Pasukan AS akan Terus Bercokol di Suriah selama Iran di Sana

Selasa, 25 September 2018 - 08:00 WIB
Pasukan AS akan Terus...
Pasukan AS akan Terus Bercokol di Suriah selama Iran di Sana
A A A
NEW YORK - Pasukan Amerika Serikat (AS) akan tetap berada di Suriah selama pasukan Iran beroperasi di negara Bashar al-Assad tersebut. Hal itu disampaikan Penasihat Keamanan Nasional Presiden Donald Trump, John Bolton.

Rezim Assad mengundang Iran untuk membantu memerangi kelompok pemberontak dan ISIS. Sebaliknya, rezim Assad mencela kehadiran pasukan AS sebagai tindakan ilegal.

"Kami tidak akan pergi selama pasukan Iran berada di luar perbatasan Iran, dan itu termasuk proxy dan milisi Iran," kata Bolton kepada wartawan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada hari Senin.

Bolton menyalahkan Iran karena serangannya di Suriah dan Lebanon. Dia juga mengecam perilaku Suriah yang tidak bertanggung jawab atas penembakan pesawat Rusia pekan lalu.

Rusia sendiri tidak menyalahkan Suriah meski sistem rudal S-200 Damaskus menembak jatuh pesawat mata-mata Il-20 yang menewaskan 15 tentara Moskow. Sebaliknya, Moskow menyalahkan Israel karena menjadikan pesawat Il-20 sebagai tameng jet tempur F-16 Tel Aviv dari respons S-200 Suriah selama insiden di Latakia.

Lebih lanjut Bolton mengkritik keras Moskow karena memutuskan untuk memasok sistem rudal S-300 kepada Suriah sebagai tanggapan Rusia atas insiden pesawat Il-20.

"Kami pikir memperkenalkan S-300 ke pemerintah Suriah akan menjadi eskalasi signifikan oleh Rusia," kata Bolton."Dan sesuatu yang kami harap, jika laporan pers ini akurat, mereka akan mempertimbangkan kembali (keputusannya)," katanya, seperti dikutip Reuters, Selasa (25/9/2018).

Dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Senin, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan keputusan untuk memasok sistem rudal S-300 kepada Suriah bertujuan untuk mencegah ancaman potensial terhadap kehidupan prajurit Rusia yang berada dalam misi untuk memerangi terorisme internasional.

Di masa lalu, Moskow membatalkan penjualan sistem rudal S-300 kepada Suriah karena ada keberatan dari AS dan Israel. Moskow selama ini juga mentoleransi sejumlah serangan udara Israel terhadap pemerintah Suriah.

Namun, insiden jatuhnya pesawat Il-20 telah membuat sikap Moskow berubah kepada Tel Aviv. Moskow tidak terima dengan penjelasan Tel Aviv yang menyalahkan Damaskus. Moskow menyimpulkan kesalahan itu sepenuhnya ada di pihak Israel.

Menteri Pertahanan AS James Mattis mengklaim tentara Washington berada di Suriah untuk memerangi kelompok ISIS.

"Kami berada di Suriah sekarang untuk mengalahkan ISIS dan menghancurkan 'kekhalifahan' secara geografis dan memastikan (kelompok) itu tidak kembali saat kita berpaling," kata Mattis kepada wartawan di Pentagon pada hari Senin.
(mas)
Berita Terkait
John Kerry Bantah Bocorkan...
John Kerry Bantah Bocorkan Serangan Israel ke Menlu Iran
Perkuat Pengaruh, Iran...
Perkuat Pengaruh, Iran Siap Bantu Rekonstruksi Suriah
Israel Disebut Diam-diam...
Israel Disebut Diam-diam Koordinasikan Serangan Udara di Suriah dengan AS
Iran Ungkap Serangan...
Iran Ungkap Serangan Pemberontak di Suriah Konspirasi AS dan Israel
Kedubes Amerika Serikat...
Kedubes Amerika Serikat di Tel Aviv Dibombardir Rudal Iran
Adu Kekuatan Militer...
Adu Kekuatan Militer Iran-Rusia vs Israel-Amerika Serikat, Siapa Lebih Unggul?
Berita Terkini
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
47 menit yang lalu
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
2 jam yang lalu
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
4 jam yang lalu
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
5 jam yang lalu
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Israel, IDF Bombardir Lebanon
5 jam yang lalu
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
6 jam yang lalu
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved