Suu Kyi Sebut Terorisme di Rakhine Ancaman Bagi Kawasan
Selasa, 21 Agustus 2018 - 16:08 WIB
Suu Kyi Sebut Terorisme di Rakhine Ancaman Bagi Kawasan
A
A
A
SINGAPURA - Terorisme tetap menjadi ancaman di negara bagian Rakhine, Myanmar, dan dapat menjadi konsekuensi serius bagi kawasan itu. Hal itu dikatakan oleh pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi.
"Bahaya kegiatan teroris, yang merupakan penyebab awal peristiwa yang menyebabkan krisis kemanusiaan di Rakhine tetap nyata dan hadir hari ini," katanya dalam sebuah ceramah di Singapura.
"Kalau tantangan keamanan ini tidak ditangani, risiko kekerasan antar komunal akan tetap ada. Ini adalah ancaman yang dapat menimbulkan konsekuensi serius, bukan hanya untuk Myanmar tetapi juga untuk negara-negara lain di kawasan kami dan sekitarnya," imbuh Suu Kyi seperti dikutip dari Reuters, Selasa (21/8/2018).
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian, yang pernah dilihat sebagai wajah perjuangan Myanmar untuk demokrasi, telah dikritik karena kegagalannya untuk berbicara menentang tindakan militer terhadap Muslim Rohingya di Rakhine utara yang oleh PBB disebut "pembersihan etnis".
Selama setahun terakhir, lebih dari 700 ribu Muslim Rohingya telah melarikan diri dari negara mayoritas Buddha itu ke negara tetangga Bangladesh. Eksodus itu menyusul aksi balasan militer terhadap serangan ke pos keamanan oleh gerilyawan Rohingya.
Myanmar menolak tuduhan pembersihan etnis dan mengabaikan sebagian besar kekejaman. Sebaliknya mereka menyalahkan "teroris" Rohingya.
"Bahaya kegiatan teroris, yang merupakan penyebab awal peristiwa yang menyebabkan krisis kemanusiaan di Rakhine tetap nyata dan hadir hari ini," katanya dalam sebuah ceramah di Singapura.
"Kalau tantangan keamanan ini tidak ditangani, risiko kekerasan antar komunal akan tetap ada. Ini adalah ancaman yang dapat menimbulkan konsekuensi serius, bukan hanya untuk Myanmar tetapi juga untuk negara-negara lain di kawasan kami dan sekitarnya," imbuh Suu Kyi seperti dikutip dari Reuters, Selasa (21/8/2018).
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian, yang pernah dilihat sebagai wajah perjuangan Myanmar untuk demokrasi, telah dikritik karena kegagalannya untuk berbicara menentang tindakan militer terhadap Muslim Rohingya di Rakhine utara yang oleh PBB disebut "pembersihan etnis".
Selama setahun terakhir, lebih dari 700 ribu Muslim Rohingya telah melarikan diri dari negara mayoritas Buddha itu ke negara tetangga Bangladesh. Eksodus itu menyusul aksi balasan militer terhadap serangan ke pos keamanan oleh gerilyawan Rohingya.
Myanmar menolak tuduhan pembersihan etnis dan mengabaikan sebagian besar kekejaman. Sebaliknya mereka menyalahkan "teroris" Rohingya.
(ian)