Peringati 40 Tahun Revolusi Islam, Iran Ampuni Ribuan Tahanan

Jum'at, 08 Februari 2019 - 06:05 WIB
Peringati 40 Tahun Revolusi...
Peringati 40 Tahun Revolusi Islam, Iran Ampuni Ribuan Tahanan
A A A
TEHERAN - Ribuan tahanan di Iran mendapat ampunan atau grasi. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengatakan grasi dalam skala besar-besaran ini untuk menghormati peringatan 40 tahun Revolusi Islam yang telah menggulingkan rezim Shah sekutu Amerika Serikat (AS).

Khamenei tidak merinci jumlah tahanan yang mendapat ampunan. Namun, media Iran melaporkan sekitar 50.000 tahanan menikmati "grasi Islam", di mana sebagian dari mereka ada yang dibebaskan dan sebagian lagi dikurangi masa hukumannya.

Negara para Mullah itu akan mengadakan perayaan resmi untuk peringatan Revolusi Islam 1979 yang puncaknya jatuh pada hari Senin, 11 Februari 2019.

Belum jelas apakah mereka yang diampuni termasuk ratusan tahanan yang menurut kelompok hak asasi manusia (HAM) telah dipenjara karena pelanggaran politik.

Beberapa warga negara ganda dari Amerika Serikat, Inggris, Austria, Kanada dan Prancis telah ditahan oleh pasukan keamanan Iran dalam beberapa tahun terakhir. Rata-rata dari mereka dipenjara atas tuduhan termasuk spionase dan bekerja sama dengan pemerintah yang bermusuhan.

Khamenei memiliki keputusan akhir tentang semua masalah negara dan mengeluarkan grasi atau mengurangi hukuman tahanan pada acara-acara khusus.

Mengutip situs peradilan Mizanonline.com, Jumat (8/2/2019), pengampunan mencakup banyak tahanan, mulai dari tahanan yang menjalani hukuman penjara setahun hingga hukuman penjara seumur hidup.

Menurut laporan tersebut, kelompok tahanan yang tidak mendapat ampunan antara lain tahanan oposisi bersenjata, penculikan, pemerkosaan, perampokan bersenjata, penipuan, penggelapan, penyuapan, pencucian uang, penyelundupan dan kejahatan terorganisir.

Kendati demikian, tahanan pria di atas usia 70 tahun dan tahanan wanita di atas usia 60 tahun serta tahanan yang menderita penyakit tertentu mendapat ampunan.

Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang memproklamirkan diri sebagai raja di Iran telah memerintah puluhan tahun. Selama masa pemerintahannya, kesenjangan besar muncul antara kaya dan miskin.

Selama berbulan-bulan protes keras, massa di Iran meneriakkan "Matilah Shah" pada puncak Revolusi Islam 1979. Pahlavi dan istrinya, Farah Pahlavi, akhirnya meninggalkan Teheran dan terbang ke Aswan, Mesir, pada 16 Januari 1979. Shah meninggal karena kanker di Kairo pada tahun berikutnya.
(mas)
Berita Terkait
Mengapa Amerika Serikat...
Mengapa Amerika Serikat Memblokade Pelabuhan Iran?
Amerika Serikat Blacklist...
Amerika Serikat Blacklist Menteri Dalam Negeri Iran
SMURP Aksi Solidaritas...
SMURP Aksi Solidaritas di Monas, Serukan Boikot Produk Terafiliasi Israel dan AS
Iran Akan Pertimbangkan...
Iran Akan Pertimbangkan Negosiasi Langsung dengan Amerika Serikat
Seberapa Penting Timur...
Seberapa Penting Timur Tengah bagi Amerika Serikat?
Kedubes Amerika Serikat...
Kedubes Amerika Serikat di Tel Aviv Dibombardir Rudal Iran
Berita Terkini
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
28 menit yang lalu
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
2 jam yang lalu
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
2 jam yang lalu
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
3 jam yang lalu
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
4 jam yang lalu
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
4 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved