Presiden Taiwan: AS Tidak Hanya Berikan Senjata Defensif
Selasa, 09 April 2019 - 22:52 WIB
Presiden Taiwan: AS Tidak Hanya Berikan Senjata Defensif
A
A
A
TAIPEI - Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen menyatakan kerja sama negaranya dengan Amerika Serikat (AS) selama tiga tahun terakhir telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Salah satunya adalah dalam hal keamanan.
"Undang-undang Hubungan Taiwan (TRA) telah menetapkan kerangka kerja untuk tidak hanya memberikan senjata kepada Taiwan dengan karakter defensif, tetapi juga untuk mempertimbangkan segala upaya untuk menentukan depan Taiwan dengan cara lain selain cara damai, termasuk dengan boikot atau embargo, ancaman bagi perdamaian dan keamanan wilayah Pasifik Barat dan keprihatinan serius bagi Amerika Serikat," tutur Tsai seperti dikutip Sindonews dari situs kepresidenan Taiwan, Selasa (9/4/2019).
Hal itu diungkapkan Tsai saat memaparkan masa depan hubungan Taipei-Washington di depan tiga lembaga think tanks asal AS yakni Centre for Strategic and International Studies (CSIS), The Brookings Institution Center for Scholars, dan The Woodrow Wilson International.
Menurut Tsai, kerja sama antara kedua negara terus memenuhi semangat undang-undang yang disahkan oleh Kongres AS 40 tahun lalu itu.
"Saat ini, gebrakan penjualan senjata yang stabil telah diumumkan oleh pemerintah AS, dan kami memiliki lebih banyak saluran," ujarnya.
AS, sambungnya, juga terus mendukung pengembangan kapabilitas Taiwan.
"Tapi semua ini hanya bekerja ketika Taiwan mampun dan bertekad untuk membela diri. Kami tidak dapat mengharapkan orang lain melakukan apa yang tidak kami inginkan untuk dilakukan sendiri," tuturnya.
"Jadi sejak 2016, bagian dari tujuan utama saya adalah untuk memperkuat kemampuan pertahanan kami," imbuhnya.
Tsai mengungkapkan Taiwan telah meningkatkan anggaran pertahannya selam dua tahun terakhir. Dana itu digunakan untuk strategi, teknik, dan kemampuan kekuatan tempur.
"Kami melakukan investasi ini bukan karena kami mengejar konfrontasi," tegas Tsai.
"Seperti yang dinyatakan TRA: perdamaian dan stabilitas di kawasan itu adalah kepentingan politik, keamanan, dan ekonomi Amerika Serikat, dan merupakan masalah yang menjadi perhatian internasional," tukasnya.
"Undang-undang Hubungan Taiwan (TRA) telah menetapkan kerangka kerja untuk tidak hanya memberikan senjata kepada Taiwan dengan karakter defensif, tetapi juga untuk mempertimbangkan segala upaya untuk menentukan depan Taiwan dengan cara lain selain cara damai, termasuk dengan boikot atau embargo, ancaman bagi perdamaian dan keamanan wilayah Pasifik Barat dan keprihatinan serius bagi Amerika Serikat," tutur Tsai seperti dikutip Sindonews dari situs kepresidenan Taiwan, Selasa (9/4/2019).
Hal itu diungkapkan Tsai saat memaparkan masa depan hubungan Taipei-Washington di depan tiga lembaga think tanks asal AS yakni Centre for Strategic and International Studies (CSIS), The Brookings Institution Center for Scholars, dan The Woodrow Wilson International.
Menurut Tsai, kerja sama antara kedua negara terus memenuhi semangat undang-undang yang disahkan oleh Kongres AS 40 tahun lalu itu.
"Saat ini, gebrakan penjualan senjata yang stabil telah diumumkan oleh pemerintah AS, dan kami memiliki lebih banyak saluran," ujarnya.
AS, sambungnya, juga terus mendukung pengembangan kapabilitas Taiwan.
"Tapi semua ini hanya bekerja ketika Taiwan mampun dan bertekad untuk membela diri. Kami tidak dapat mengharapkan orang lain melakukan apa yang tidak kami inginkan untuk dilakukan sendiri," tuturnya.
"Jadi sejak 2016, bagian dari tujuan utama saya adalah untuk memperkuat kemampuan pertahanan kami," imbuhnya.
Tsai mengungkapkan Taiwan telah meningkatkan anggaran pertahannya selam dua tahun terakhir. Dana itu digunakan untuk strategi, teknik, dan kemampuan kekuatan tempur.
"Kami melakukan investasi ini bukan karena kami mengejar konfrontasi," tegas Tsai.
"Seperti yang dinyatakan TRA: perdamaian dan stabilitas di kawasan itu adalah kepentingan politik, keamanan, dan ekonomi Amerika Serikat, dan merupakan masalah yang menjadi perhatian internasional," tukasnya.
(ian)