Pertahankan Eksistensi, NATO Minta Petuah Orang Bijak

Senin, 02 Desember 2019 - 06:05 WIB
Pertahankan Eksistensi,...
Pertahankan Eksistensi, NATO Minta Petuah Orang Bijak
A A A
BRUSSELS - NATO diperkirakan akan meminta sekelompok "orang bijak" untuk membantu mereformasi aliansi tersebut. Hal ini dilakukan setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mempertanyakan relevansi NATO dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan NATO sedang sekarat.

Sekutu-sekutu Washington di Eropa dan Kanada tidak yakin apa yang diharapkan dari Trump, setelah ia mengkritik Jerman di pertemuan puncak NATO pada Juli 2018 dan mempertimbangkan untuk mundur dari aliansi itu, sebelum akhirnya memujinya dan menerima pujian atas reformasi yang dijanjikan.

Sejak itu, Macron juga melampiaskan kekesalannya atas apa yang dikatakan para diplomat Prancis adalah kurangnya koordinasi NATO di tingkat politik dan kegagalan untuk menangani masalah-masalah tabu.

Sejumlah pejabat NATO mengatakan, untuk mengatasi kekhawatiran tentang masa depan alinasi, dalam pertemuan puncak pekan depan di London, Inggris, NATO mungkin akan mengadopsi proposal Perancis-Jerman untuk membuat tim yang berisikan tokoh yang dihormati, yang akan bekerja di bahwa Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg.

"Kami berusaha menyalurkan kejutan yang dihasilkan (oleh komentar Macron) untuk menyusun debat politik," kata seorang diplomat senior Prancis yang terlibat dalam diskusi mengenai pembentukan tim tersebit, seperti dilansir Japan Today.

"Tujuannya adalah untuk mengamankan "aliansi transatlantik yang seimbang," kata diplomat itu, dengan kemudian mengatakan bahwa Eropa menyadari bahwa Washington membawa beban yang terlalu besar.

"Kelompok itu mungkin kecil, dengan campuran negarawan tua dan lainnya yang dapat mengusulkan ide-ide yang lebih radikal," ungkap diplomat tersebut.

NATO adalah organisasi yang dibentuk pada tahun 1949 untuk menghadapi ancaman Uni Soviet. Tetapi, aliansi itu menemukan tujuan baru setelah Rusia mencaplok Crimea pada tahun 2014.

Aliansi yang berbasis di Brussel itu sendiri sekarang berada di bawah tekanan untuk membantu menyelesaikan beberapa krisis paling sulit di dunia dan Washington telah mendorongnya untuk mempertimbangkan posisinya terhadap China, kekuatan militer yang sedang tumbuh.
(esn)
Berita Terkait
Erdogan: Sanksi Amerika...
Erdogan: Sanksi Amerika Serikat Tidak Menghormati Turki
Menlu Italia: Uni Eropa...
Menlu Italia: Uni Eropa Didominasi Amerika Serikat
Mengapa Eropa Khawatir...
Mengapa Eropa Khawatir AS Akan Mundur dari Konflik Ukraina?
Masa Depan NATO Tak...
Masa Depan NATO Tak Jelas, Eropa Akan Kehilangan Dukungan Militer AS
Uni Eropa Bahas Ekspor...
Uni Eropa Bahas Ekspor Senjata ke Turki dengan NATO dan AS
80.000 Demonstran Banjiri...
80.000 Demonstran Banjiri Jantung Uni Eropa, Teriak Setop NATO
Berita Terkini
Houthi Ancam Saudi,...
Houthi Ancam Saudi, Riyadh Janji Beri Respons Keras!
39 menit yang lalu
Siapa Charles Q. Brown...
Siapa Charles Q. Brown Jr? Jenderal AS yang Dipecat Trump Kritik Pemanfaatan Militer untuk Misi Politik
1 jam yang lalu
5 Alasan Pemakaman Ayatollah...
5 Alasan Pemakaman Ayatollah Khamenei Ditunda 4 Bulan, Memperkuat Persatuan dan Revolusioner Iran
2 jam yang lalu
Lebih dari 5.000 Sekolah...
Lebih dari 5.000 Sekolah Buka Pintu bagi Para Peziarah Pemakaman Khamenei
3 jam yang lalu
Serangan Balasan Rusia...
Serangan Balasan Rusia ke Ukraina Sangat Mematikan, Ini 4 Alasannya
3 jam yang lalu
Militer Israel Akhiri...
Militer Israel Akhiri Misi Brigade Givati di Lebanon Selatan setelah 8 Bulan
5 jam yang lalu
Infografis
Ancaman Perang Kian...
Ancaman Perang Kian Nyata, 8 Negara Minta Warganya Tinggalkan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved