Sanksi Baru AS 'Tampar' Maskapai Iran dan Milisi Pro-IRGC

Jum'at, 25 Januari 2019 - 00:55 WIB
Sanksi Baru AS Tampar...
Sanksi Baru AS 'Tampar' Maskapai Iran dan Milisi Pro-IRGC
A A A
WASHINGTON - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) memberlakukan sanksi baru terhadap Iran. Target sanksi Washington kali ini adalah dua maskapai dan dua kelompok milisi Syiah yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Perusahaan penerbangan yang terkena "tamparan" sanksi Washington adalah Qeshm Fars Air dan Flight Travel LLC yang berbasis di Armenia. Sedangkan dua kelompok milisi yang terkena sanksi adalah Brigade Fatemiyoun dan Brigade Zaynabiyoun yang beroperasi di Suriah.

Departemen Keuangan juga menjatuhkan sanksi terhadap dua pesawat Boeing 747, yang ditunjuk EP-FAA dan EP-FAB, atas hubungan mereka dengan Qeshm Fars Air.

Brigade Fatemiyoun adalah kelompok milisi Syiah Afghanistan. Sedangkan Brigade Zaynabiyoun sebagian besar terdiri dari milisi Syiah Pakistan.

"Penargetan departemen keuangan atas milisi yang didukung Iran dan proksi asing lainnya adalah bagian dari kampanye kami yang berkelanjutan untuk menutup jaringan terlarang, yang digunakan rezim untuk mengekspor terorisme dan kerusuhan di seluruh dunia," kata Menteri Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin yang dikutip Sputnik, Jumat (25/1/2019).

Pada 5 November 2018, Washington memberlakukan sanksi keras terhadap sektor energi, penerbangan dan ekspor Iran menyusul keputusan Presiden Donald Trump yang menarik AS keluar dari perjanjian nuklir Iran (JCPOA 2015) pada 8 Mei 2018. Sanksi itu dirancang untuk membatasi kemampuan Teheran untuk mengekspor minyak mentah dan melakukan operasi perbankan internasional.

Pada saat yang sama, AS memberikan keringanan sementara kepada China, India, Italia, Yunani, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Turki, yang memungkinkan mereka membeli minyak mentah Iran dalam jumlah terbatas selama enam bulan tanpa sanksi.

Iran telah berulang kali mengancam akan memblokir Selat Hormuz, satu-satunya jalan keluar maritim bagi kapal tanker minyak yang berasal dari Teluk Persia jika ekspor minyaknya terhambat oleh sanksi AS.
(mas)
Berita Terkait
Iran Akan Pertimbangkan...
Iran Akan Pertimbangkan Negosiasi Langsung dengan Amerika Serikat
AS, Iran dan Anggota...
AS, Iran dan Anggota JCPOA Bakal Bertemu di Wina Minggu Depan
AS Ancam Sanksi Negara...
AS Ancam Sanksi Negara yang Tolak Klausul Snapback Diaktifkan
Lagi, Presiden Iran...
Lagi, Presiden Iran Ajukan Syarat Duduk Satu Meja dengan AS
Rouhani Sebut Iran Dapat...
Rouhani Sebut Iran Dapat Perkaya Uranium Hingga 90%
Iran Tolak Pertemuan...
Iran Tolak Pertemuan dengan AS di Wina
Berita Terkini
Meski Wilayahnya Dicaplok...
Meski Wilayahnya Dicaplok Zionis, Presiden Suriah Tidak Tertarik Perang Melawan Israel
5 menit yang lalu
Drone Kamikaze Rusia...
Drone Kamikaze Rusia Hujani Kapal dan Pelabuhan Ukraina
1 jam yang lalu
70% Warga Negara di...
70% Warga Negara di Eropa Ini Tidak Percaya Militernya Mampu Melindungi Wilayahnya
2 jam yang lalu
Pemukim Israel Bakar...
Pemukim Israel Bakar 2 Masjid Bersejarah di Tepi Barat, Hamas: Lanjutkan Jalan Perlawanan
3 jam yang lalu
Setelah 13 Hari Menyerang...
Setelah 13 Hari Menyerang Iran, Trump Tunda Invasi Udara, Ini 5 Pertimbangannya
4 jam yang lalu
30.000 Tentara Korea...
30.000 Tentara Korea Utara Akan Dikirim ke Perang Ukraina
4 jam yang lalu
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved