Duo Korea Mulai Lucuti Semua Senjata di Perbatasan
Jum'at, 26 Oktober 2018 - 01:29 WIB
Duo Korea Mulai Lucuti Semua Senjata di Perbatasan
A
A
A
SEOUL - Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) telah melucuti semua senjata dan amunisi dari Daerah Keamanan Bersama (JSA). JSA adalah tempat di antara kedua Korea di mana tentara dari kedua negara saling berhadapan dan bersiap siaga.
Lewat langkah simbolis ini, Presiden Korsel Moon Jae-in dan pemimpin Korut Kim Jong-un berharap akan mengurangi ketegangan antara Seoul dan Pyongyang seperti dikutip dari CNN, Jumat (26/10/2018).
JSA, yang juga dikenal sebagai desa gencatan senjata Panmunjom, telah lama dianggap sebagai salah satu perbatasan paling berbahaya di planet ini. Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton pernah menyebutnya sebagai "tempat paling menakutkan di bumi."
Moon dan Kim keluar untuk mengubahnya. Mereka mengadakan pertemuan pertama mereka di JSA - di mana setiap pemimpin secara simbolis melintasi garis demarkasi militer yang melintasi desa - dan bersumpah untuk mengubah seluruh zona demiliterisasi (DMZ) yang membagi Korut dan Korsel menjadi apa yang mereka sebut "zona damai."
Untuk itu, kedua Korea dan Komando PBB yang mengelola bagian selatan DMZ mengumumkan bahwa mereka telah memindahkan semua ranjau dari wilayah tersebut dan menarik semua pos penjagaan, senjata api serta amunisi dari JSA sebagai bagian dari kesepakatan yang dicapai antara Moon dan Kim bulan lalu di Pyongyang, pertemuan tatap muka ketiga mereka tahun ini.
"Sejak operasi pembersihan dan penggalian dimulai pada awal Oktober, 14 ranjau darat, 187 bahan peledak dan sisa-sisa jasad dua tentara telah digali," menurut Kementerian Pertahanan Korsel.
"Pemeriksaan DNA akan menentukan identitas para prajurit, tetapi tim penggalian yakin mereka adalah orang Korsel berdasarkan tanda pengenal yang ditemukan di dekatnya," sambung kementerian itu.
Kedua belah pihak selanjutnya diharapkan untuk menarik apa yang mereka sebut peralatan pengawasan yang tidak perlu dan memasang peralatan pengawasan yang diperlukan melalui konsultasi, dan berbagi informasi terkait satu sama lain.
Kedua pihak akan memverifikasi bahwa mereka telah dilucuti di JSA pada hari Jumat dan Sabtu.
Daerah itu sekarang akan dikelola oleh 70 personel tak bersenjata - 35 dari Korut dan 35 lainnya dari Korsel dan Komando PBB.
JSA adalah salah satu peninggalan terakhir dari Perang Dingin. Tahun lalu, seorang tentara Korut diberonding tembakan oleh rekan-rekannya saat melesat ke bagian DMZ yang dikelola oleh Korsel dalam upaya pembelotan yang tertangkap kamera.
Perubahan dalam JSA terjadi setelah satu tahun cairnya hubungan antara Korut, Korsel dan musuh terbesarnya, AS. Kim dan Presiden AS Donald Trump berjanji untuk membentuk hubungan baru yang damai antara kedua negara selama pertemuan puncak bersejarah di Singapura. Ini adalah pertemuan pertama antara para pemimpin AS dan Korut. Pertemuan tersebut merupakan sebuah perubahan peristiwa yang dramatis mengingat kedua pemimpin saling mengancam dengan perang nuklir pada tahun 2017.
Trump mengatakan pertemuan lain antara kedua pemimpin akan terjadi setelah pemilihan paruh waktu AS pada bulan November mendatang.
Lewat langkah simbolis ini, Presiden Korsel Moon Jae-in dan pemimpin Korut Kim Jong-un berharap akan mengurangi ketegangan antara Seoul dan Pyongyang seperti dikutip dari CNN, Jumat (26/10/2018).
JSA, yang juga dikenal sebagai desa gencatan senjata Panmunjom, telah lama dianggap sebagai salah satu perbatasan paling berbahaya di planet ini. Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton pernah menyebutnya sebagai "tempat paling menakutkan di bumi."
Moon dan Kim keluar untuk mengubahnya. Mereka mengadakan pertemuan pertama mereka di JSA - di mana setiap pemimpin secara simbolis melintasi garis demarkasi militer yang melintasi desa - dan bersumpah untuk mengubah seluruh zona demiliterisasi (DMZ) yang membagi Korut dan Korsel menjadi apa yang mereka sebut "zona damai."
Untuk itu, kedua Korea dan Komando PBB yang mengelola bagian selatan DMZ mengumumkan bahwa mereka telah memindahkan semua ranjau dari wilayah tersebut dan menarik semua pos penjagaan, senjata api serta amunisi dari JSA sebagai bagian dari kesepakatan yang dicapai antara Moon dan Kim bulan lalu di Pyongyang, pertemuan tatap muka ketiga mereka tahun ini.
"Sejak operasi pembersihan dan penggalian dimulai pada awal Oktober, 14 ranjau darat, 187 bahan peledak dan sisa-sisa jasad dua tentara telah digali," menurut Kementerian Pertahanan Korsel.
"Pemeriksaan DNA akan menentukan identitas para prajurit, tetapi tim penggalian yakin mereka adalah orang Korsel berdasarkan tanda pengenal yang ditemukan di dekatnya," sambung kementerian itu.
Kedua belah pihak selanjutnya diharapkan untuk menarik apa yang mereka sebut peralatan pengawasan yang tidak perlu dan memasang peralatan pengawasan yang diperlukan melalui konsultasi, dan berbagi informasi terkait satu sama lain.
Kedua pihak akan memverifikasi bahwa mereka telah dilucuti di JSA pada hari Jumat dan Sabtu.
Daerah itu sekarang akan dikelola oleh 70 personel tak bersenjata - 35 dari Korut dan 35 lainnya dari Korsel dan Komando PBB.
JSA adalah salah satu peninggalan terakhir dari Perang Dingin. Tahun lalu, seorang tentara Korut diberonding tembakan oleh rekan-rekannya saat melesat ke bagian DMZ yang dikelola oleh Korsel dalam upaya pembelotan yang tertangkap kamera.
Perubahan dalam JSA terjadi setelah satu tahun cairnya hubungan antara Korut, Korsel dan musuh terbesarnya, AS. Kim dan Presiden AS Donald Trump berjanji untuk membentuk hubungan baru yang damai antara kedua negara selama pertemuan puncak bersejarah di Singapura. Ini adalah pertemuan pertama antara para pemimpin AS dan Korut. Pertemuan tersebut merupakan sebuah perubahan peristiwa yang dramatis mengingat kedua pemimpin saling mengancam dengan perang nuklir pada tahun 2017.
Trump mengatakan pertemuan lain antara kedua pemimpin akan terjadi setelah pemilihan paruh waktu AS pada bulan November mendatang.
(ian)