Bos Intelijen Nasional AS Dan Coats Mengundurkan Diri

Senin, 29 Juli 2019 - 10:49 WIB
Bos Intelijen Nasional...
Bos Intelijen Nasional AS Dan Coats Mengundurkan Diri
A A A
WASHINGTON - Direktur Intelijen Nasional (DNI) Amerika Serikat, Dan Coats, mengundurkan diri. Bos mata-mata yang mengawasi 17 badan intelijen Amerika, termasuk CIA dan NSA, ini menjadi tokoh penting terbaru yang meninggalkan pemerintahan Donald Trump.

Coats secara resmi meninggalkan kantor Intelijen Nasional pada 15 Agustus 2019. Presiden Donald John Trump melalui Twitter mengumumkan pengunduran diri Coats.

Trump akan mencalonkan anggota Kongres asal Texas, John Ratcliffe, untuk menggantikan Coats sebagai DNI.

Menurut Trump, Ratcliffe akan memimpin dan menginspirasi kebesaran bagi negara yang dia cintai.

Sekadar diketahui, Coats dan Trump sering berselisih tentang Rusia dan Korea Utara. Sepanjang masa jabatannya, penilaian-penilaian Coats secara rutin dipertentangkan oleh Presiden Trump, presiden yang selama ini kritis terhadap badan-badan intelijen Amerika.

Pada bulan Januari presiden menyebut kepala intelijennya pasif dan naif dalam penilaian mereka terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh Iran.

Coats adalah yang tokoh terbaru dari serangkaian pejabat administrasi Trump yang meninggalkan Gedung Putih. Sebelumnya, James Norman Mattis mengundurkan diri sebagai Menteri Pertahanan dan Rex Tillerson mengundurkan diri sebagai Menteri Luar Negeri.

Mengapa Coats Resign?


Dalam surat pengunduran dirinya kepada presiden, Coats mengatakan komunitas intelijen Amerika telah menjadi lebih kuat dari sebelumnya selama dua setengah tahun masa jabatannya.

"Sebagai hasilnya, saya sekarang percaya sudah saatnya bagi saya untuk pindah ke bab berikutnya dalam hidup saya," tulis dia, seperti dikutip BBC, Senin (29/7/2019).

Coats mengatakan pada bulan Februari bahwa presiden telah memintanya untuk tetap di jabatan itu, namun perbedaan mereka pada kebijakan luar negeri kadang-kadang terlihat tidak dapat didamaikan.

Coats berulang kali bentrok dengan Donald Trump atas Iran, Korea Utara, dan Rusia. Secara khusus, mereka bentrok atas campur tangan Rusia dalam pemilu AS, perjanjian nuklir Iran dan upaya Trump untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara.

Mengutip mantan pejabat intelijen senior, Washington Post melaporkan bahwa pengunduran diri Coats sebagai hal yang tak terhindarkan karena hubungannya yang bermasalah dengan Trump.

Coats, lanjut mantan pejabat itu, merasa dipinggirkan oleh presiden tentang masalah keamanan nasional.

Tahun lalu, kepala intelijen tersebut mengakui bahwa Trump tidak memberi penjelasan singkat tentang pertemuannya yang tertutup dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Helsinki.

"Jika dia bertanya kepada saya bagaimana hal itu seharusnya dilakukan, saya akan menyarankan cara yang berbeda," kata Coats tentang pertemuan puncak Trump dan Putin.

Dia tertawa kaget ketika dia mendengar tentang rencana kunjungan Presiden Putin ke Gedung Putih. "Itu akan menjadi istimewa," ujarnya di sebuah acara publik yang ramai.

Pandangan Coats juga berbeda dengan pandangan Presiden Trump tentang Korea Utara. Pada bulan Januari, Coats mengatakan kepada Kongres bahwa Korea Utara tidak mungkin menyerahkan senjata nuklirnya. Penilaiannya itu bertentangan dengan pernyataan Trump bahwa Pyongyang tidak lagi menjadi ancaman.

Siapakah Dan Coats?


Coats adalah mantan diplomat. Dia telah menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional sejak Maret 2017 atau sejak ia menggantikan James Clapper.

Lahir di Jackson, Michigan, Coats lulus dari dua universitas dengan gelar dalam ilmu politik dan hukum pada 1960-an.

Dia pernah jadi senator untuk Indiana, dari 1989 hingga 1999 dan lagi dari 2011 hingga 2017.

Coats juga pernah menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Jerman dari tahun 2001 hingga 2005 di antara masa jabatannya di Senat.

Siapa Penggantinya?


Seorang pendukung utama presiden dan kebijakannya, Ratcliffe telah menjabat sebagai anggota Kongres untuk Distrik ke-4 Texas sejak 2015.

Trump mengatakan, Ratcliffe adalah anggota kongres yang sangat dihormati. "Yang akan memimpin dan menginspirasi kebesaran bagi negara," kata Trump.

Jika pencalonannya disetujui, pandangan Ratcliffe diharapkan berpadu dengan Trump. Rabu lalu, Ratcliffe membela presiden selama kesaksian mantan Jaksa Khusus AS Robert Mueller, yang memimpin penyelidikan selama dua tahun soal campur tangan Rusia dalam pemilu AS 2016.
(mas)
Berita Terkait
Intelijen AS Sudah Memperingatkan...
Intelijen AS Sudah Memperingatkan Trump tentang Rencana Pembunuhan yang Dilakukan Iran
Donald Trump Angkat...
Donald Trump Angkat Bicara Soal Kondisi Kim Jong-un
Trump: Rusia, China,...
Trump: Rusia, China, dan Korea Utara Berkonspirasi Melawan AS
Lima Mata akan Buta...
Lima Mata akan Buta Tanpa Dukungan Amerika Serikat
Ketika Trump Sebut Rusia,...
Ketika Trump Sebut Rusia, China, Korut Berkonspirasi Melawan AS
Jenderal Bos Intelijen...
Jenderal Bos Intelijen Pertahanan AS Dipecat karena Berani Melawan Trump
Berita Terkini
10 Negara Eropa Ini...
10 Negara Eropa Ini Bersatu Bangun Perisai Rudal Balistik, Apakah Efekif Hadapi Misil Rusia?
17 menit yang lalu
Deretan 25 Pemimpin...
Deretan 25 Pemimpin Dunia yang Sampaikan Belasungkawa atas Kematian Sheikh Hamad
1 jam yang lalu
Mantan PM Yordania Sebut...
Mantan PM Yordania Sebut Perang Iran dan AS Tak Ada Gunanya
2 jam yang lalu
Kirim Video ke Agen...
Kirim Video ke Agen Intelijen Iran, Tentara Israel Ini Dipenjara selama 5 Tahun
5 jam yang lalu
Juni Jadi Bulan Paling...
Juni Jadi Bulan Paling Mematikan bagi Ukraina sejak 2022, Apa Pemicunya?
6 jam yang lalu
Mantan Pasukan Khusus...
Mantan Pasukan Khusus AS Bawa Paspor China Ini Ditangkap di Perbatasan Nepal dan India, Siapa Jordan Brown?
7 jam yang lalu
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved