Asap Beracun Masih Mengepung Kota Sydney

Rabu, 11 Desember 2019 - 07:15 WIB
Asap Beracun Masih Mengepung...
Asap Beracun Masih Mengepung Kota Sydney
A A A
SYDNEY - Kota terbesar di Australia, Sydney, dikepung asap beracun akibat kebakaran hutan dan lahan yang telah terjadi selama beberapa pekan. Asap pekat itu juga mengganggu aktivitas warga dan layanan feri di sekitar kota pelabuhan tersebut.

Citra satelit menunjukkan asap beracun sejauh 60 km di sekitar Sydney dan disekitarnya. Asap itu juga terbawa angin hingga 2.000 km hingga ke Selandia Baru. Sekitar lima juta penduduk Sydney sudah menghirup asap beracun itu selama dua pekan lebih. Mereka pun mengidam-idamkan langit yang cerah dan udara bersih.

“Periode asap telah berlangsung selama satu bulan terakhir. Kondisi ini sangat berisiko bagi kesehatan masyarakat,” kata Direktur Kesehatan Lingkungan New South Wales (NSW) Richard Broome, dilansir Reuters. Dia mengungkapkan, banyak orang mengalami sakit mata, iritiasi tenggorokan dan hitung. “Kondisi yang paling rawan adalah manula dan anak-anak,” ujarnya.

Indeks kualitas udara Sydney kemarin menunjukkan 11 kali lipat dibandingkan level bahaya. Itu dipucu kebakaran hutan yang mengakibatkan asap menyelimuti kota berpenduduk lima juita jiwa tersebut selama dua pekan terakhir. Asap itu mengubah langit Sydney berubah menjadi orange, pandangan mata memburuk, dan warga memilih menggunakan masker.

Warga Sydney menyebut asap beracun itu sebagai "kiamat". Mereka meluapkan kemarah di media sosial. "Asap pada Selasa (kemarin) terburuk dibandingkan beberapa hari lalu," ungkap para warga lokal di emdia sosial. Mereka juga menyatakan banyak debu yang jatuh dari langit akibat dampak kebakaran.

Pusat penitipan anak dan sekolah memilih aktivitas di dalam ruangan akibat asap yang tidak bersahabat. Otoritas New South Wales menyatakan polusi udara saat ini sangat lama dan menyebar ke mana-mana. "Kita mencatat polusi udara yang paling buruk," ungkap Pemerintah Negara Bagian New South Wales dilansir BBC.

Kebakaran hutan merupakan hal umum terjadi di Australia saat musim panas. Tetapi, kebakaran lahan pada bulan lalu merupakan insiden yang tidak diprediksi sebelumnya. Para pakar mengungkapkan, perubahan iklim menyebabkan cuaca menjadi semakin kering.

“Tidak ada perintah evakuasi bagi warga lokal yang terancam akibat kebakaran. Tapi, bagi warga yang rumahnya terancam terbakar diminta mengevakuasi diri,” kata Wali Kota Hawkesbury Barry Calvert. “Banyak orang yang memutuskan mengungsi. Saya pun melakukan hal yang sama,” papar Calvert yang tinggal di pinggiran Sydney.

Calvert mengungkapkan, dia dan keluarganya telah tinggal di Hawkesbury selama 20 tahun dan tidak pernah mengalami kebakaran lahan. Tapi, dia melihat rumahnya terancam kebakaran karena lahan di sekitarnya sudah dilalap api. “Saya memutuskan untuk mengungsi lebih dini karena khawatir kebakaran lahan akan kembali terjadi,” ujarnya.

Setidaknya terjadi 100 titik kebakaran lahan di New South Wales, Victoria, dan Queensland sejak November lalu. Kebakaran tersebut telah menewaskan sedikitnya lima orang dan merusak lebih dari 680 hektare. Sebanyak dua juta hektar lahan telah terbakar.

Banyak acara di luar ruangan yang dibatalkan, termasuk lomba yacht Sydney ke Hobart. Layanan kapal feri juga dibatalkan karena asap yang terlalu tebal sehingga mengganggu jarak pandang. Uniknya, asap tebal di Sydney menyebabkan banyak alarm kebakaran di gedung dan perkantoran berbunyi.

Pemerintah konservatif Australia menolak mengaitkan fenomena perubahan iklim dengan kebakaran hutan yang terjadi. "Pikiran saya hanya tertuju bagi mereka yang wafat dan kehilangan keluarga mereka," ujar Perdana Menteri Australia, Scott Morrison.Pemerintah mengonfirmasi bahwa tahun 2018 dan 2017 masing-masing merupakan tahun terpanas ketiga dan keempat yang pernah terekam dalam sejarah.

Laporan Biro Iklim tahun 2018 menyatakan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan kejadian panas ekstrem dam peningkatan tingkat keparahan bencana alam lainnya, termasuk kekeringan. Bahkan jika temperatur global terjaga hanya naik dua derajat Celcius di atas level era pra industri batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris, yang disepakati oleh 188 negara pada tahun 2015 - para ilmuwan yakin bahwa Australia menghadapi kondisi normal baru yang berbahaya. Tahun lalu, PBB melaporkan bahwa Australia gagal dalam upayanya mengurangi emisi gas karbon dioksida (CO2). (Andika H Mustaqim)
(nfl)
Berita Terkait
Anthony Albanese, Tokoh...
Anthony Albanese, Tokoh Kelas Pekerja yang Jadi PM Australia Terpilih
Mertens dan Sabalenka...
Mertens dan Sabalenka Juarai Ganda Putri Australia Open 2021
Kunjungan Danielle Wood...
Kunjungan Danielle Wood Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia–Australia
Cendekiawan Muda RI...
Cendekiawan Muda RI di Australia Sumbang Ide Wujudkan Indonesia 4.0
Banjir Besar Landa Sydney,...
Banjir Besar Landa Sydney, Ribuan Orang Diminta Mengungsi
Australia Menyadari...
Australia Menyadari Konsumen China Tak Tergantikan Usai 30 Bulan Konflik
Berita Terkini
Mossad Pasok Milisi...
Mossad Pasok Milisi Kurdi dengan Senjata yang Disita dari Hamas dan Hizbullah
5 jam yang lalu
Hamas Tak akan Serahkan...
Hamas Tak akan Serahkan Persenjataan, tapi Hanya Polisi yang Bawa Senjata di Gaza
6 jam yang lalu
Drone Terjang Galilea...
Drone Terjang Galilea Barat Beberapa Menit setelah Netanyahu Pergi
7 jam yang lalu
Iran Sebut Pangkalan...
Iran Sebut Pangkalan AS Target Sah dan Sumber Kekacauan Timur Tengah
8 jam yang lalu
Mayoritas Penduduk di...
Mayoritas Penduduk di 36 Negara Anggap Israel Tidak Baik
9 jam yang lalu
Iran Berupaya Pungut...
Iran Berupaya Pungut Biaya Layanan, Bukan Tol untuk Lintasi Selat Hormuz
10 jam yang lalu
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved