuhan tersebut
"Kami telah melihat laporan serangan udara 2 Januari di Yaman, yang telah lama diketahui sebagai tempat yang aman bagi teroris dan musuh lainnya bagi Amerika Serikat," kata juru bicara Pentagon, Rebecca Rebarich.
"Departemen Pertahanan tidak membahas dugaan operasi di wilayah tersebut," imbuhnya.
Bulan lalu, Departemen Luar Negeri AS menawarkan hadiah atau sekitar Rp210 miliar untuk informasi yang mengarah kepada Shahlai dan mengacaukan kegiatan keuangan IRGC. AS telah menuduh unit militer Iran itu membantu kelompok teroris seperti Hizbullah secara finansial dan terlibat dalam konflik dunia melalui penggunaan kekuatan proksi. (Baca: AS Tawarkan Hadiah Rp210 M untuk Informasi Pejabat IRGC di Yaman )
"Shahlai merencanakan berbagai pembunuhan pasukan koalisi di Irak, memberikan senjata dan bahan peledak kepada kelompok-kelompok ekstremis Syiah dan merencanakan serangan 20 Januari 2007 di Karbala, Irak, yang menewaskan lima tentara Amerika dan melukai tiga lainnya," kata Departemen Luar Negeri ketika mengumumkan hadiah.
Deplu AS menambahkan bahwa Shahlai mengarahkan rencana pembunuhan Duta Besar Arab Saudi yang gagal di Washington pada 2011 lalu dan merencanakan serangan-serangan lain di AS serta tempat lain.
Jenderal Qassem Soleimani tewas dalam sebuah serangan pesawat tanpa awak AS di Bandara Baghdad, Irak, pada 3 Januari lalu. Serangan yang diperintahkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump itu juga menewaskan pemimpin milisi Irak yang didukung Iran, Abu Mahdi al Muhandis.
Sebagai kepala pasukan elit Iran, Pasukan Quds, Soleimani telah memobilisasi milisi kuat di seluruh wilayah dan dipersalahkan atas serangan mematikan terhadap sejumlah kepentingan Amerika di Irak yang menginvasi negara itu pada 2003. Di Iran, ia dipandang oleh banyak orang sebagai pahlawan nasional yang memainkan peran kunci dalam mengalahkan kelompok Negara Islam (IS) dan menentang hegemoni Barat.
(ian)