Korut Kembali Desak Korsel Hentikan Latihan Militer dengan AS
Selasa, 01 Januari 2019 - 15:44 WIB
Korut Kembali Desak Korsel Hentikan Latihan Militer dengan AS
A
A
A
PYONGYANG - Korea Utara (Korut) mendesak Korea Selatan (Korsel) untuk sepenuhnya menghentikan latihan militer dengan Amerika Serikat (AS). Desakan itu disampaikan pemimpin Korut, Kim Jong-un dalam pidato Tahun Barunya.
"Sekarang, Korut dan Korsel memutuskan untuk mengambil jalan perdamaian dan kemakmuran. Kami bersikeras bahwa latihan militer bersama dengan pasukan luar tidak boleh lagi diizinkan dan penyebaran peralatan perang, seperti aset strategis luar, harus sepenuhnya dihentikan," ucap Jong-un, seperti dilansir Reuters pada Selasa (1/1).
Sebelumnya, Jong-un dalam pidatonya menegaskan kembali tekadnya untuk sepenuhnya melucuti nuklir Semenanjung Korea. Tetapi, dia juga memperingatkan soal kemungkinan mengambil jalan alternatif jika AS terus memaksa Pyongyang ke dalam tindakan sepihak.
Jong-un mengatakan bahwa dia bersedia bertemu dengan Presiden AS, Donald Trump kapan saja untuk mencapai denuklirisasi, dan mendesak Washington untuk mengambil tindakan terkait yang tidak ditentukan untuk mempercepat proses yang macet.
Para analis mengatakan, pesan Jong-un mengirim sinyal yang jelas bahwa Pyongyang bersedia untuk tetap dalam pembicaraan dengan Washington dan Seoul tahun ini, tetapi dengan caranya sendiri.
"Korut tampaknya bertekad pada 2019 untuk menerima semacam bantuan sanksi. Namun tantangannya, apakah Trump bersedia mundur dari posisinya tanpa bantuan sanksi? Pernyataan Jong-un sepertinya menunjukkan bahwa kesabarannya dengan Amerika semakin tipis," kata Harry J. Kazianis, pengamat dari Pusat Kepentingan Nasional yang berbasis di Washington.
"Sekarang, Korut dan Korsel memutuskan untuk mengambil jalan perdamaian dan kemakmuran. Kami bersikeras bahwa latihan militer bersama dengan pasukan luar tidak boleh lagi diizinkan dan penyebaran peralatan perang, seperti aset strategis luar, harus sepenuhnya dihentikan," ucap Jong-un, seperti dilansir Reuters pada Selasa (1/1).
Sebelumnya, Jong-un dalam pidatonya menegaskan kembali tekadnya untuk sepenuhnya melucuti nuklir Semenanjung Korea. Tetapi, dia juga memperingatkan soal kemungkinan mengambil jalan alternatif jika AS terus memaksa Pyongyang ke dalam tindakan sepihak.
Jong-un mengatakan bahwa dia bersedia bertemu dengan Presiden AS, Donald Trump kapan saja untuk mencapai denuklirisasi, dan mendesak Washington untuk mengambil tindakan terkait yang tidak ditentukan untuk mempercepat proses yang macet.
Para analis mengatakan, pesan Jong-un mengirim sinyal yang jelas bahwa Pyongyang bersedia untuk tetap dalam pembicaraan dengan Washington dan Seoul tahun ini, tetapi dengan caranya sendiri.
"Korut tampaknya bertekad pada 2019 untuk menerima semacam bantuan sanksi. Namun tantangannya, apakah Trump bersedia mundur dari posisinya tanpa bantuan sanksi? Pernyataan Jong-un sepertinya menunjukkan bahwa kesabarannya dengan Amerika semakin tipis," kata Harry J. Kazianis, pengamat dari Pusat Kepentingan Nasional yang berbasis di Washington.
(esn)