Waswas Diinvasi China, Australia Didesak Kembangkan Senjata Nuklir

Sabtu, 10 Agustus 2019 - 05:35 WIB
Waswas Diinvasi China,...
Waswas Diinvasi China, Australia Didesak Kembangkan Senjata Nuklir
A A A
CANBERRA - Australia didesak untuk mengembangkan senjata nuklir sendiri atau mengambil risiko diinvasi China. Desakan ini muncul justru di saat mantan hakim pengadilan tinggi Michael Kirby menyarankan Canberra agar meneken perjanjian larangan senjata nuklir.

Desakan untuk membuat senjata nuklir itu disampaikan akademisi terkemuka, Hugh White. Dialah yang menulis Buku Putih Pertahanan Australia tahun 2000.

Menurut White, Canberra tidak akan bertahan tanpa memiliki senjata nuklir. Senjata semacam itu, lanjut dia, dibutuhkan Australia karena perilaku China di Laut China Selatan dan kurangnya dukungan militer dari Amerika Serikat (AS).

White merilis sebuah manifesto tentang apa yang perlu dilakukan negaranya untuk bertahan hidup di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Laut China Selatan dan sekitarnya.

Setelah menilai bahwa China merupakan ancaman terbesar bagi Australia—terutama tanpa dukungan keras Donald Trump—White mengklaim bahwa senjata konvensional negaranya tidak cukup untuk mencegah serangan asing.

Dia mengatakan Canberra tidak dapat lagi bergantung pada Washington untuk mempertahankan diri dari invasi apa pun, karena AS meninggalkan Australia untuk berjuang sendiri.

"Ini akan sangat berarti terutama dalam perang nuklir, di mana China bisa menggunakan ancaman serangan nuklir untuk memaksa kita menyerah dalam perang konvensional," tulis White.

"Satu-satunya cara untuk menghindarinya adalah dengan melawan ancaman nuklir China dengan ancaman nuklir kita sendiri," lanjut manifesto White, dikutip Express.co.uk, Jumat (9/8/2019).

"Ancaman China terhadap Canberra akan jauh kurang kredibel jika para pemimpinnya tahu kami memiliki kapasitas untuk membalas," lanjut White.

Meskipun tentara China meremehkan pasukan Australia dalam hal jumlah, White mengakui bahwa berbagai keuntungan geografis membuat Canberra dapat menahan serangan.

Namun, dia menekankan pentingnya senjata nuklir sebagai bentuk pencegahan serangan eksternal.
"Kita mungkin perlu kapasitas untuk melakukan serangan nuklir taktis untuk mencegah musuh menggunakan pasukan nuklir tingkat taktis terhadap pasukan konvensional kita," papar White.

"Mengandalkan kekuatan tingkat strategis untuk itu mungkin tidak berhasil karena musuh mungkin percaya kita akan terhambat untuk menggunakannya karena takut akan serangan balasan tingkat strategis."

White melanjutkan, banyak negara yang sebelumnya mengandalkan AS akan memiliki pemikiran kedua tentang keandalan pemerintah Trump. "Kami menolak senjata nuklir hampir 50 tahun yang lalu karena kami puas dipertahankan oleh Amerika," katanya.

"Sekarang kita menghadapi pertanyaan tentang senjata nuklir lagi karena kepercayaan kita pada Amerika telah merosot karena keadaan telah berubah," ujarnya.

“Tidak ada yang lebih benar daripada di Asia, terutama Asia Timur Laut, di mana Korea Selatan dan Jepang menghadapi keraguan yang sama seperti kita, tetapi jauh lebih akut," sambung White.

"Jika mereka memutuskan bahwa mereka harus menggunakan nuklir, maka kasus yang harus kita lakukan sama akan menjadi lebih menarik."

AS sendiri telah mengambil langkah-langkah untuk melawan ekspansi China di Laut China Selatan dengan mengusulkan penempatan rudal di seluruh Asia. Beijing sendiri menegaskan akan merespons tegas jika Amerika melakukan rencananya itu.

Perdana Menteri Scott Morrison telah menolak jika AS menempatkan rudal nuklir berbasis darat di Australia.

Sementara itu, anggota Parlemen Andrew Hastie menimbulkan kegemparan awal pekan ini ketika ia membandingkan kelambanan dunia Barat untuk memerangi China sama dengan gagalnya menahan Nazi Jerman. Argumen itu sama halnya menyamakan militer Beijing dengan Nazi.

"Seperti halnya orang Prancis, Australia telah gagal melihat bagaimana ponsel tetangga kita yang otoriter," katanya.

"Langkah kami selanjutnya dalam melindungi masa depan Australia adalah menerima dan beradaptasi dengan realitas perjuangan geopolitik di hadapan kami, asal-usulnya, gagasannya, dan implikasinya bagi kawasan Indo-Pasifik."

Komentar itu muncul hanya beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo mengobarkan ketegangan regional dengan mengatakan kepada Canberra untuk menentang Beijing.

"Anda bisa menjual jiwa Anda untuk setumpuk kacang kedelai, atau Anda bisa melindungi orang-orang Anda," kata Pompeo.
(mas)
Berita Terkait
China Kerahkan Pesawat...
China Kerahkan Pesawat Pengebom Nuklir H-6 ke Pulau Sengketa Laut China Selatan
Dukung AS, Australia...
Dukung AS, Australia Tolak Klaim China atas Laut China Selatan
China: Ikut Campur Laut...
China: Ikut Campur Laut China Selatan, Australia bak Naik Kapal Bocor AS
Usai Diusir China, Amerika...
Usai Diusir China, Amerika Kirim 2 Pembom Nuklir ke Laut China Selatan
AS Kerahkan 2 Pembom...
AS Kerahkan 2 Pembom Nuklir usai Kapal Perangnya Diusir China
Plutonium dari Tes Senjata...
Plutonium dari Tes Senjata Nuklir AS Cemari Laut China Selatan
Berita Terkini
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, Wapres Amerika Berbalik Kecam Israel
1 menit yang lalu
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
9 jam yang lalu
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
10 jam yang lalu
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
12 jam yang lalu
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
13 jam yang lalu
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
14 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved