100 Persen, Trump Klaim ISIS Telah Diberangus dari Suriah
Jum'at, 01 Maret 2019 - 06:23 WIB
100 Persen, Trump Klaim ISIS Telah Diberangus dari Suriah
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Donald Trump mengatakan bahwa pasukan pimpinan Amerika Serikat (AS) di Suriah telah merebut kembali semua wilayah yang pernah dikuasai oleh kelompok teroris ISIS .
"Sekarang ini 100 persen wilayah yang baru saja kami ambil alih (dari ISIS di Suriah)," kata Trump saat berhenti untuk mengisi bahan bakar di Pangkalan Bersama Elmendorf-Richardson, sebuah fasilitas militer AS di Alaska.
Trump mengatakan kampanye untuk merebut wilayah itu memakan waktu lebih sedikit dari yang diperkirakan oleh para jenderalnya.
"Kami melakukannya dalam periode waktu yang jauh lebih singkat dari yang seharusnya", tambahnya seperti dikutip dari Sputnik, Jumat (1/3/2019).
Pemimpin AS itu berhenti di Alaska dalam perjalanan menuju Washington dari Hanoi, Vietnam, di mana ia mengadakan pertemuan puncak dua hari dengan pemimpin Korea Utara (Korut) Kin Jong-un.
Pada bulan Desember, Trump mengumumkan bahwa semua pasukan AS akan meninggalkan Suriah dan menyatakan kekalahan ISIS sepenuhnya di negara yang dilanda perang itu, tanpa menentukan tenggat waktu untuk penarikan pasukan. Trump kemudian menambahkan bahwa negara-negara lokal, termasuk Turki, harus menjaga situasi dan menangani ancaman teror yang tersisa.
Pasukan AS telah beroperasi di Suriah sebagai bagian dari koalisi internasional selama sekitar lima tahun tanpa izin dari pemerintah Suriah atau Dewan Keamanan PBB. AS memberikan dukungan kepada milisi pimpinan Kurdi yang mengendalikan wilayah di sebelah timur Sungai Eufrat dan menentang pemerintah Suriah.
Ankara, pada gilirannya, mengklaim bahwa milisi Kurdi yang beroperasi di utara Suriah menimbulkan ancaman terhadap keamanan Turki. Pada Januari 2018, Turki melancarkan operasi militer di kota Afrin, Suriah barat laut melawan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) yang didukung AS. Turki menganggap YPG sebagai afiliasi Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Ankara.
Pada 3 Februari, Presiden Trump mengatakan kepada CBS News dalam sebuah wawancara bahwa AS akan mempertahankan keberadaan pasukannya di Irak agar dapat "mengawasi Iran".
Baca juga: AS Akan Lindungi Israel dengan Intai Militer Iran dari Irak
Menyusul pernyataan itu, Wakil Ketua Pertama Parlemen Irak Hassan Kaabi mengatakan bahwa badan legislatif bermaksud untuk menyusun undang-undang tentang penghentian perjanjian keamanan dengan Amerika Serikat, yang akan mengarah pada penarikan semua pasukan asing dari negara itu. Presiden Irak Barham Salih juga mencatat bahwa Washington tidak meminta izin dari Baghdad untuk mengerahkan pasukan AS ke negara itu untuk "mengawasi" Teheran.
Baca juga: Trump Sebut Negaranya Sebagai Pangkalan AS, Para Pemimpin Irak Berang
"Sekarang ini 100 persen wilayah yang baru saja kami ambil alih (dari ISIS di Suriah)," kata Trump saat berhenti untuk mengisi bahan bakar di Pangkalan Bersama Elmendorf-Richardson, sebuah fasilitas militer AS di Alaska.
Trump mengatakan kampanye untuk merebut wilayah itu memakan waktu lebih sedikit dari yang diperkirakan oleh para jenderalnya.
"Kami melakukannya dalam periode waktu yang jauh lebih singkat dari yang seharusnya", tambahnya seperti dikutip dari Sputnik, Jumat (1/3/2019).
Pemimpin AS itu berhenti di Alaska dalam perjalanan menuju Washington dari Hanoi, Vietnam, di mana ia mengadakan pertemuan puncak dua hari dengan pemimpin Korea Utara (Korut) Kin Jong-un.
Pada bulan Desember, Trump mengumumkan bahwa semua pasukan AS akan meninggalkan Suriah dan menyatakan kekalahan ISIS sepenuhnya di negara yang dilanda perang itu, tanpa menentukan tenggat waktu untuk penarikan pasukan. Trump kemudian menambahkan bahwa negara-negara lokal, termasuk Turki, harus menjaga situasi dan menangani ancaman teror yang tersisa.
Pasukan AS telah beroperasi di Suriah sebagai bagian dari koalisi internasional selama sekitar lima tahun tanpa izin dari pemerintah Suriah atau Dewan Keamanan PBB. AS memberikan dukungan kepada milisi pimpinan Kurdi yang mengendalikan wilayah di sebelah timur Sungai Eufrat dan menentang pemerintah Suriah.
Ankara, pada gilirannya, mengklaim bahwa milisi Kurdi yang beroperasi di utara Suriah menimbulkan ancaman terhadap keamanan Turki. Pada Januari 2018, Turki melancarkan operasi militer di kota Afrin, Suriah barat laut melawan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) yang didukung AS. Turki menganggap YPG sebagai afiliasi Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Ankara.
Pada 3 Februari, Presiden Trump mengatakan kepada CBS News dalam sebuah wawancara bahwa AS akan mempertahankan keberadaan pasukannya di Irak agar dapat "mengawasi Iran".
Baca juga: AS Akan Lindungi Israel dengan Intai Militer Iran dari Irak
Menyusul pernyataan itu, Wakil Ketua Pertama Parlemen Irak Hassan Kaabi mengatakan bahwa badan legislatif bermaksud untuk menyusun undang-undang tentang penghentian perjanjian keamanan dengan Amerika Serikat, yang akan mengarah pada penarikan semua pasukan asing dari negara itu. Presiden Irak Barham Salih juga mencatat bahwa Washington tidak meminta izin dari Baghdad untuk mengerahkan pasukan AS ke negara itu untuk "mengawasi" Teheran.
Baca juga: Trump Sebut Negaranya Sebagai Pangkalan AS, Para Pemimpin Irak Berang
(ian)