Eks Kanselir: Jerman Tak Bisa Diperlakukan seperti Negara Diduduki AS

Sabtu, 17 November 2018 - 06:04 WIB
Eks Kanselir: Jerman...
Eks Kanselir: Jerman Tak Bisa Diperlakukan seperti Negara Diduduki AS
A A A
BERLIN - Mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder tersinggung dengan perilaku Duta Besar Amerika Serikat (AS) di Berlin, Richard Grenell. Dia mengatakan bahwa tindakan diplomat itu seperti meyakinkan bahwa Jerman diduduki Amerika.

Berbicara dengan Reuters tentang perilaku Grenell, politikus veteran Jerman itu mengatakan tindakan diplomat Amerika telah menghina negaranya.

"Kami tidak dapat menerima diperlakukan seperti negara yang diduduki. Ketika saya melihat perilaku duta besar AS untuk Jerman, saya mendapat kesan bahwa dia melihat dirinya sebagai seorang pejabat pendudukan daripada duta besar di negara yang berdaulat," kata Schroeder.

Grenell, yang ditunjuk untuk pekerjaannya saat ini pada bulan Mei, telah membuat kehebohan di Berlin. Beberapa anggota parlemen bahkan menyerukan pemecatannya karena dia bersimpati pada kekuatan politik sayap kanan Eropa.

Dia juga melakukan pendekatan yang kuat dalam mempromosikan kepentingan bisnis Amerika di tengah perang dagang yang memanas dengan Uni Eropa. Perilaku Grennell tidak diulas Reuters, namun ditulis media Jerman yang dilansir Russia Today , Sabtu (17/11/2018).

Dalam wawancara dengan Reuters, Schroeder juga menyerukan hubungan yang lebih dekat antara Jerman dan China. Menurutnya, kedua negara bisa bersatu melawan kebijakan nasionalistik Presiden AS Donald Trump.

Dia memperingatkan agar tidak menjelekkan Beijing. Dia berpendapat bahwa investor China lebih disukai orang Eropa ketimbang Amerika.

Schroeder, 74, telah lama menganjurkan membangun hubungan lebih dekat dengan Rusia dan China. Saat berkuasa, dia bekerja untuk memajukan proyek pipa gas yang memasok gas Rusia ke Eropa dan setelah pensiun menjadi eksekutif senior untuk Nord Stream AG, perusahaan yang mengelola pipa gas saat ini.

Sementara itu, Dubes Grenell menyerang balik Schroeder. Diplomat itu juga menyerang Reuters dengan anggapan menjadi media penyebar "pesan Putin".
(mas)
Berita Terkait
Tentara Rusia Rebut...
Tentara Rusia Rebut Bradley Amerika Serikat dan Tank Leopard 2 Jerman
Iran Menerima Label...
Iran Menerima Label Negara Berteknologi Canggih Kalahkan Jerman dan Italia
Alasan BRICS Ditakuti...
Alasan BRICS Ditakuti Amerika Serikat dan Sekutunya
China Blak-blakan Ungkap...
China Blak-blakan Ungkap Tujuan Amerika Serikat di Ukraina
Putin Tegaskan China...
Putin Tegaskan China Segera Mengakhiri Dominasi Amerika Serikat
China: Amerika Serikat...
China: Amerika Serikat Ancaman Nuklir Utama di Dunia!
Berita Terkini
Eropa Bagai Neraka Akibat...
Eropa Bagai Neraka Akibat Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas, Ini 5 Faktanya
53 menit yang lalu
Putin Klaim Armada Kapal...
Putin Klaim Armada Kapal Pemecah Es Rusia Tak Memiliki Pesaing
1 jam yang lalu
Houthi dan Milisi Irak...
Houthi dan Milisi Irak Kompak Serang Arab Saudi, Riyadh: Agresor Itu Didukung Iran
4 jam yang lalu
Dunia Harus Alihkan...
Dunia Harus Alihkan Perhatian ke Tepi Barat! Israel Terus Caplok Tanah Warga Palestina
6 jam yang lalu
10 Raja Terkaya di Dunia,...
10 Raja Terkaya di Dunia, Nomor 1 Punya Harta Tembus Rp700 Triliun
6 jam yang lalu
Suriah Mencari Kesepakatan...
Suriah Mencari Kesepakatan Keamanan dengan Israel, Apa Dipicu Ketakutan atau Trauma?
7 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved