Terlalu Berisik, Kota di Belanda Larang Anak-anak Bermain

Kamis, 11 Juli 2019 - 14:19 WIB
Terlalu Berisik, Kota...
Terlalu Berisik, Kota di Belanda Larang Anak-anak Bermain
A A A
AMSTERDAM - Sebuah kota di Belanda melarang anak-anak dari sebuah sekolah untuk bermain di taman bermain. Larangan itu diberlakukan setelah tetangga disekitar mengeluh karena terlalu berisik.

Pejabat di Nijmegen, dekat perbatasan Jerman, mengukur tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh anak-anak yang tengah bermain. Hasilnya, tingkat kebisingannya mencapai 88 desibel, jauh di atas batas hukum kebisingan di daerah perumahan yaitu 70 desibel.

Menurut Pusat Pendengaran dan Komunikasi yang berbasis di New York, 88 desibel adalah volume yang mirip dengan pengolah makanan, traktor, atau teriakan.

Pihak sekolah memiliki waktu hingga akhir bulan untuk mematuhi larangan atau akan didenda sebesar Rp158 juta.

"Ini adalah situasi yang aneh, dan itu benar-benar tidak adil bagi anak-anak," ujar Direktur sekolah dasar De Buut, Janneke Colsen, kepada surat kabar de Volkskrant yang dikutip Fox News, Kamis (11/7/2019).

Colsen mengatakan kepada surat kabar itu bahwa sekolah telah mencoba bekerja dengan penduduk setempat, tetapi mereka tetap mengeluh kepada pemerintah setempat.

Setidaknya satu pejabat pemerintah mendukung larangan itu.

"Ini adalah masalah yang sulit," kata anggota dewan kota Noel Vergunst dari partai sayap kiri, Partai Hijau, kepada anggota dewan lainnya.

"Standar kebisingannya jauh melebihi, jadi kami harus melakukan sesuatu," imbuhnya.

Banyak orang lain memprotes larangan itu, dengan lebih dari 4.000 tanda tangan membubuhi petisi yang meminta dewan untuk membiarkan anak-anak tetap di taman bermain dan penduduk daerah memasang tanda untuk mendukung anak-anak.

Anggota dewan lokal lainnya, Nick De Graaf dari partai kanan-tengah, VVD, telah berulang kali berbicara di media sosial menentang pelarangan dan menekankan pentingnya permainan untuk anak-anak. Beberapa yang pendukung untuk membuka kembali taman bermain telah mengadopsi slogan, "Oranye Lionesses harus mulai di suatu tempat," sebuah referensi untuk tim sepak bola wanita Belanda yang finish di tempat kedua di Piala Dunia.

Kontroversi telah menarik perhatian dari anggota parlemen Belanda, menurut BBC, yang telah mengangkat masalah ini dengan Menteri Pendidikan Ingrid van Engelshoven.

"Anda pergi untuk tinggal di sebelah lapangan olahraga di mana anak-anak menikmati olahraga dan berolahraga dan kemudian Anda mengajukan keluhan terhadap kebisingan," kata anggota parlemen VVD Rudmer Heerema di Twitter pekan lalu.

"Sebuah solusi harus ditemukan untuk ini. Anak-anak harus dapat berolahraga dan bergerak," tukasnya.
(ian)
Berita Terkait
Ratu Belanda Maxima...
Ratu Belanda Maxima Kunjungi Indonesia, Ini Rangkaian Agendanya
Belanda Kembalikan 478...
Belanda Kembalikan 478 Harta Karun yang Pernah Dijarah saat Penjajahan ke Indonesia
Polandia Vs Belanda:...
Polandia Vs Belanda: The Oranye Menang 2-1!
Belanda Memiliki 300.000...
Belanda Memiliki 300.000 Harta Karun yang Dijarah dari Negeri Jajahan
5 Negara Bekas Jajahan...
5 Negara Bekas Jajahan Belanda, Nomor 2 Banyak yang Fasih Bahasa Jawa
Kisah Idjon Djanbi,...
Kisah Idjon Djanbi, Bule yang Jadi Komandan Pertama Kopassus
Berita Terkini
Setelah Warga Palestina...
Setelah Warga Palestina Diusir, Israel Robohkan Sekolah di Dusun Tepi Barat
1 jam yang lalu
AS Serang Jembatan Kereta...
AS Serang Jembatan Kereta Api Strategis yang Hubungkan Iran ke China dan Rusia
2 jam yang lalu
Israel Minta Lampu Hijau...
Israel Minta Lampu Hijau AS untuk Serang Iran
3 jam yang lalu
Rencana Volkswagen Buat...
Rencana Volkswagen Buat Rudal dengan Rafael Israel Dihalangi Para Investor Qatar
4 jam yang lalu
Ukraina Menggila, Pertahanan...
Ukraina Menggila, Pertahanan Udara Rusia Hancurkan 5.000 Drone dalam Sepekan
5 jam yang lalu
Iran Gempur Pusat Komando...
Iran Gempur Pusat Komando AS dan Pangkalan Udara Yordania dengan 10 Rudal Balistik
6 jam yang lalu
Infografis
Robi Darwis, Anak Emas...
Robi Darwis, Anak Emas Gerald Vanenburg di Piala AFF U-23 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved