Presiden Iran Bersedia Berunding dengan AS Jika Sanksi Dicabut
Kamis, 30 Mei 2019 - 05:55 WIB
Presiden Iran Bersedia Berunding dengan AS Jika Sanksi Dicabut
A
A
A
TEHERAN - Presiden Iran Hassan Rouhani membuka pintu bagi Washington untuk berunding dengan Teheran. Namun, syaratnya Amerika Serikat harus mencabut sanksi ekonomi yang kejam terhadap negara para Mullah tersebut.
Rouhani mengatakan jalan tidak ditutup jika AS menginginkan negosiasi dengan Iran dan kembali pada perjanjian nuklir 2015 antara Teheran dan enam kekuatan dunia (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China).
Pernyataan Presiden Rouhani muncul dalam pertemuan Kabinet Iran pada hari Rabu. Dia tidak secara eksplisit menyebut Amerika Serikat dalam komentarnya, namun tetap saja merujuk pada Washington karena negara yang dipimpin Presiden Donald Trump itu satu-satunya negara yang keluar dari perjanjian nuklir 2015 dan memberlakukan kembali sanksinya terhadap Teheran.
"Jalan itu tidak ditutup untuk mereka, setiap kali mereka mengesampingkan sanksi kejamnya dan kembali ke meja negosiasi yang mereka tinggalkan," katanya.
Pernyataan Rouhani itu juga dikutip situs webnya dan menyebut langsung nama AS."Jika AS memilih jalan lain dan kembali pada keadilan dan hukum, negara Iran akan tetap membuka jalan untuk Anda," katanya.
"Tolok ukurnya bukan apa yang mereka katakan, tetapi apa yang mereka lakukan," lanjut dia, seperti dikutip Times of Israel, Kamis (30/5/2019). "Setiap kali mereka menghentikan permusuhan terhadap bangsa Iran, cabut sanksi yang tidak adil, penuhi komitmen, dan kembali ke meja negosiasi di sebelah kiri, pintunya terbuka."
Pada hari Senin lalu Presiden AS Donald Trump mengulurkan tawaran negosiasi dengan Iran ketika dia bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.
"Saya yakin Iran ingin berbicara, dan jika mereka ingin berbicara, kami juga ingin berbicara," kata Trump.
AS telah mengerahkan Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan sejumlah pesawat pengebom B-52 ke ke Timur Tengah setelah ketegangan antara Teheran dan Washington memanas. AS berdalih pengerahan peralatan perang itu dilakukan setelah militer Teheran diyakini sedang mempersiapkan serangan terhadap pasukan dan kepentingan Washington di Timur Tengah. Namun, Teheran membantah tuduhan itu dan menganggapnya sebagai laporan intelijen palsu dari AS.
Rouhani mengatakan jalan tidak ditutup jika AS menginginkan negosiasi dengan Iran dan kembali pada perjanjian nuklir 2015 antara Teheran dan enam kekuatan dunia (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China).
Pernyataan Presiden Rouhani muncul dalam pertemuan Kabinet Iran pada hari Rabu. Dia tidak secara eksplisit menyebut Amerika Serikat dalam komentarnya, namun tetap saja merujuk pada Washington karena negara yang dipimpin Presiden Donald Trump itu satu-satunya negara yang keluar dari perjanjian nuklir 2015 dan memberlakukan kembali sanksinya terhadap Teheran.
"Jalan itu tidak ditutup untuk mereka, setiap kali mereka mengesampingkan sanksi kejamnya dan kembali ke meja negosiasi yang mereka tinggalkan," katanya.
Pernyataan Rouhani itu juga dikutip situs webnya dan menyebut langsung nama AS."Jika AS memilih jalan lain dan kembali pada keadilan dan hukum, negara Iran akan tetap membuka jalan untuk Anda," katanya.
"Tolok ukurnya bukan apa yang mereka katakan, tetapi apa yang mereka lakukan," lanjut dia, seperti dikutip Times of Israel, Kamis (30/5/2019). "Setiap kali mereka menghentikan permusuhan terhadap bangsa Iran, cabut sanksi yang tidak adil, penuhi komitmen, dan kembali ke meja negosiasi di sebelah kiri, pintunya terbuka."
Pada hari Senin lalu Presiden AS Donald Trump mengulurkan tawaran negosiasi dengan Iran ketika dia bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.
"Saya yakin Iran ingin berbicara, dan jika mereka ingin berbicara, kami juga ingin berbicara," kata Trump.
AS telah mengerahkan Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan sejumlah pesawat pengebom B-52 ke ke Timur Tengah setelah ketegangan antara Teheran dan Washington memanas. AS berdalih pengerahan peralatan perang itu dilakukan setelah militer Teheran diyakini sedang mempersiapkan serangan terhadap pasukan dan kepentingan Washington di Timur Tengah. Namun, Teheran membantah tuduhan itu dan menganggapnya sebagai laporan intelijen palsu dari AS.
(mas)