Tragedi Lion Air JT610, Boeing Dianggap 'Rahasiakan' Fitur Keselamatan

Rabu, 14 November 2018 - 00:19 WIB
Tragedi Lion Air JT610,...
Tragedi Lion Air JT610, Boeing Dianggap 'Rahasiakan' Fitur Keselamatan
A A A
WASHINGTON - Dua serikat pilot Amerika Serikat (AS) mengecam pihak Boeing karena gagal menjelaskan dengan benar fitur keselamatan 737 Max di manual pesawat. Tindakan "merahasiakan" fitur itu dianggap berkontribusi pada tragedi jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di perairan Karawang, Indonesia.

Pesawat pembawa 189 orang itu jatuh pada 29 Oktober 2018. Tak ada yang selamat dalam penerbangan tersebut.

Menurut Federal Aviation Administration (FAA) AS dan Boeing, fitur keselamatan baru pada pesawat Lion Air tersebut tidak berfungsi. Dalam investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), alat sensor "angle of attack" pada pesawat Lion Air JT610 itu diganti sehari sebelum pesawat jatuh.

Para pilot AS menyatakan apa yang harus dilakukan jika fitur keselamatan malfungsi, tidak ada dalam manual pesawat.

"Perusahaan-perusahaan dan para pilot seharusnya diberitahu," kata Jon Weaks, presiden Asosiasi Pilot Maskapai Penerbangan Barat, kepada Bloomberg, Selasa (13/11/2018).

“Itu membuat kita bertanya, 'Apakah itu segalanya, kawan?' Saya berharap tidak ada lagi kejutan di luar sana," ujarnya.

Pengawasan tersebut telah dikoreksi oleh Boeing, tetapi tidak pada waktunya untuk berpotensi membantu pilot penerbangan Lion Air yang nahas itu.

Sebelumnya pada bulan November, Boeing mengeluarkan pembaruan keselamatan untuk pilot yang menerbangkan pesawat 737 MAX. Perusahaan itu memperingatkan kemungkinan kesalahan dalam sensor yang dapat mengirim pesawat ke titik nukleat yang mematikan.
Sensor itu mengukur aliran udara di atas sayap pesawat, tetapi kegagalannya dapat menyebabkan stan aerodinamis.

FAA juga mengeluarkan sejumlah pembaruan keselamatan setelah kecelakaan Lion Air JT610.

Dennis Tajer, seorang kapten 737 dan juru bicara Asosiasi Pilot di American Airlines Group Inc., mengatakan anggota serikatnya juga prihatin.

"Ini bukan tentang silo dan lapisan birokrasi, ini tentang mengetahui pesawat Anda," kata Tajer. "Kami akan selalu bersemangat dan agresif dalam mendapatkan pengetahuan tentang pesawat baru."
(mas)
Berita Terkait
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Khawatir Agresivitas...
Khawatir Agresivitas China, Amerika Serikat Dekati Indonesia
Amerika Serikat Dukung...
Amerika Serikat Dukung Indonesia Jadi Anggota FATF
Perbandingan Kekuatan...
Perbandingan Kekuatan Militer Amerika Serikat Vs Indonesia
BRICS Menambah Indonesia,...
BRICS Menambah Indonesia, Waspadai Ancaman Amerika Serikat
Berita Terkini
Kenapa Perdamaian Iran...
Kenapa Perdamaian Iran Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan?
1 jam yang lalu
Selat Hormuz Tak Akan...
Selat Hormuz Tak Akan Lagi seperti Dulu, Ini 3 Alasannya
4 jam yang lalu
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
6 jam yang lalu
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
8 jam yang lalu
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
8 jam yang lalu
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
9 jam yang lalu
Infografis
Beragam Manfaat Air...
Beragam Manfaat Air Rebusan Daun Kelor untuk Kesehatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved