Insiden Nuklir Rusia Terkait dengan Senjata untuk Merespons AS
Selasa, 27 Agustus 2019 - 07:55 WIB
Insiden Nuklir Rusia Terkait dengan Senjata untuk Merespons AS
A
A
A
WINA - Insiden nuklir yang menewaskan lima ilmuwan atom Rusia pada 8 Agustus lalu terkait dengan pengembangan senjata sebagai respons terhadap keputusan Amerika Serikat (AS) yang menarik diri dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik (ABM Treaty) pada tahun 2002.
"Insiden nuklir yang terjadi tidak ada hubungannya dengan pengujian nuklir dan tidak berada di bawah lingkup Perjanjian Larangan Uji Nuklir Komprehensif (diadopsi oleh PBB pada tahun 1996)," kata Aleksey Karpov, wakil utusan permanen Rusia untuk organisasi internasional di Wina, pada hari Senin.
"Pengujian terkait dengan tindakan pembalasan sehubungan dengan penarikan AS secara sepihak dari perjanjian kontrol senjata 1972 untuk membatasi sistem rudal anti-balistik (Perjanjian ABM)," ujarnya, seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (27/8/2019).
Menurut badan nuklir Rusia, Rosatom, kecelakaan itu terjadi di atas platform laut di wilayah Arkhangelsk. Ledakan hebat terjadi ketika para ilmuwan sedang mengerjakan "sumber daya isotop" untuk mesin berbahan bakar cair.
Menurut Kementerian Darurat Rusia, tingkat radiasi di daerah sekitar berada pada tingkat alami dan normal. "Tidak ada laporan tentang bencana ekologis, seperti yang coba digambarkan oleh beberapa media," kata kementerian itu.
Laporan-laporan media Barat tentang gelombang lonjakan radiasi nuklir bermunculan setelah kecelakaan itu. Namun, otoritas setempat menegaskan bahwa tingkat radiasi berada dalam parameter normal dan tidak ada bahaya bagi keselamatan publik.
Video-video para ahli yang mengenakan jas hazmat untuk mengukur jarak helikopter yang menerbangkan para korban dari tempat kejadian telah memicu teori konspirasi tentang bencana nuklir.
"Insiden nuklir yang terjadi tidak ada hubungannya dengan pengujian nuklir dan tidak berada di bawah lingkup Perjanjian Larangan Uji Nuklir Komprehensif (diadopsi oleh PBB pada tahun 1996)," kata Aleksey Karpov, wakil utusan permanen Rusia untuk organisasi internasional di Wina, pada hari Senin.
"Pengujian terkait dengan tindakan pembalasan sehubungan dengan penarikan AS secara sepihak dari perjanjian kontrol senjata 1972 untuk membatasi sistem rudal anti-balistik (Perjanjian ABM)," ujarnya, seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (27/8/2019).
Menurut badan nuklir Rusia, Rosatom, kecelakaan itu terjadi di atas platform laut di wilayah Arkhangelsk. Ledakan hebat terjadi ketika para ilmuwan sedang mengerjakan "sumber daya isotop" untuk mesin berbahan bakar cair.
Menurut Kementerian Darurat Rusia, tingkat radiasi di daerah sekitar berada pada tingkat alami dan normal. "Tidak ada laporan tentang bencana ekologis, seperti yang coba digambarkan oleh beberapa media," kata kementerian itu.
Laporan-laporan media Barat tentang gelombang lonjakan radiasi nuklir bermunculan setelah kecelakaan itu. Namun, otoritas setempat menegaskan bahwa tingkat radiasi berada dalam parameter normal dan tidak ada bahaya bagi keselamatan publik.
Video-video para ahli yang mengenakan jas hazmat untuk mengukur jarak helikopter yang menerbangkan para korban dari tempat kejadian telah memicu teori konspirasi tentang bencana nuklir.
(mas)