Uskup China Dilaporkan Hilang di Tengah Rekonsiliasi Beijing-Vatikan

Jum'at, 16 November 2018 - 14:54 WIB
Uskup China Dilaporkan...
Uskup China Dilaporkan Hilang di Tengah Rekonsiliasi Beijing-Vatikan
A A A
BEIJING - Sebuah kantor berita Katolik melaporkan bahwa seorang uskup yang menolak tuntutan untuk bergabung dengan badan gereja yang dikontrol Partai Komunis China menghilang. Laporan ini muncul di tengah adanya langkah-langkah rekonsiliasi Beijing dan Takhta Suci.

Asia News melaporkan bahwa Peter Shao Zhumin sudah tidak terlihat selama beberapa hari. Kantor berita itu tidak memberikan rincian terkait hal itu selain mengatakan ia telah menjadi sasaran indoktrinasi sepeti pada masa Revolusi Kebudayaan, sebuah referensi untuk kebijakan radikal Mao Zedong pada tahun 1966-76 yang menyerang budaya tradisional Tionghoa, agama dan kaum intelektual seperti dikutip dari Fox News, Jumat (16/11/2018).

Shao diangkat oleh Paus pada tahun 2016 dan dikirim ke kota Wenzhou, tenggara China, yang memiliki komunitas Kristen yang besar. Para pejabat di biro urusan agama setempat, departemen yang mengatur gereja Katolik dan markas polisi mengatakan mereka tidak mengetahui situasi terkait Shao dan menolak menyebutkan nama mereka.

Hilangnya Shao seiring sebuah terobosan kesepakatan untuk memberi China beberapa pernyataan mengenai penunjukan uskup di mana kritikus menyebutnya di bawah tekanan ke dalam partai yang berkuasa seperti melancarkan tindakan keras terhadap agama. Yang lain menggambarkannya sebagai langkah yang tidak sempurna tetapi sangat dibutuhkan untuk menyatukan umat Katolik di negara paling padat di dunia itu.

Vatikan telah lama berharap untuk menyatukan 12 juta umat Katolik China yang dibagi antara mereka yang beribadah di gereja-gereja yang direstui negara dan para imam bawah tanah serta umat paroki yang setia kepada Paus, yang sering ditahan dan dilecehkan.

Rincian perjanjian September lalu belum dirilis, meskipun analis mengatakan Vatikan akan mempertahankan kekuatan untuk mengajukan kandidat sementara Beijing kemungkinan akan memiliki hak untuk menolak mereka.

Langkah-langkah itu dilihat sebagai konsesi di pihak Vatikan dalam menghadapi pernyataan Beijing yang tidak akan memungkinkan "pasukan asing" untuk mengatur kelompok-kelompok agama di negara itu. Di bawah presiden dan pemimpin Partai Komunis Xi Jinping, pihak berwenang dalam beberapa bulan terakhir telah menindak keras orang-orang Protestan, Katolik, Muslim dan Buddha atas nama keamanan nasional dan "Sinosisasi" agama.
(ian)
Berita Terkait
Sinifikasi Agama di...
Sinifikasi Agama di China Menguat, Gereja Katolik Patriotik Jadi Sorotan
Putin dan Netanyahu...
Putin dan Netanyahu Absen di Pemakaman Paus Fransiskus, Beijing Tetap Bungkam, Kenapa?
Negara-negara yang Mengakui...
Negara-negara yang Mengakui Taiwan
Menengok Laboratorium...
Menengok Laboratorium Restorasi Lukisan di Museum Vatikan
Kardinal Kunci Vatikan...
Kardinal Kunci Vatikan Mendadak Resign di Tengah Skandal Keuangan
5 Fakta Paus Fransiskus,...
5 Fakta Paus Fransiskus, Pertama dari Luar Eropa sejak 1.200 Tahun
Berita Terkini
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
33 menit yang lalu
Oman dan Iran Bentuk...
Oman dan Iran Bentuk Kelompok Kerja Bersama untuk Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
1 jam yang lalu
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
2 jam yang lalu
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
10 jam yang lalu
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
11 jam yang lalu
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
12 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved