Dukung Gerakan Lingkungan, Tren Malu Naik Pesawat Meluas di Eropa
Kamis, 05 September 2019 - 08:47 WIB
Dukung Gerakan Lingkungan, Tren Malu Naik Pesawat Meluas di Eropa
A
A
A
CHICAGO - Pada musim panas ini, berbagai maskapai Amerika Serikat (AS) menikmati peningkatan permintaan penerbangan.
Peningkatan itu menunjukkan industri penerbangan di AS belum terpengaruh dengan gerakan “malu terbang” yang diawali di Swedia dan telah meluas di Eropa. Gerakan ini dipelopori para pelancong yang sadar lingkungan yang lebih memilih naik kereta dibandingkan naik pesawat.
Namun lobi global Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengakui tantangan lingkungan menjadi ancaman terbesar bagi industri penerbangan di Eropa. “Ini bisa meluas ke wilayah lain di dunia, terutama Amerika Utara. Jika Anda yakin atau berpikir bahwa masalah lingkungan adalah kekhawatiran dunia yang menyentuh semua orang di planet, maka tak ada alasan meyakini bahwa pemuda lainnya tidak akan bereaksi,” ungkap Kepala IATA Alexandre de Juniac, dilansir Reuters.
Alexandre de Juniac mengakui bahwa kurangnya alternatif layanan kereta di AS menjadi penghalang besar untuk gerakan “malu terbang” di AS. Namun saat ini ada rencana seperti Green New Deal, termasuk investasi untuk jaringan kereta cepat.
“Gerakan lingkungan ini akan menyebar di AS dan kemudian ke negara-negara maju di Asia seperti Korea Selatan (Korsel) dan Jepang,” papar De Juniac memprediksi perkembangan gerakan sadar lingkungan tersebut.
Menurut De Juniac, menguatnya sentimen anti-penerbangan itu pun membuat banyak pemerintah di dunia menerapkan pajak lebih tinggi pada industri penerbangan.
Pada Juli, Prancis mengumumkan pajak untuk maskapai yang terbang dari bandaranya demi mendukung lingkungan. Kebijakan ini menurut Air France telah merusak daya saing maskapai itu dan menambah lebih dari 60 juta euro biaya tambahan per tahun.
Penerbangan komersial mencakup sekitar 2,5% emisi karbon global saat ini tapi tanpa langkah kongkrit untuk menghindari masalah itu. Jumlah emisi itu pun dapat meningkat saat perjalanan udara global semakin bertambah.
Industri penerbangan telah memangkas emisi karbon dari tiap penerbangan pesawat hingga setengah sejak 1990, terutama berkat hadirnya pesawat hemat bahan bakar. Selain itu ada rencana memangkas emisi bersih pada 2050 dan mencapai pertumbuhan netral karbon mulai 2020.
Tantangan sekarang, menurut De Juniac adalah pada penegakan berbagai target itu dan memenangkan sentimen publik bahwa industri penerbangan telah melakukan langkah yang tepat.
Para aktivis yang mendorong perjalanan nol-karbon semakin bersemangat dan efektif. Pada Agustus, remaja Swedia sekaligus aktivis iklim Greta Thunberg melintasi Atlantik menggunakan kapal yacht demi menghindari perjalanan dengan pesawat untuk mengikuti konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Greta Thunberg tiba di New York Harbor setelah berlayar dengan kapal tanpa emisi karbon selama 14 hari. Pelayaran itu dilakukan Greta dari Plymouth, Inggris, sejak 14 Agustus.
Aksi Thunberg itu semakin menguatkan sentimen menghindari terbang dengan pesawat demi mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global. (Syarifudin)
Peningkatan itu menunjukkan industri penerbangan di AS belum terpengaruh dengan gerakan “malu terbang” yang diawali di Swedia dan telah meluas di Eropa. Gerakan ini dipelopori para pelancong yang sadar lingkungan yang lebih memilih naik kereta dibandingkan naik pesawat.
Namun lobi global Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengakui tantangan lingkungan menjadi ancaman terbesar bagi industri penerbangan di Eropa. “Ini bisa meluas ke wilayah lain di dunia, terutama Amerika Utara. Jika Anda yakin atau berpikir bahwa masalah lingkungan adalah kekhawatiran dunia yang menyentuh semua orang di planet, maka tak ada alasan meyakini bahwa pemuda lainnya tidak akan bereaksi,” ungkap Kepala IATA Alexandre de Juniac, dilansir Reuters.
Alexandre de Juniac mengakui bahwa kurangnya alternatif layanan kereta di AS menjadi penghalang besar untuk gerakan “malu terbang” di AS. Namun saat ini ada rencana seperti Green New Deal, termasuk investasi untuk jaringan kereta cepat.
“Gerakan lingkungan ini akan menyebar di AS dan kemudian ke negara-negara maju di Asia seperti Korea Selatan (Korsel) dan Jepang,” papar De Juniac memprediksi perkembangan gerakan sadar lingkungan tersebut.
Menurut De Juniac, menguatnya sentimen anti-penerbangan itu pun membuat banyak pemerintah di dunia menerapkan pajak lebih tinggi pada industri penerbangan.
Pada Juli, Prancis mengumumkan pajak untuk maskapai yang terbang dari bandaranya demi mendukung lingkungan. Kebijakan ini menurut Air France telah merusak daya saing maskapai itu dan menambah lebih dari 60 juta euro biaya tambahan per tahun.
Penerbangan komersial mencakup sekitar 2,5% emisi karbon global saat ini tapi tanpa langkah kongkrit untuk menghindari masalah itu. Jumlah emisi itu pun dapat meningkat saat perjalanan udara global semakin bertambah.
Industri penerbangan telah memangkas emisi karbon dari tiap penerbangan pesawat hingga setengah sejak 1990, terutama berkat hadirnya pesawat hemat bahan bakar. Selain itu ada rencana memangkas emisi bersih pada 2050 dan mencapai pertumbuhan netral karbon mulai 2020.
Tantangan sekarang, menurut De Juniac adalah pada penegakan berbagai target itu dan memenangkan sentimen publik bahwa industri penerbangan telah melakukan langkah yang tepat.
Para aktivis yang mendorong perjalanan nol-karbon semakin bersemangat dan efektif. Pada Agustus, remaja Swedia sekaligus aktivis iklim Greta Thunberg melintasi Atlantik menggunakan kapal yacht demi menghindari perjalanan dengan pesawat untuk mengikuti konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Greta Thunberg tiba di New York Harbor setelah berlayar dengan kapal tanpa emisi karbon selama 14 hari. Pelayaran itu dilakukan Greta dari Plymouth, Inggris, sejak 14 Agustus.
Aksi Thunberg itu semakin menguatkan sentimen menghindari terbang dengan pesawat demi mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global. (Syarifudin)
(nfl)