Dewan HAM PBB Kecam Pembunuhan oleh Israel di Gaza
Selasa, 24 Juli 2018 - 12:04 WIB
Dewan HAM PBB Kecam Pembunuhan oleh Israel di Gaza
A
A
A
NEW YORK - Kepala Dewan HAM PBB, Zeid Ra'ad al Hussein, mengkritik tajam Israel. Ia menyebut pembunuhan oleh tentara Zionis selama aksi demonstrasi Palestina baru-baru ini di sepanjang perbatasan Gaza "mengejutkan."
Zeid mengatakan sangat penting untuk mengatasi akar penyebab demonstrasi Gaza. Aksi demonstrasi di Gaza telah menewaskan lebih dari 100 warga Palestina, termasuk 17 anak-anak, dan melukai lebih dari 4.100 orang.
Dalam sebuah pidato kepada Komite PBB tentang Pelaksanaan Hak-Hak yang tidak bisa Dicabut dari Rakyat Palestina, Zeid mengatakan bahwa situasi di Gaza telah meningkat secara dramatis dalam beberapa bulan terakhir dengan potensi untuk menghasilkan ancaman terhadap perdamaian di wilayah yang jauh lebih luas.
Dikatakan oleh Zeid bahwa penting bagi semua pihak untuk bekerja sama dengan komisi penyelidikan internasional yang independen terhadap peristiwa mematikan baru-baru ini di Gaza. Penyelidikan itu disahkan oleh Dewan Hak Asasi Manusia yang bermarkas di Jenewa pada 18 Mei untuk meningkatkan akuntabilitas atas pembunuhan dan pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional.
Zaid mengklaim bahwa ada keprihatinan serius terhadap mekanisme akuntabilitas Israel tidak sesuai dengan standar internasional yang independen, tidakberpihak, dan efektiv.
"Sangat sedikit investigasi yang pernah terjadi," katanya.
"Dalam kasus yang jarang terjadi di mana penyelidikan telah menyebabkan surat dakwaan, hukumannya sangat ringan mengingat beratnya kejahatan yang dilakukan," katanya seperti dikutip dari Times of Israel, Selasa (24/7/2018)
Sejak aksi protes yang terorganisasi dan bentrokan dimulai di sepanjang perbatasan Gaza pada 30 Maret, lebih dari 130 orang Palestina tewas oleh tembakan Israel. Puluhan korban jiwa adalah anggota kelompok Hamas dan Jihad Islam.
Israel mengatakan pasukannya membela perbatasan dan menuduh Hamas mencoba melakukan serangan teror di balik aksi protes.
Militer Israel mengatakan telah memaksa tentaranya mematuhi aturan keterlibatan untuk membela warga sipil Israel dan infrastruktur keamanan dari serangan yang ditutupi oleh aksi protes.
"Selain kondisi kehidupan yang sangat tidak memadai yang disebabkan oleh blokade Israel bagi penduduk Gaza, yang sebagian besar adalah pengungsi, tindakan pembatasan juga telah diberlakukan oleh Mesir yang memperburuk kondisi ini," urai Zeid.
Israel mengatakan pihaknya mempertahankan blokade untuk mencegah penguasa Gaza, Hamas, mengimpor persenjataan.
Zeid menambahkan bahwa situasi di Gaza mungkin diperparah dalam beberapa bulan mendatang oleh krisis keuangan yang dihadapi badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, sebagai akibat pemotongan dramatis untuk anggarannya oleh pemerintahan Trump.
Zeid mengatakan sangat penting untuk mengatasi akar penyebab demonstrasi Gaza. Aksi demonstrasi di Gaza telah menewaskan lebih dari 100 warga Palestina, termasuk 17 anak-anak, dan melukai lebih dari 4.100 orang.
Dalam sebuah pidato kepada Komite PBB tentang Pelaksanaan Hak-Hak yang tidak bisa Dicabut dari Rakyat Palestina, Zeid mengatakan bahwa situasi di Gaza telah meningkat secara dramatis dalam beberapa bulan terakhir dengan potensi untuk menghasilkan ancaman terhadap perdamaian di wilayah yang jauh lebih luas.
Dikatakan oleh Zeid bahwa penting bagi semua pihak untuk bekerja sama dengan komisi penyelidikan internasional yang independen terhadap peristiwa mematikan baru-baru ini di Gaza. Penyelidikan itu disahkan oleh Dewan Hak Asasi Manusia yang bermarkas di Jenewa pada 18 Mei untuk meningkatkan akuntabilitas atas pembunuhan dan pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional.
Zaid mengklaim bahwa ada keprihatinan serius terhadap mekanisme akuntabilitas Israel tidak sesuai dengan standar internasional yang independen, tidakberpihak, dan efektiv.
"Sangat sedikit investigasi yang pernah terjadi," katanya.
"Dalam kasus yang jarang terjadi di mana penyelidikan telah menyebabkan surat dakwaan, hukumannya sangat ringan mengingat beratnya kejahatan yang dilakukan," katanya seperti dikutip dari Times of Israel, Selasa (24/7/2018)
Sejak aksi protes yang terorganisasi dan bentrokan dimulai di sepanjang perbatasan Gaza pada 30 Maret, lebih dari 130 orang Palestina tewas oleh tembakan Israel. Puluhan korban jiwa adalah anggota kelompok Hamas dan Jihad Islam.
Israel mengatakan pasukannya membela perbatasan dan menuduh Hamas mencoba melakukan serangan teror di balik aksi protes.
Militer Israel mengatakan telah memaksa tentaranya mematuhi aturan keterlibatan untuk membela warga sipil Israel dan infrastruktur keamanan dari serangan yang ditutupi oleh aksi protes.
"Selain kondisi kehidupan yang sangat tidak memadai yang disebabkan oleh blokade Israel bagi penduduk Gaza, yang sebagian besar adalah pengungsi, tindakan pembatasan juga telah diberlakukan oleh Mesir yang memperburuk kondisi ini," urai Zeid.
Israel mengatakan pihaknya mempertahankan blokade untuk mencegah penguasa Gaza, Hamas, mengimpor persenjataan.
Zeid menambahkan bahwa situasi di Gaza mungkin diperparah dalam beberapa bulan mendatang oleh krisis keuangan yang dihadapi badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, sebagai akibat pemotongan dramatis untuk anggarannya oleh pemerintahan Trump.
(ian)