Jadi Korban Peradilan Sesat, Pria Australia Dapat Kompensasi Rp66 M

Selasa, 15 Oktober 2019 - 15:26 WIB
Jadi Korban Peradilan...
Jadi Korban Peradilan Sesat, Pria Australia Dapat Kompensasi Rp66 M
A A A
CANBERRA - Seorang pria Australia yang menjadi korban peradilan sesat dan dipenjara selama 19 tahun mendapatkan kompensasi senilai Rp66 miliar.

David Eastman divonis hukumam seumur hidup pada 1995. Ia dinyatakan bersalah atas pembunuhan terhadap asisten komisioner Polisi Federal Australia, Colin Winchester, enam tahun sebelumnya.

Dia kemudian dibebaskan setelah pengadilan memutuskan bahwa dia menjadi korban peradilan sesat. Ia dibebaskan dalam sidang kedua pada tahun lalu.

Pembunuhan terhadap Winchester sendiri masih belum terpecahkan. Pembunuhan ini mengguncang hukum dan politik Australia serta memicu salah satu investigasi kriminal terbesar negara itu.

Eastman (74) sebelumnya telah menolak tawaran kompensasi dari pemerintah Wilayah Ibu Kota Australia (ACT).

Dalam persidangan sebelumnya, Mahkamah Agung ACT mendengar bahwa Eastman kehilangan kesempatan untuk memiliki keluarga dan karier karena dipenjara. Ibu dan dua adik lelakinya juga telah meninggal pada saat itu.

"Dia telah kehilangan sebagian besar hidupnya," kata pengacaranya, Sam Tierney, di luar Mahkamah Agung ACT, seperti dikutip dari BBC, Selasa (15/10/2019).

Winchester ditembak dua kali di kepala di luar rumah keluarganya di Canberra, ibu kota Australia. Dia menjadi perwira polisi paling senior yang pernah dibunuh di Australia.

Eastman, yang saat itu adalah pegawai negeri, diidentifikasi sejak awal sebagai tersangka karena ia diduga mengirim ancaman kepada polisi atas penanganan masalah pidana sebelumnya.

Setelah dipenjara, Eastman menghabiskan 19 tahun untuk memperjuangkan hukumannya - meluncurkan permohonan banding pada tahun 1999, 2000, 2001, 2005 dan 2008, yang semuanya gagal.

Tetapi ia berhasil dinyatakan akan dibebaskan pada tahun 2014 setelah penyelidikan pengadilan memutuskan bahwa ia telah mengalami "miscarriage of justice yang substansial" karena kesalahan pembuktian polisi yang digunakan dalam persidangannya.

Persidangan kedua yang diadakan tahun lalu, yang melibatkan lebih dari 100 saksi, membuat Eastman dibebaskan. Dia pun mengajukan klaim kompensasinya tak lama setelah itu.
(ian)
Berita Terkait
Anthony Albanese, Tokoh...
Anthony Albanese, Tokoh Kelas Pekerja yang Jadi PM Australia Terpilih
Mertens dan Sabalenka...
Mertens dan Sabalenka Juarai Ganda Putri Australia Open 2021
Kunjungan Danielle Wood...
Kunjungan Danielle Wood Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia–Australia
Cendekiawan Muda RI...
Cendekiawan Muda RI di Australia Sumbang Ide Wujudkan Indonesia 4.0
Banjir Besar Landa Sydney,...
Banjir Besar Landa Sydney, Ribuan Orang Diminta Mengungsi
Kemampuan Rudal China...
Kemampuan Rudal China Melesat, Negara Tetangga Indonesia Ini Tingkatkan Pertahanan Misil
Berita Terkini
Biksu Buddha di China...
Biksu Buddha di China Dilaporkan Ditahan usai Peringati Peristiwa Tiananmen
21 menit yang lalu
Trump Akui AS Balas...
Trump Akui AS Balas Penembakan Helikopter oleh Iran, Meski Awalnya Meremehkan
54 menit yang lalu
AS Serang Iran, Balas...
AS Serang Iran, Balas Jatuhnya Helikopter AH-64 Apache Dekat Selat Hormuz
1 jam yang lalu
9 Negara yang Memiliki...
9 Negara yang Memiliki Anggaran Terbesar Mengembangkan Bom Nuklir
3 jam yang lalu
Senapan Pasukan Khusus...
Senapan Pasukan Khusus AS Bukan Hanya Sekadar Senjata, Ini 3 Keunggulannya
6 jam yang lalu
Mungkinkah Turki Serius...
Mungkinkah Turki Serius Hidupkan Kembali Kekuasaan Kekaisaran Ottoman untuk Membebaskan Yerusalem?
7 jam yang lalu
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved