Para Istri Militan ISIS di Irak Ramai-ramai Ajukan Gugatan Cerai
Sabtu, 07 Juli 2018 - 17:21 WIB
Para Istri Militan ISIS di Irak Ramai-ramai Ajukan Gugatan Cerai
A
A
A
BAGHDAD - Ketika Umaima bertemu calon suaminya 13 tahun lalu, sang calon suami adalah seorang montir mobil. Hari ini, suaminya adalah teroris kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Setelah ISIS terusir dari banyak wilayah yang pernah mereka kuasai di Irak dan Suriah, Umaima bergabung dengan banyak istri militan yang mengajukan gugatan cerai.
Umaima mengatakan, itu bukan keputusan yang mudah. Komunitas di Irak, tempat dia tinggal, memandang rendah wanita yang bercerai. Dia juga sedih bahwa ketiga anaknya, yang berusia enam hingga 12 tahun, harus tumbuh tanpa seorang ayah.
"Saya masih kecewa karena saya menikah dengan seorang pria yang tidak menghargai hidupnya dan memutuskan untuk bergabung dengan kelompok teroris daripada mengurus keluarganya," kesal Umaima, yang kini mengandalkan dukungan orangtuanya ketika menjalani hidup sebagai ibu tunggal.
"Saya akan berusaha menjadi ayah mereka juga," lanjut Umaima.
Wakil Menteri Kehakiman Irak Hussein Jassem mengatakan, ada "peningkatan besar" dalam jumlah permintaan cerai selama tiga bulan terakhir di Irak. Sebagian besar diajukan oleh perempuan.
Pemerintah belum melacak jumlah perceraian yang berkaitan dengan ISIS. Namun, pengajuan gugatan cerai marak terjadi wilayah komunitas Muslim Sunni seperti Anbar dan Nineveh, lokasi yang pernah dikuasai ISIS.
Umaima mengatakan transformasi suaminya, Awad, terjadi pada 2010, setelah pasukan keamanan Irak menuduh saudaranya sebagai seorang militan dan menyiksanya dengan fatal.
"Suami saya marah dan dia bersumpah dia akan membalas dendam atas pembunuh saudaranya," kata Umaima kepada NBC News dalam sebuah wawancara telepon dari Fallujah, yang dikutip Sabtu (7/7/2018).
Seperti wanita lain yang NBC News wawancarai, Umaima diminta untuk diidentifikasi hanya dengan nama depannya karena takut distigmatisasi.
Menurut Umaima, Awad bergabung dengan ISIS setelah kelompok itu mengusai sebagian wilayah Irak pada tahun 2014. Awad kemudian ditangkap dan menghadapi hidup di penjara atau hukuman mati jika terbukti bersalah.
Meskipun perasaan emosional berkecamuk, Umaima mengatakan perceraian lebih baik daripada alternatif yang ada.
"Menjadi istri seorang teroris yang tidak menghormati saya atau keluarga saya dan itu tidak akan menghormati anak-anak saya," kata perempuan berusia 41 tahun itu.
Sementara beberapa komunitas Muslim Sunni konservatif, termasuk di mana para wanita dalam laporan ini tinggal, tidak mendukung perceraian. Perceraian dianggap sebagai "dosa" oleh sebagian komunitas di sana. Namun, baik pria maupun wanita dapat mengajukan permohonan cerai secara resmi melalui pengadilan.
Wanita Irak bebas untuk meminta cerai dengan berbagai alasan, termasuk jika suami mereka memperlakukan mereka dengan buruk atau sedang dihukum karena kejahatan.
Pasangan yang mengajukan cerai harus memberikan bukti yang mendukung klaim mereka, seperti pernyataan di bawah sumpah dari saksi. Sebuah kasus cerai yang tidak memerlukan pengacara, biasanya tidak mahal dan keputusan biasanya dikeluarkan sekitar sebulan setelah permohonan diajukan.
Menurut Belkis Wille, peneliti senior Irak untuk Human Rights Watch, seorang hakim di Mosul--kota terbesar kedua di negara itu dan bekas markas ISIS--melaporkan bahwa lusinan wanita sekarang berusaha membubarkan perkawinan mereka setiap minggu.
Menurut Wille, perceraian memungkinkan perempuan untuk menikah lagi dan menghapus "noda" lama yang memiliki mantan suami yang memberontak.
Stigma terkait dengan ISIS berlaku Irak. Sebuah laporan yang dirilis oleh Human Rights Watch yang bermarkas di New York awal tahun ini menyatakan bahwa beberapa keluarga yang ditahan di kamp-kamp pengungsi tidak dapat kembali ke komunitas mereka karena diduga berafiliasi dengan kelompok militan tersebut.
Pemerintah Irak juga telah mendorong publik untuk memberi informasi kepada pejabat tentang siapa saja yang merupakan pendukung ISIS agar mereka dapat diselidiki dan diadili. Jassem, Wakil Menteri Kehakiman Irak, mengatakan istri militan ISIS yang bekerja sama dengan kelompok teroris akan menghadapi tuntutan.
Fatima, 35, telah bergabung dengan jajaran perempuan yang ingin bercerai.
Dia mengaku terkejut ketika suaminya, Omar, bergabung dengan ISIS setelah bertugas sebagai tentara di tentara Irak sebelum invasi AS tahun 2003.
Menurut Fatima, Omar ditangkap tiga tahun lalu ketika pasukan keamanan membebaskan kota Tikrit dari militan ISIS.
"Saya takut dituduh bahwa saya mendukung terorisme, dan ini adalah salah satu alasan yang mendorong saya untuk meminta cerai," kata Fatima.
Perempuan lain, Shaima'a, berbagi keprihatinan semacam itu. Dia tidak tahu apakah suaminya bersembunyi, ditangkap atau tewas. Dia menikah dengan Abdulqader lima tahun lalu ketika dia memiliki sebuah supermarket di kota kecil mereka, Heet, barat laut Baghdad.
Namun, kata Shaima'a, Abdulqader terpikat oleh janji ISIS untuk menegakkan Islam "sejati". Menurutnya, sang suami akhirnya menyadari kesalahannya dan ingin meninggalkan kelompok itu. "Tapi dia tidak bisa melakukan itu karena mereka (ISIS) akan membunuhnya," ujar Shaima'a.
Abdulqader menghilang ketika pasukan Irak memulai kampanye serangan untuk membebaskan Heet. Sejak itu kabar pria tersebut tak diketahui. Shaima'a yang berusia 26 tahun mengaku ingin menikah lagi jika diberi kesempatan.
"Tidak semudah itu," kata Shaima'a."Saya tidak ingin menjalani sisa hidup saya sebagai istri tanpa suami."
Setelah ISIS terusir dari banyak wilayah yang pernah mereka kuasai di Irak dan Suriah, Umaima bergabung dengan banyak istri militan yang mengajukan gugatan cerai.
Umaima mengatakan, itu bukan keputusan yang mudah. Komunitas di Irak, tempat dia tinggal, memandang rendah wanita yang bercerai. Dia juga sedih bahwa ketiga anaknya, yang berusia enam hingga 12 tahun, harus tumbuh tanpa seorang ayah.
"Saya masih kecewa karena saya menikah dengan seorang pria yang tidak menghargai hidupnya dan memutuskan untuk bergabung dengan kelompok teroris daripada mengurus keluarganya," kesal Umaima, yang kini mengandalkan dukungan orangtuanya ketika menjalani hidup sebagai ibu tunggal.
"Saya akan berusaha menjadi ayah mereka juga," lanjut Umaima.
Wakil Menteri Kehakiman Irak Hussein Jassem mengatakan, ada "peningkatan besar" dalam jumlah permintaan cerai selama tiga bulan terakhir di Irak. Sebagian besar diajukan oleh perempuan.
Pemerintah belum melacak jumlah perceraian yang berkaitan dengan ISIS. Namun, pengajuan gugatan cerai marak terjadi wilayah komunitas Muslim Sunni seperti Anbar dan Nineveh, lokasi yang pernah dikuasai ISIS.
Umaima mengatakan transformasi suaminya, Awad, terjadi pada 2010, setelah pasukan keamanan Irak menuduh saudaranya sebagai seorang militan dan menyiksanya dengan fatal.
"Suami saya marah dan dia bersumpah dia akan membalas dendam atas pembunuh saudaranya," kata Umaima kepada NBC News dalam sebuah wawancara telepon dari Fallujah, yang dikutip Sabtu (7/7/2018).
Seperti wanita lain yang NBC News wawancarai, Umaima diminta untuk diidentifikasi hanya dengan nama depannya karena takut distigmatisasi.
Menurut Umaima, Awad bergabung dengan ISIS setelah kelompok itu mengusai sebagian wilayah Irak pada tahun 2014. Awad kemudian ditangkap dan menghadapi hidup di penjara atau hukuman mati jika terbukti bersalah.
Meskipun perasaan emosional berkecamuk, Umaima mengatakan perceraian lebih baik daripada alternatif yang ada.
"Menjadi istri seorang teroris yang tidak menghormati saya atau keluarga saya dan itu tidak akan menghormati anak-anak saya," kata perempuan berusia 41 tahun itu.
Sementara beberapa komunitas Muslim Sunni konservatif, termasuk di mana para wanita dalam laporan ini tinggal, tidak mendukung perceraian. Perceraian dianggap sebagai "dosa" oleh sebagian komunitas di sana. Namun, baik pria maupun wanita dapat mengajukan permohonan cerai secara resmi melalui pengadilan.
Wanita Irak bebas untuk meminta cerai dengan berbagai alasan, termasuk jika suami mereka memperlakukan mereka dengan buruk atau sedang dihukum karena kejahatan.
Pasangan yang mengajukan cerai harus memberikan bukti yang mendukung klaim mereka, seperti pernyataan di bawah sumpah dari saksi. Sebuah kasus cerai yang tidak memerlukan pengacara, biasanya tidak mahal dan keputusan biasanya dikeluarkan sekitar sebulan setelah permohonan diajukan.
Menurut Belkis Wille, peneliti senior Irak untuk Human Rights Watch, seorang hakim di Mosul--kota terbesar kedua di negara itu dan bekas markas ISIS--melaporkan bahwa lusinan wanita sekarang berusaha membubarkan perkawinan mereka setiap minggu.
Menurut Wille, perceraian memungkinkan perempuan untuk menikah lagi dan menghapus "noda" lama yang memiliki mantan suami yang memberontak.
Stigma terkait dengan ISIS berlaku Irak. Sebuah laporan yang dirilis oleh Human Rights Watch yang bermarkas di New York awal tahun ini menyatakan bahwa beberapa keluarga yang ditahan di kamp-kamp pengungsi tidak dapat kembali ke komunitas mereka karena diduga berafiliasi dengan kelompok militan tersebut.
Pemerintah Irak juga telah mendorong publik untuk memberi informasi kepada pejabat tentang siapa saja yang merupakan pendukung ISIS agar mereka dapat diselidiki dan diadili. Jassem, Wakil Menteri Kehakiman Irak, mengatakan istri militan ISIS yang bekerja sama dengan kelompok teroris akan menghadapi tuntutan.
Fatima, 35, telah bergabung dengan jajaran perempuan yang ingin bercerai.
Dia mengaku terkejut ketika suaminya, Omar, bergabung dengan ISIS setelah bertugas sebagai tentara di tentara Irak sebelum invasi AS tahun 2003.
Menurut Fatima, Omar ditangkap tiga tahun lalu ketika pasukan keamanan membebaskan kota Tikrit dari militan ISIS.
"Saya takut dituduh bahwa saya mendukung terorisme, dan ini adalah salah satu alasan yang mendorong saya untuk meminta cerai," kata Fatima.
Perempuan lain, Shaima'a, berbagi keprihatinan semacam itu. Dia tidak tahu apakah suaminya bersembunyi, ditangkap atau tewas. Dia menikah dengan Abdulqader lima tahun lalu ketika dia memiliki sebuah supermarket di kota kecil mereka, Heet, barat laut Baghdad.
Namun, kata Shaima'a, Abdulqader terpikat oleh janji ISIS untuk menegakkan Islam "sejati". Menurutnya, sang suami akhirnya menyadari kesalahannya dan ingin meninggalkan kelompok itu. "Tapi dia tidak bisa melakukan itu karena mereka (ISIS) akan membunuhnya," ujar Shaima'a.
Abdulqader menghilang ketika pasukan Irak memulai kampanye serangan untuk membebaskan Heet. Sejak itu kabar pria tersebut tak diketahui. Shaima'a yang berusia 26 tahun mengaku ingin menikah lagi jika diberi kesempatan.
"Tidak semudah itu," kata Shaima'a."Saya tidak ingin menjalani sisa hidup saya sebagai istri tanpa suami."
(mas)