PBB Merilis Fakta, Israel Pembunuh Anak Terbesar di Dunia

Senin, 29 Juli 2019 - 07:21 WIB
PBB Merilis Fakta, Israel Pembunuh Anak Terbesar di Dunia
PBB Merilis Fakta, Israel Pembunuh Anak Terbesar di Dunia
A A A
YERUSALEM - Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres meminta Israel untuk menghentikan penggunaan kekerasan senjata terhadap anak-anak. Seruan itu bertepatan dengan pemberian label PBB terhadap Israel sebagai salah satu negara yang menjadi pembunuh anak terbesar di dunia.

Laporan PBB yang dirilis menunjukkan Israel telah membunuh lebih dari 56 anak Palestina pada 2018. Itu menjadi jumlah terbesar sejak perang Israel-Hamas di Jalur Gaza pada 2014. Dalam laporan Dewan Keamanan, Sekjen PBB Guterres mengungkapkan, pasukan Israel juga melukai hampir 2.700 anak-anak saat demonstrasi, bentrokan, dan operasi penangkapan.

Tak sebanding, hanya enam anak Israel terluka akibat insiden atas konflik tersebut. “Israel mesti secepatnya menempatkan langkah preventif dan protektif untuk mengakhiri penggunaan kekuatan yang berlebihan,” seru Guterres seperti dilansir Reuters. “Semua aktor di Palestina juga harus menahan diri agar tidak mendorong partisipasi anak-anak dalam aksi kekerasan,” ujarnya.

Laporan tersebut bertujuan untuk membuat malu pihak-pihak dalam konflik yang membunuh anak-anak. PBB pun berharap agar kelompok yang bertikai juga mengimplementasikan langkah-langkah untuk melindungi anak-anak. Misi Israel di PBB tidak memberikan komentar mengenai laporan tersebut. Khusus Palestina, tingginya jumlah korban anak-anak tewas di Palestina pada 2018 karena demonstrasi perbatasan di Jalur Gaza yang dimulai Maret 2018 dan masih berlangsung hingga saat ini.

Demonstrasi itu kerap memicu aksi penembakan dari tentara Israel. Sementara itu Israel menyatakan kelompok teror Hamas kerap menggunakan kekerasan untuk menutupi serangan terhadap tentara Israel. Setiap aksi demonstrasi yang dikendalikan Hamas kerap diwarnai aksi kerusuhan. Warga Palestina juga kerap menyabotase dan melintasi perbatasan Israel.

Para demonstran mengadopsi taktik untuk meluncurkan balon terbang ke wilayah Israel sehingga menyebabkan kebakaran hutan dan ladang pertanian. Hamas juga membentuk unit khusus untuk menjaga ketegangan di perbatasan selama malam hari dan fajar menyingsing. Guterres tetap mengutuk peningkatan jumlah korban tewas yang kerap diakibatkan serangan di wilayah padat penduduk dengan target warga sipil seperti sekolah dan rumah sakit.

Laporan tersebut dihasilkan oleh Utusan Khusus PBB untuk Anak-Anak dan Konflik Bersenjata Virginia Gamba dan mengikutsertakan nama Guterres. “Jumlah korban anak-anak terus meningkat dan itu menunjukkan angkat yang mengkhawatirkan,” ujar Guterres. Seperti dilansir Middle East Monitor, tentara pendudukan Israel telah menewaskan 16 anak-anak Palestina di Gaza dan Tepi Barat sejak awal 2019 lalu.

Itu diungkapkan Defence for Children International-Palestine (DCIP). Dalam laporan DCIP, kelompok pemerhati hak anak itu menyatakan 12 anak-anak tewas di Gaza dan 4 anak lainnya meninggal akibat kekerasan tentara Israel di Tepi Barat. "Tentara penduduk Israel menggunakan kekuatan senjata berlebihan dan menggunakan amunisi untuk menyerang dan membunuh anak-anak," demikian tuding DCIP. Mereka juga menyatakan pembunuhan tentara Palestina tidak menjadi perhatian besar karena kurangnya akuntabilitas.

Israel Menyiksa Anak-Anak Palestina

Pendudukan Israel telah mentransformasi gambar kegembiraan, kesenangan, dan pendidikan menjadi hal yang menyedihkan bagi anak-anak di Palestina. Sekitar 1,3 juta anak-anak di Tepi Barat terkena dampak langsung kebijakan penangkapan dan penahanan oleh tentara Israel.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.0996 seconds (10.55#12.26)