AS Sebar Sistem Pertahanan Rudal di Jepang, Rusia Merasa Terancam

Sabtu, 11 Mei 2019 - 08:34 WIB
AS Sebar Sistem Pertahanan...
AS Sebar Sistem Pertahanan Rudal di Jepang, Rusia Merasa Terancam
A A A
MOSKOW - Rusia merasa terancam dengan penyebaran sistem pertahanan rudal Amerika Serikat (AS) di Jepang. Keluhan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov setelah bertemu dengan mitranya dari Jepang, Taro Kono, hari Jumat.

"Kami lagi-lagi telah menarik perhatian pada tindakan-tindakan tertentu dari Washington, termasuk penempatan elemen-elemen sistem pertahanan rudal global ke Jepang, memperkuat kehadiran militernya di kawasan itu dan kegiatan-kegiatan di bidang kendali senjata, di mana AS menghancurkan semua perjanjian yang ada. Kami menganggap tindakan seperti itu sebagai ancaman bagi negara kami," kata Lavrov, seperti dikutip Russia Today, Sabtu (11/5/2019).

Lavrov mengatakan hubungan bilateral Rusia-Jepang masih penuh dengan berbagai masalah, termasuk perbedaan signifikan dalam pendekatan Moskow dan Tokyo terhadap masalah perjanjian perdamaian.

Kedua negara tidak pernah menandatangani perjanjian damai setelah berakhirnya Perang Dunia II, dan Jepang memiliki klaim teritorial yang belum terselesaikan di empat Kepulauan Kuril Rusia.

Setelah perang berakhir, pulau Iturup, Kunashir, Shikotan, dan Habomai—yang dikenal di Jepang sebagai Northern Territories (Wilayah Utara)—diserahkan kepada Uni Soviet di bawah Deklarasi Potsdam 1945.

Tahun lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe setuju untuk melanjutkan diskusi perjanjian damai, berdasarkan deklarasi 1956 yang ditandatangani oleh Jepang dan Uni Soviet. Dokumen tersebut membayangkan kemungkinan penyerahan pulau Shikotan dan pulau Habomai ke Jepang. Namun, setiap pertukaran wilayah hanya mungkin dilakukan setelah perjanjian damai ditandatangani.

Tokyo menegaskan bahwa sengketa teritorial harus diselesaikan terlebih dahulu, yang artinya Rusia harus menyerahkan semua wilayah kepulauan tersebut.

Dokumen tahun 1956 itu dikecam oleh Uni Soviet pada 1960 setelah Jepang menandatangani perjanjian keamanan dengan AS. Sementara deklarasi yang tidak berlaku itu diambil sebagai dasar untuk negosiasi yang dihidupkan kembali.

“Deklarasi bersama diadopsi di bawah keadaan historis dan geopolitik tertentu. Sejak itu, situasinya telah berubah secara drastis. Kami harus mempertimbangkan perjanjian keamanan aktif antara Jepang dan AS," kata Lavrov.

Lavrov melanjutkan, meskipun ada perbedaan yang luar biasa, Moskow berharap bisa melanjutkan negosiasi. "Setiap perjanjian harus sepenuhnya mencerminkan kepentingan kedua negara dan harus diterima dengan jelas oleh kedua negara," katanya.

Rumor tentang penyerahan beberapa pulau sengketa kepada Jepang pernah memicu protes di seluruh Rusia pada tahun lalu.

“Tugas seperti itu tidak mudah. Jelas itu dapat dicapai hanya melalui kerja yang berkelanjutan, teliti dan kreatif," ujar Lavrov.
(mas)
Berita Terkait
AS dan Jepang Bakal...
AS dan Jepang Bakal Kembangkan Senjata Pencegat Rudal Hipersonik Musuh
AS dan Jepang Habiskan...
AS dan Jepang Habiskan Rp48 Triliun Bikin Rudal Pencegat Senjata Hipersonik
AS Tunjukkan Sistem...
AS Tunjukkan Sistem Rudal Typhon di Jepang untuk Pertama Kalinya, Senjata yang Bikin China Marah
Inilah Rudal NASAMS...
Inilah Rudal NASAMS yang akan Dikirim Amerika untuk Ukraina
Jepang Segera Beli 400...
Jepang Segera Beli 400 Rudal Jelajah Tomahawk dari Amerika Serikat
AS-Jepang Akan Bangun...
AS-Jepang Akan Bangun Jaringan Satelit Pendeteksi Rudal
Berita Terkini
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
2 jam yang lalu
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
4 jam yang lalu
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
5 jam yang lalu
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
6 jam yang lalu
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
7 jam yang lalu
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
8 jam yang lalu
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved