Gelar Demonstrasi di Paris, Oposisi Iran Tuntut Perubahan Rezim

Sabtu, 09 Februari 2019 - 16:03 WIB
Gelar Demonstrasi di...
Gelar Demonstrasi di Paris, Oposisi Iran Tuntut Perubahan Rezim
A A A
PARIS - Ribuan pendukung kelompok oposisi Iran di pengasingan menggelar aksi demonstrasi di Paris, Prancis pada Jumat (8/2/2019) kemarin. Mereka menyerukan diakhirinya rezim ulama yang telah berkuasa selama 40 tahun setelah revolusi menggulingkan monarki Iran.

Mujahidin-e-Khalq, yang secara luas di Barat disebut sebagai MEK, bergabung dalam demonstrasi yang dilakukan oleh sejumlah tokoh di barisa depan aksi, mulai dari mantan politisi Prancis dan seorang tokoh oposisi Suriah .

Massa melambai-lambaikan poster pemimpin kelompok Maryam Rajavi dan pendiri Massoud Rajavi - tidak terlihat sejak 2003 di Irak, di mana MEK pernah memiliki sebuah kamp dan mengobarkan perang terhadap Iran sebelum dilucuti saat invasi Amerika Serikat (AS).

Kelompok itu menempatkan markasnya di luar Paris dengan beberapa ribu anggota di Albania, didapatkan oleh upaya yang diperantarai PBB dari Irak. Pendukung tersebar di tempat lain di Barat sebagai bagian dari diaspora Iran.

Keamanan ketat diberlakukan selama aksi demonstrasi dan melewati Paris. Unjuk rasa tahunan kelompok itu tahun lalu menjadi target serangan bom, yang digagalkan oleh aksi penangkapan. Seorang diplomat Iran yang berbasis di Austria ditahan di Belgia, di mana polisi menemukan bahan bom di mobil pasangan asal Iran.

"Selama kita berurusan dengan pendukung utama negara terorisme, ada kekhawatiran. Tapi itu tidak akan pernah menghentikan kita," kata juru bicara MEK Shahin Gobadi seperti disitir dari Arab News, Sabtu (9/2/2019).

MEK mendukung sikap garis keras Presiden AS Donald Trump atas Iran, dan mendukung sanksi Washington terhadap Teheran.

Seorang orator, mantan Senator Prancis Jean-Pierre Michel, dalam sebuah wawancara mengatakan: "Saya bukan penggemar Trump. Tapi saya pikir Amerika Serikat benar tentang Iran."

"Dia menghukum orang Eropa atas apa yang dilihatnya sebagai pendekatan mereka yang lebih lembut ke Teheran," imbuhnya.

Michel (80) sudah lama mendukung MEK, yang digambarkan sebagai organisasi yang mengkultuskan seseorang. Dia memuji MEK karena memiliki seorang wanita sebagai pemimpinnya yang mengatakan menginginkan demokrasi dan pemisahan gereja dan negara di masa depan Iran.

Lebih jauh dia berharap suatu hari untuk mengunjungi Teheran dengan Rajavi. "Itu membuat saya tetap hidup," ujarnya.
(ian)
Berita Terkait
Iran Vonis Akademisi...
Iran Vonis Akademisi Prancis dengan Hukuman Penjara Enam Tahun
Ribuan Warga Iran Kutuk...
Ribuan Warga Iran Kutuk Israel di Teheran, Kedubes Prancis Dicorat-coret
Prancis Sarankan Warganya...
Prancis Sarankan Warganya Tinggalkan Iran
Presiden Prancis: Pembicaraan...
Presiden Prancis: Pembicaraan Nuklir Iran Perlu Dipercepat
Rencanakan Pengeboman...
Rencanakan Pengeboman di Paris, Diplomat Iran Dibui 20 Tahun
Iran Kirim Kotak Hitam...
Iran Kirim Kotak Hitam Pesawat Ukraina ke Prancis
Berita Terkini
Operasi Siber China...
Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan
3 menit yang lalu
Blokade Angkatan Laut...
Blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran Dimulai Lagi, Kerahkan Lebih Banyak Kekuatan Militer
54 menit yang lalu
Taktik Trump Sering...
Taktik Trump Sering Menjiplak Musuh-musuhnya, dari Blokade Laut hingga Tarif Selat Hormuz
1 jam yang lalu
Diejek Habis-habisan,...
Diejek Habis-habisan, Trump akan Ganti Biaya Kargo Selat Hormuz 20% dengan Kesepakatan Investasi untuk Negara-negara Teluk
2 jam yang lalu
Jerman akan Beli 50.000...
Jerman akan Beli 50.000 Drone Serang untuk Ukraina
3 jam yang lalu
Politik AS Didominasi...
Politik AS Didominasi Manula! Ini Deretan Politisi Tua yang Melebihi Usia Pensiun
5 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved