Minta Suaka ke Filipina, Ratu Kecantikan Iran: Mereka Akan Membunuhku
Rabu, 23 Oktober 2019 - 11:11 WIB
Minta Suaka ke Filipina, Ratu Kecantikan Iran: Mereka Akan Membunuhku
A
A
A
MANILA - Seorang ratu kecantikan Iran meminta suaka kepada Filipina saat ia berjuang menolak ekstradisi ke negara asalnya. Ia takut akan dieksekusi jika kembali ke negara asalnya.
Bahareh Zare Bahari mengikuti kompetisi Miss Intercontinental 2018 di Manila dan seorang mahasiswa kedokteran gigi di Filipina sejak 2014. Ia telah ditahan selama enam hari di bandara Ninoy Aquino Filipina setelah Iran mengeluarkan red notice Interpol untuknya atas tuduhan penyerangan.
Bahari terkurung di area transit Terminal 3 bandara Ninoy Aquino Filipina menunggu nasibnya. "Tidak ada pembaruan, tidak ada informasi tentang alasan mengapa (mereka) menahan saya di sini begitu lama," ujarnya seperti dilansir dari media berbasis di Inggris tersebut, Rabu (23/10/2019).
Kepada Telegraph, ia mengatakan apa dituduhkan kepadanya adalah sebuah kebohongan besar. Ia meyakini dirinya menjadi sasaran akibat aktifitas politiknya dan dukungannya terhadap hak-hak perempuan.
Dia percaya pernyataan politiknya di kontes itu - melambai-lambaikan poster Reza Pahlavi, mantan putra mahkota yang diasingkan, dan salah satu pengkritik terkenal pemerintah Islam Iran - menjadikan dia musuh di Teheran.
Nama Pahlavi telah diserukan oleh beberapa kelompok Iran yang menyerukan kembalinya monarki untuk menangani korupsi dan kondisi ekonomi yang buruk.
"Saya menggunakan fotonya di atas panggung untuk menjadi suara rakyat saya karena semua berita dan media mengabaikan orang-orang saya," katanya.
"Mereka akan membunuhku," katanya menanggapi kemungkinan dirinya di deportasi ke Iran.
Situasi yang menimpa Bahari membuat Wakil Menteri di Departemen Kehakiman Filipina, Markk Perete, angkat bicara.
“Satu-satunya alasan dia ditahan di bandara - dan kami benar-benar tidak menyebutnya penahanan - yaitu benar-benar membatasinya untuk memasuki wilayah Filipina, hanya karena itu red notice dikeluarkan untuknya," ujarnya.
"Permintaan itu telah dibuat mungkin karena ada kasus kriminal yang sedang menjeratnya di Iran, dan kasus ini diajukan oleh seorang warga negara Iran terhadapnya sehubungan dengan serangan terjadi mungkin di sini di Filipina," sambungnya.
Namun, Perete mengatakan bahwa Filipina tidak mengetahui tuduhan tersebut dan tuduhan sebelumnya atas penipuan komersial terhadapnya telah ditolak.
Ia pun membenarkan tidak ada kasus pidana yang tertunda terhadap Bahari. "Kami tidak memiliki alasan untuk menolaknya masuh karena melanggar hukum kami," terangnya.
Permohonan suaka Bahari sekarang tengah dipertimbangkan oleh Departemen Kehakiman Filipina dengan bantuan seorang pengacara.
Sementara itu Human Rights Watch (HRW) menyerukan menyerukan peradilan adil dan tidak memihak di Manila.
"Sangatlah penting Filipina memberikan Bahareh Zare Bahari dukungan, termasuk akses ke penasihat hukum, untuk menyusun dan mengajukan permohonan suaka," kata Wakil Direktur HRW Asia, Phil Robertson.
"Sambil menunggu perinciannya menjadi jelas, seharusnya tidak ada tindakan di bawah red notice Interpol Iran, terutama karena di bawah aturan Interpol red notice batal dan tidak berlaku jika orang yang disebutkan dalam pemberitahuan itu ternyata adalah seorang pengungsi yang melarikan diri dari negara yang menerbitkan red notice," terangnya.
Bahareh Zare Bahari mengikuti kompetisi Miss Intercontinental 2018 di Manila dan seorang mahasiswa kedokteran gigi di Filipina sejak 2014. Ia telah ditahan selama enam hari di bandara Ninoy Aquino Filipina setelah Iran mengeluarkan red notice Interpol untuknya atas tuduhan penyerangan.
Bahari terkurung di area transit Terminal 3 bandara Ninoy Aquino Filipina menunggu nasibnya. "Tidak ada pembaruan, tidak ada informasi tentang alasan mengapa (mereka) menahan saya di sini begitu lama," ujarnya seperti dilansir dari media berbasis di Inggris tersebut, Rabu (23/10/2019).
Kepada Telegraph, ia mengatakan apa dituduhkan kepadanya adalah sebuah kebohongan besar. Ia meyakini dirinya menjadi sasaran akibat aktifitas politiknya dan dukungannya terhadap hak-hak perempuan.
Dia percaya pernyataan politiknya di kontes itu - melambai-lambaikan poster Reza Pahlavi, mantan putra mahkota yang diasingkan, dan salah satu pengkritik terkenal pemerintah Islam Iran - menjadikan dia musuh di Teheran.
Nama Pahlavi telah diserukan oleh beberapa kelompok Iran yang menyerukan kembalinya monarki untuk menangani korupsi dan kondisi ekonomi yang buruk.
"Saya menggunakan fotonya di atas panggung untuk menjadi suara rakyat saya karena semua berita dan media mengabaikan orang-orang saya," katanya.
"Mereka akan membunuhku," katanya menanggapi kemungkinan dirinya di deportasi ke Iran.
Situasi yang menimpa Bahari membuat Wakil Menteri di Departemen Kehakiman Filipina, Markk Perete, angkat bicara.
“Satu-satunya alasan dia ditahan di bandara - dan kami benar-benar tidak menyebutnya penahanan - yaitu benar-benar membatasinya untuk memasuki wilayah Filipina, hanya karena itu red notice dikeluarkan untuknya," ujarnya.
"Permintaan itu telah dibuat mungkin karena ada kasus kriminal yang sedang menjeratnya di Iran, dan kasus ini diajukan oleh seorang warga negara Iran terhadapnya sehubungan dengan serangan terjadi mungkin di sini di Filipina," sambungnya.
Namun, Perete mengatakan bahwa Filipina tidak mengetahui tuduhan tersebut dan tuduhan sebelumnya atas penipuan komersial terhadapnya telah ditolak.
Ia pun membenarkan tidak ada kasus pidana yang tertunda terhadap Bahari. "Kami tidak memiliki alasan untuk menolaknya masuh karena melanggar hukum kami," terangnya.
Permohonan suaka Bahari sekarang tengah dipertimbangkan oleh Departemen Kehakiman Filipina dengan bantuan seorang pengacara.
Sementara itu Human Rights Watch (HRW) menyerukan menyerukan peradilan adil dan tidak memihak di Manila.
"Sangatlah penting Filipina memberikan Bahareh Zare Bahari dukungan, termasuk akses ke penasihat hukum, untuk menyusun dan mengajukan permohonan suaka," kata Wakil Direktur HRW Asia, Phil Robertson.
"Sambil menunggu perinciannya menjadi jelas, seharusnya tidak ada tindakan di bawah red notice Interpol Iran, terutama karena di bawah aturan Interpol red notice batal dan tidak berlaku jika orang yang disebutkan dalam pemberitahuan itu ternyata adalah seorang pengungsi yang melarikan diri dari negara yang menerbitkan red notice," terangnya.
(ian)