Pria Inggris Dipenjara Seumur Hidup karena Ingin Habisi PM May
Sabtu, 01 September 2018 - 00:29 WIB
Pria Inggris Dipenjara Seumur Hidup karena Ingin Habisi PM May
A
A
A
LONDON - Seorang pria Inggris dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena berencana untuk membunuh Perdana Menteri Theresa May. Pria itu rencananya akan meledakkan peledak untuk masuk ke kantor PM Inggris di Downing Street dan kemudian menggunakan pisau atau senjata untuk menyerangnya.
Menurut polisi, Naa’imur Rahman (21) berencana meledakkan alat peledak rakitan di gerbang Downing Street yang dijaga ketat. Ia akan memanfaatkan kekacauan karena insiden itu untuk mendapatkan akses ke kantor May dan membunuhnya.
Dia dinyatakan bersalah bulan lalu karena mempersiapkan diri untuk melakukan tindakan terorisme. Pengadilan Old Bailey London memvonisnya penjara seumur hidup dan akan menjalani 30 tahun penjara.
“Target Rahman adalah perdana menteri tetapi dia tidak ragu untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah dalam proses mencapai dia,” kata Dean Haydon, Koordinator Nasional Senior untuk Counter Terrorism Inggris.
"Pada satu titik dia mengatakan kepada petugas anti terorisme rahasia bahwa bahkan jika dia tidak bisa mencapai Perdana Menteri, dia hanya ingin membuat orang-orang menjadi ketakutan," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (1/9/2018)
Ketika ia menyusun rencana itu, Rahman yakin ia berhubungan secara online dengan anggota kelompok militan Negara Islam (IS). Namun, ia sebenarnya berbicara dengan petugas yang menyamar dari Biro Investigasi Federal AS (FBI) dan agen mata-mata domestik MI5 Inggris.
Ia ditangkap November lalu tidak lama setelah secara tidak sengaja menemui polisi yang menyamar dan mengumpulkan apa yang dia yakini sebagai bom rakitan tetapi kenyataannya adalah replika yang tidak berbahaya.
Setelah menyatakan bersalah pada bulan Juli, polisi mengatakan Rahman telah melakukan kontak dengan pamannya yang telah melakukan perjalanan ke Suriah dan bergabung dengan IS. Pamanyalah yang telah mendorong Rahman untuk melakukan serangan di Inggris.
Rahman telah merencanakan untuk melakukan serangan selama dua tahun tetapi tekadnya menjadi bulat ketika dia mendengar bahwa pamannya telah tewas dalam serangan pesawat tak berawak.
Inggris berada pada level ancaman tertinggi kedua dengan serangan yang dianggap sangat mungkin. Tahun lalu, ada empat serangan mematikan dan kepala MI5 mengatakan pada bulan Mei bahwa 12 plot serangan telah digagalkan sejak yang pertama pada Maret 2017.
Awal bulan ini, seorang pria dituduh melakukan percobaan pembunuhan setelah sebuah mobil yang dikendarainya ditabrakkan ke orang-orang dan penghalang di parlemen London. Polisi mengatakan insiden itu diperlakukan sebagai aksi terorisme.
Menurut polisi, Naa’imur Rahman (21) berencana meledakkan alat peledak rakitan di gerbang Downing Street yang dijaga ketat. Ia akan memanfaatkan kekacauan karena insiden itu untuk mendapatkan akses ke kantor May dan membunuhnya.
Dia dinyatakan bersalah bulan lalu karena mempersiapkan diri untuk melakukan tindakan terorisme. Pengadilan Old Bailey London memvonisnya penjara seumur hidup dan akan menjalani 30 tahun penjara.
“Target Rahman adalah perdana menteri tetapi dia tidak ragu untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah dalam proses mencapai dia,” kata Dean Haydon, Koordinator Nasional Senior untuk Counter Terrorism Inggris.
"Pada satu titik dia mengatakan kepada petugas anti terorisme rahasia bahwa bahkan jika dia tidak bisa mencapai Perdana Menteri, dia hanya ingin membuat orang-orang menjadi ketakutan," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (1/9/2018)
Ketika ia menyusun rencana itu, Rahman yakin ia berhubungan secara online dengan anggota kelompok militan Negara Islam (IS). Namun, ia sebenarnya berbicara dengan petugas yang menyamar dari Biro Investigasi Federal AS (FBI) dan agen mata-mata domestik MI5 Inggris.
Ia ditangkap November lalu tidak lama setelah secara tidak sengaja menemui polisi yang menyamar dan mengumpulkan apa yang dia yakini sebagai bom rakitan tetapi kenyataannya adalah replika yang tidak berbahaya.
Setelah menyatakan bersalah pada bulan Juli, polisi mengatakan Rahman telah melakukan kontak dengan pamannya yang telah melakukan perjalanan ke Suriah dan bergabung dengan IS. Pamanyalah yang telah mendorong Rahman untuk melakukan serangan di Inggris.
Rahman telah merencanakan untuk melakukan serangan selama dua tahun tetapi tekadnya menjadi bulat ketika dia mendengar bahwa pamannya telah tewas dalam serangan pesawat tak berawak.
Inggris berada pada level ancaman tertinggi kedua dengan serangan yang dianggap sangat mungkin. Tahun lalu, ada empat serangan mematikan dan kepala MI5 mengatakan pada bulan Mei bahwa 12 plot serangan telah digagalkan sejak yang pertama pada Maret 2017.
Awal bulan ini, seorang pria dituduh melakukan percobaan pembunuhan setelah sebuah mobil yang dikendarainya ditabrakkan ke orang-orang dan penghalang di parlemen London. Polisi mengatakan insiden itu diperlakukan sebagai aksi terorisme.
(ian)