Disebut Ingin Habisi Assad, Trump: Pembohongan Publik!
Rabu, 05 September 2018 - 16:13 WIB
Disebut Ingin Habisi Assad, Trump: Pembohongan Publik!
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengutuk buku yang ditulis wartawan Watergate terkenal Bob Woodward. Pasalnya, dalam buku itu, Woodward menyebut Trump pernah merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Buku berjudul Fear: Trump in the White House yang akan dirilis Selasa depan itu mengklaim Presiden Trump memerintahkan pembunuhan Presiden Suriah Bashar Al Assad. Perintah itu dikeluarkan setelah rezim Suriah diduga melancarkan serangan senjata kimia pada April 2017.
Menurut Woodward, Trump memanggil Menteri Pertahanan James Mattis dan memerintahkan Mattis untuk membunuh Assad segera setelah mengetahui serangan itu setidaknya menewaskan 80 orang.
“Mari kita bunuh dia! Ayo kita lakukan. Mari kita bunuh lebih banyak dari mereka,” ujar Trump kepada Mattis.
Menteri Pertahanan mengatakan kepada Presiden bahwa dia akan melakukannya, tetapi ketika dia menutup telepon, dia memberi tahu ajudannya: “Kami tidak akan melakukan semua itu. Kami akan jauh lebih banyak pertimbangan.”
Kutipan dari buku baru itu juga mengklaim bahwa Trump mengolok-olok Jaksa Agung, Jeff Sessions, yang diduga memanggilnya “Orang Selatan yang bodoh” yang “terbelakang mental”. Woodward juga mengklaim bahwa kepala staf Jenderal John Kelly menyebut Trump sebagai "idiot".
Namun pemerintahan Trump ramai-ramai membantah klaim-klaim tersebut. Sejumlah pernyataan dikeluarkan Kepala Staf Jenderal Kelly, Menteri Pertahanan Mattis, dan Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders dengan menyebut klaim-klaim tersebut sebagai sebuah kebohongan.
"Gagasan yang pernah saya sebut Presiden idiot itu tidak benar. Sebenarnya justru sebaliknya," kata Kelly.
Mattis menyebut kutipan yang diatributkan kepadanya sebagai fiksi dan produk imajinasi seseorang.
“Kata-kata penghinaan tentang Presiden yang dikaitkan dengan saya dalam buku Woodward tidak pernah diucapkan oleh saya atau di hadapan saya. Meskipun saya umumnya suka membaca fiksi, ini adalah literatur merek Washington yang unik, dan sumber anonimnya tidak meminjamkan kredibilitas,” kata Mattis seperti dikutip dari Arutz Sheva, Rabu (5/9/2018).
Sementara Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders merilis sebuah pernyataan yang menyebut klaim tersebut sebagai cerita palsu. Sanders pun menyalahkan mantan karyawan yang tidak puas.
Presiden Trump secara pribadi menjawab tudingan di buku itu dalam serangkaian tweet. Ia menyebut buku itu sebagai pembohongan publik.
“Buku Woodward telah disangkal dan didiskreditkan oleh Jenderal (Menteri Pertahanan) James Mattis dan Jendral (Kepala Staf) John Kelly. Kutipan terhadap pernyataan mereka adalah penipuan, pembohongan publik. Demikian juga cerita dan kutipan lainnya. Woodward adalah detektif Demokrat? Waktu akan memberitahu?" tweet Trump.
“Buku Woodward yang sudah terdiskreditkan, begitu banyak kebohongan dan sumber palsu, saya telah memanggil Jeff Sessions "keterbelakangan mental" dan "orang selatan yang bodoh." Saya berkata TIDAK BAIK, tidak pernah menggunakan istilah itu pada siapa pun, termasuk Jeff, dan menjadi orang selatan adalah hal yang bagus. Dia membuat ini untuk memecah belah!” demikian tweet Trump.
Buku berjudul Fear: Trump in the White House yang akan dirilis Selasa depan itu mengklaim Presiden Trump memerintahkan pembunuhan Presiden Suriah Bashar Al Assad. Perintah itu dikeluarkan setelah rezim Suriah diduga melancarkan serangan senjata kimia pada April 2017.
Menurut Woodward, Trump memanggil Menteri Pertahanan James Mattis dan memerintahkan Mattis untuk membunuh Assad segera setelah mengetahui serangan itu setidaknya menewaskan 80 orang.
“Mari kita bunuh dia! Ayo kita lakukan. Mari kita bunuh lebih banyak dari mereka,” ujar Trump kepada Mattis.
Menteri Pertahanan mengatakan kepada Presiden bahwa dia akan melakukannya, tetapi ketika dia menutup telepon, dia memberi tahu ajudannya: “Kami tidak akan melakukan semua itu. Kami akan jauh lebih banyak pertimbangan.”
Kutipan dari buku baru itu juga mengklaim bahwa Trump mengolok-olok Jaksa Agung, Jeff Sessions, yang diduga memanggilnya “Orang Selatan yang bodoh” yang “terbelakang mental”. Woodward juga mengklaim bahwa kepala staf Jenderal John Kelly menyebut Trump sebagai "idiot".
Namun pemerintahan Trump ramai-ramai membantah klaim-klaim tersebut. Sejumlah pernyataan dikeluarkan Kepala Staf Jenderal Kelly, Menteri Pertahanan Mattis, dan Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders dengan menyebut klaim-klaim tersebut sebagai sebuah kebohongan.
"Gagasan yang pernah saya sebut Presiden idiot itu tidak benar. Sebenarnya justru sebaliknya," kata Kelly.
Mattis menyebut kutipan yang diatributkan kepadanya sebagai fiksi dan produk imajinasi seseorang.
“Kata-kata penghinaan tentang Presiden yang dikaitkan dengan saya dalam buku Woodward tidak pernah diucapkan oleh saya atau di hadapan saya. Meskipun saya umumnya suka membaca fiksi, ini adalah literatur merek Washington yang unik, dan sumber anonimnya tidak meminjamkan kredibilitas,” kata Mattis seperti dikutip dari Arutz Sheva, Rabu (5/9/2018).
Sementara Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders merilis sebuah pernyataan yang menyebut klaim tersebut sebagai cerita palsu. Sanders pun menyalahkan mantan karyawan yang tidak puas.
Presiden Trump secara pribadi menjawab tudingan di buku itu dalam serangkaian tweet. Ia menyebut buku itu sebagai pembohongan publik.
“Buku Woodward telah disangkal dan didiskreditkan oleh Jenderal (Menteri Pertahanan) James Mattis dan Jendral (Kepala Staf) John Kelly. Kutipan terhadap pernyataan mereka adalah penipuan, pembohongan publik. Demikian juga cerita dan kutipan lainnya. Woodward adalah detektif Demokrat? Waktu akan memberitahu?" tweet Trump.
“Buku Woodward yang sudah terdiskreditkan, begitu banyak kebohongan dan sumber palsu, saya telah memanggil Jeff Sessions "keterbelakangan mental" dan "orang selatan yang bodoh." Saya berkata TIDAK BAIK, tidak pernah menggunakan istilah itu pada siapa pun, termasuk Jeff, dan menjadi orang selatan adalah hal yang bagus. Dia membuat ini untuk memecah belah!” demikian tweet Trump.
(ian)