Khamenei Tuding AS dan Negara Arab Sulut Kerusuhan di Irak dan Lebanon
Kamis, 31 Oktober 2019 - 05:12 WIB
Khamenei Tuding AS dan Negara Arab Sulut Kerusuhan di Irak dan Lebanon
A
A
A
TEHERAN - Aksi protes massa di Irak dan Lebanon menyita perhatian pemimpin spiritual tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Ia pun menyalahkan musuh bebuyutan Iran, Amerika Serikat (AS), dan negara Arab atas kondisi di dua negara itu.
Khamenei mendesak rakyat Irak dan Lebanon untuk mempertahankan stabilitas di negara mereka di tengah kerusuhan massa. Ia mengklaim bahwa protes tersebut diinspirasi oleh Washington dan negara-negara Arab seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (31/10/2019).
Protes kekerasan di Irak yang meletus dalam beberapa bulan terakhir telah menyebabkan jaringan sosial dilarang, serta pemberlakukan jam malam di beberapa kota. Beberapa pos pemeriksaan di perbatasan dengan Iran juga telah ditutup karena kerusuhan.
Aksi unjuk rasa itu menentang layanan publik yang memburuk dan korupsi, mendesak pemerintah untuk mengundurkan diri. Protes massa di Irak ini menyebabkan bentrokan dramatis yang merenggut nyawa sekitar 250 orang.
Sementara demonstrasi di Lebanon dipicu oleh pengumuman kenaikan pajak atas tembakau dan internet. Namun aksi ituterus berlanjut bahkan setelah pemerintah membatalkan rencana ini. Sementara sebagian besar aksi protes tidak mengakibatkan bentrokan dengan polisi, mereka telah menyebabkan penyumbatan jalan besar di seluruh negeri.
Akibatnya, Perdana Menteri Hariri mengumumkan bahwa ia akan mundur dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa. (Baca juga: Perdana Menteri Lebanon Mengundurkan Diri )
Khamenei mendesak rakyat Irak dan Lebanon untuk mempertahankan stabilitas di negara mereka di tengah kerusuhan massa. Ia mengklaim bahwa protes tersebut diinspirasi oleh Washington dan negara-negara Arab seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (31/10/2019).
Protes kekerasan di Irak yang meletus dalam beberapa bulan terakhir telah menyebabkan jaringan sosial dilarang, serta pemberlakukan jam malam di beberapa kota. Beberapa pos pemeriksaan di perbatasan dengan Iran juga telah ditutup karena kerusuhan.
Aksi unjuk rasa itu menentang layanan publik yang memburuk dan korupsi, mendesak pemerintah untuk mengundurkan diri. Protes massa di Irak ini menyebabkan bentrokan dramatis yang merenggut nyawa sekitar 250 orang.
Sementara demonstrasi di Lebanon dipicu oleh pengumuman kenaikan pajak atas tembakau dan internet. Namun aksi ituterus berlanjut bahkan setelah pemerintah membatalkan rencana ini. Sementara sebagian besar aksi protes tidak mengakibatkan bentrokan dengan polisi, mereka telah menyebabkan penyumbatan jalan besar di seluruh negeri.
Akibatnya, Perdana Menteri Hariri mengumumkan bahwa ia akan mundur dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa. (Baca juga: Perdana Menteri Lebanon Mengundurkan Diri )
(ian)