Penanganan Perubahan Iklim Kehilangan Arah

Selasa, 17 Desember 2019 - 11:34 WIB
Penanganan Perubahan...
Penanganan Perubahan Iklim Kehilangan Arah
A A A
MADRID - Konferensi perubahan iklim yang berakhir pada Minggu (15/12) lalu di Madrid berakhir dengan kesempatan kompromi. Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut itu sebagai kehilangan kesempatan untuk bertindak.

Itu juga menjadi konferensi iklim PBB paling lama yang tidak menghasilkan kesepakatan yang menggembirakan. Kesepakatan konferensi tersebut dipertanyakan karena tidak ada kejelasan respons global untuk mengurangi karbon. Semua negara hanya berjanji akan menempatkan penanganan perubahan iklim dalam konferensi mendatang di Glasgow tahun depan. Berbagai isu termasuk pasar karbon ditunda hingga konferensi mendatang.

Padahal, konferensi tersebut telah diperpanjang dua hari dan dua malam untuk negosiasi. Tapi, itu justru menghasilkan kesepakatan rencana pengurangi karbon justru akan dibahas di Glasgow, Skotlandia. Semua pihak diminta untuk membahas kesenjangan antara pendapat sains yang menyatakan perlunya menghindari bahaya perubahan iklim.

Uni Eropa dan negara kecil mendorong ambisi besar yang ditentang Amerika Serikat (AS), India, dan China. Kompromi itu disepakati negara kaya untuk menunjukkan mereka tetap menjadi komitmen terhadap penanganan perubahan iklim sebelum 2020. Konferensi di Glasgow akan menjadi tekanan berat bagi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

Sekjen PBB Antonio Guterres mengaku dirinya kecewa dengan kesepakatan tersebut. “Komunitas internasional kehilangan kesempatan untuk menunjukkan peningkatan ambisi terhadap mitigasi, adaptasi, dan keuangan untuk menangani krisis iklim,” katanya dilansir BBC. Namun demikian, Guterres mengungkapkan dia tidak akan menyerah. “Saya tidak akan menyerah,” ujarnya.

Setelah keputusan akhir konferensi Madrid dibuat, Menteri Lingkungan Carolina Schmidt mengatakan, dirinya penuh dengan emosi yang bercampur aduk. Hal senada diungkapkan, Helen Mountford, Waki Presiden World Resource Institute. “Perundingan ini merefleksikan bagaimana pemimpin negara tidak melihat pentingnya sains dan tuntutan warga di jalanan,”katanya. Dia menyerukan para pemimpin dunia agar tersadarkan pada 2020.

Uni Eropa (UE) memang berusaha memimpin inisiatif perubahan iklim di mana mereka telah mencapai kesepakatan di Brussels pada pekan lalu untuk mengurangi emisi karbon hingga nol pada 2050. “UE memang menjadi pemimpin. Kita ingin menjadi apa dan kita tidak akan menjadi seperti apa dengan apa yang kita lakukan,”ujar Menteri Lingkungan Finlandia Krista Mikkonen.

Sementara Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, menyalahkan negara-negara kaya atas kegagalan konferensi tersebut. “Saya menyangkan UE selalu menyalahkan Brasil padahal tidak mampu melakukan penghutanan kembali,” paparnya.

Kemudian, Direktur Eksekutif Yayasan Iklim Eropa, Laurence Tubiana, menyalahkan sejumlah negara besar tidak memperlihatkan niat mereka untuk menghambat perubahan iklim. (Andika H Mustaqim)
(nfl)
Berita Terkait
Kowani Hadiri Sidang...
Kowani Hadiri Sidang CSW ke-67 di Markas PBB
5 Syarat Menjadi Sekjen...
5 Syarat Menjadi Sekjen PBB, Salah Satunya Memiliki Jaringan dan Pergaulan Internasional
4 Tugas Berat Sekjen...
4 Tugas Berat Sekjen PBB, dari CEO hingga Penjaga Perdamaian
Siapa Saja Sekjen PBB...
Siapa Saja Sekjen PBB dari Masa ke Masa? 2 Orang Berasal dari Asia
Dinilai Sudah Tak Berfungsi,...
Dinilai Sudah Tak Berfungsi, Sekjen PBB Serukan Reformasi Lembaga Multilateral Dunia
Belum Bayar Iuran PBB,...
Belum Bayar Iuran PBB, Iran Terancam Kehilangan Hak Suara
Berita Terkini
6 Misi Pasukan Khusus...
6 Misi Pasukan Khusus yang Memicu Malapetaka, 2 Negara Adidaya Pernah Tumbang
27 menit yang lalu
Iran Lebih Suka Bombardir...
Iran Lebih Suka Bombardir Negara-negara Arab Dibandingkan Kapal Induk AS, Ini 5 Alasannya
1 jam yang lalu
4 Operasi Militer Berani...
4 Operasi Militer Berani yang Berakhir Bencana, dari Invasi Teluk Babi hingga Cakar Elang
3 jam yang lalu
Mediator Usulkan Gencatan...
Mediator Usulkan Gencatan Senjata 10 Hari untuk Hidupkan Lagi Kesepakatan AS-Iran
7 jam yang lalu
Seorang Tentara AS Tewas...
Seorang Tentara AS Tewas di Irak Saat Buang Amunisi Drone Iran yang Jatuh
8 jam yang lalu
AS Tak Dapat Lindungi...
AS Tak Dapat Lindungi 50.000 Pasukannya di Timur Tengah dari Persenjataan Iran yang Besar
9 jam yang lalu
Infografis
10 Miliarder Paling...
10 Miliarder Paling Boncos di 100 Hari Trump, Elon Musk Kehilangan Rp727 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved