Maksud BJ Habibie Juluki Singapura 'Red Dot' yang Jadi Sejarah

loading...
Maksud BJ Habibie Juluki Singapura Red Dot yang Jadi Sejarah
Maksud BJ Habibie Juluki Singapura 'Red Dot' yang Jadi Sejarah
A+ A-
JAKARTA - Mantan Presiden Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie wafat di usia 83 tahun pada hari Rabu (11/9/2019). Publik Singapura mengenang sang pembuat pesawat terbang yang genius ini lantaran menjuluki negara kecil itu dengan sebutan "red dot" atau "titik merah".

Awalnya, publik Singapura marah karena salah memahami julukan tersebut. Mereka mengira julukan seperti itu seperti kritikan negatif terhadap negara. Habibie saat itu membantah anggapan tersebut dan menjelaskan maksud dari komentarnya.

Dari yang awalnya marah, julukan itu justru diadopsi para politisi Singapura dan warga pada umumnya sebagai kebanggaan. Julukan "red dot" itu sebenarnya istilah ini untuk menunjukkan keberhasilan bangsa meskipun ada keterbatasan, yakni wilayah Singapura yang sangat kecil. (Baca: Mengenang Habibie: Pembuat Pesawat Jerman, Pernah Sebut Singapura 'Titik Merah')

Komentar insinyur genius berpendidikan di Indonesia, Belanda dan Jerman itu dibuat pada tahun 1998. Publik Singapura sampai sekarang masih mengenang julukan tersebut. Media-media di negara tetangga itu juga mengulas julukan "red dot" dari mantan pemimpin yang terkenal saleh tersebut.





"Ini OK dengan saya, tetapi ada 211 juta orang (di Indonesia). Semua (area) hijau adalah Indonesia. Dan titik merah itu adalah Singapura," kata Habibie kala itu yang menjadi komentar bersejarah di Singapura, seperti dikutip dari The Independent Singapore, Kamis (12/9/2019).

Putra Habibie, Thareq Kemal Habibie, mengatakan presiden ketiga Indonesia itu wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di Jakarta, tempat ia menjalani perawatan untuk masalah jantung sejak 1 September.

Di era penerus Presiden Soeharto ini, Indonesia mengalami reformasi demokratis. Pemerintahannya juga mengizinkan referendum kemerdekaan untuk Timor Timur atau Timor Leste.

Masa kepresidenannya tercatat yang terpendek dalam sejarah Indonesia modern, tetapi transformatif.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top