RI Berharap Pertemuan Korut-Korsel Jadi Dasar Perdamaian Abadi di Semenanjung Korea
Jum'at, 27 April 2018 - 21:12 WIB
RI Berharap Pertemuan Korut-Korsel Jadi Dasar Perdamaian Abadi di Semenanjung Korea
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah Indonesia menyatakan menyambut baik pertemuan antara pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan (Korsel), Moon Jae-in. Indonesia berharap pertemuan ini jadi dasar untuk terciptanya perdamaian abadi di Semenanjung Korea.
"Indonesia telah mengikuti dengan seksama jalannya KTT Antar-Korea pada hari ini di perbatasan Korea Selatan dan Utara," kata Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi melalui akun Twitternya, seperti dikutip Sindonews pada Jumat (27/4).
"Indonesia menyambut baik hasil-hasil KTT Antar-Korea ini dan berharap dapat menjadi landasan kuat bagi perdamaian yang langgeng di Semenanjung Korea dan kesejahteraan bagi rakyat di kedua negara. Indonesia juga berharap KTT Antar-Korea akan menjadi awal dari terwujudnya kawasan bebas senjata nuklir di Semenanjung Korea," sambungnya.
Pertemuan antara Jong-un dan Jae-in ini sendiri menjadi sejarah, karena Jong-un menjadi pemimpin Korut pertama yang menyeberang dan menginjakkan kakinya di tanah Korsel sejak perang Korea 1953. Jong-un terlihat disambut Moon usai menyeberangi perbatasan dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tanah Korea Selatan.
Di akhir pertemuan bilateral, keduanya menandatangi sebuah deklarasi bersama. Dalam deklrasi itu keduanya menegaskan bahwa tidak akan ada lagi perang di Semenanjung Korea dan proses menuju babak baru yang penuh perdamaian di wilayah itu telah dimulai.
Jong-un dan Jae-in dalam deklarasi itu juga menyatakan sumpah bahwa mereka akan berupaya untuk membangun perdamaian permanen di Semenanjung Korea. Untuk secara resmi mengakhiri Perang Korea, kedua pemimpin juga sepakat untuk mendorong pembicaraan tiga arah atau empat arah yang melibatkan Amerika Serikat dan China.
Seperti diketahui, Korut dan Korsel sampai saat ini masih dalam status berperang. Pada tahun 1953, dia akhir Perang Korea, Amerika Serikat, yang mewakili Korsel dan dunia internasional, bersama dengan China dan Korut, menandatangi kesepakatan gencatan senjata, dan kesepakatan itu belum berubah sampai saat ini.
"Indonesia telah mengikuti dengan seksama jalannya KTT Antar-Korea pada hari ini di perbatasan Korea Selatan dan Utara," kata Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi melalui akun Twitternya, seperti dikutip Sindonews pada Jumat (27/4).
"Indonesia menyambut baik hasil-hasil KTT Antar-Korea ini dan berharap dapat menjadi landasan kuat bagi perdamaian yang langgeng di Semenanjung Korea dan kesejahteraan bagi rakyat di kedua negara. Indonesia juga berharap KTT Antar-Korea akan menjadi awal dari terwujudnya kawasan bebas senjata nuklir di Semenanjung Korea," sambungnya.
Pertemuan antara Jong-un dan Jae-in ini sendiri menjadi sejarah, karena Jong-un menjadi pemimpin Korut pertama yang menyeberang dan menginjakkan kakinya di tanah Korsel sejak perang Korea 1953. Jong-un terlihat disambut Moon usai menyeberangi perbatasan dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tanah Korea Selatan.
Di akhir pertemuan bilateral, keduanya menandatangi sebuah deklarasi bersama. Dalam deklrasi itu keduanya menegaskan bahwa tidak akan ada lagi perang di Semenanjung Korea dan proses menuju babak baru yang penuh perdamaian di wilayah itu telah dimulai.
Jong-un dan Jae-in dalam deklarasi itu juga menyatakan sumpah bahwa mereka akan berupaya untuk membangun perdamaian permanen di Semenanjung Korea. Untuk secara resmi mengakhiri Perang Korea, kedua pemimpin juga sepakat untuk mendorong pembicaraan tiga arah atau empat arah yang melibatkan Amerika Serikat dan China.
Seperti diketahui, Korut dan Korsel sampai saat ini masih dalam status berperang. Pada tahun 1953, dia akhir Perang Korea, Amerika Serikat, yang mewakili Korsel dan dunia internasional, bersama dengan China dan Korut, menandatangi kesepakatan gencatan senjata, dan kesepakatan itu belum berubah sampai saat ini.
(esn)