Analis NATO: Rusia Nyaman Gunakan Senjata Nuklir ketimbang Barat
Kamis, 26 April 2018 - 11:19 WIB
Analis NATO: Rusia Nyaman Gunakan Senjata Nuklir ketimbang Barat
A
A
A
WASHINGTON - Analis dari Atlantic Council, kelompok think tank NATO, menilai Rusia lebih bersedia untuk menjalankan risiko perang nuklir daripada Barat. Organisasi itu menyerikan NATO dan pimpinannya, Amerika Serikat (AS), mengalirkan lebih banyak uang untuk mengembangkan kemampuan barunya guna menghalangi agresi nuklir Moskow.
Penilaian itu muncul dalam sebuah diskusi panjang tentang persiapan perang nuklir dengan Rusia, yang rekaman video diskusinya diunggah di YouTube pada 24 April 2018. Panel dari Atlantic Council (Dewan Atlantik) berpendapat bahwa Rusia telah mengadopsi kebijakan "eskalasi menjadi de-eskalasi" yang menurunkan ambang batas untuk penggunaan senjata nuklir.
Namun, di bawah kebijakan itu, Rusia—menurut panel Atlantic Council—akan menanggapi serangan militer konvensional berskala besar dengan menggunakan respons nuklir secara terbatas untuk mencegah agresi lebih lanjut terhadap dirinya sendiri.
Matthew Kroenig, wakil direktur untuk strategi di Atlantic Council's Scowcroft Center for Strategy and Security, melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa Rusia "lebih nyaman menggunakan dan mengancam senjata nuklir" daripada Barat.
Kebijakan yang disebut "eskalasi menjadi de-eskalasi" Rusia juga pernah disebut dalam Nuclear Posture Review (NPR), dokumen doktrin nuklir terbaru dari administrasi Trump.
Atlantic Council Gedung Putih bersikeras menganggap bahwa Rusia mencari-cari alasan untuk menggunakan senjata nuklir. Namun, analis lain dari organisasi War on the Rocks, berpendapat bahwa Barat sebenarnya telah salah memahami kebijakan Rusia tentang penggunaan senjata nuklir.
Teori bahwa Rusia lebih bersedia menggunakan senjata nuklir diduga mengadopsi sebuah makalah yang diterbitkan dalam sebuah jurnal militer Rusia pada tahun 1999. Makalah itu menyarankan bahwa menggunakan senjata nuklir untuk melawan balik serangan konvensional mungkin akan memaksa agresor untuk mundur. Argumen yang sama telah dibuat juga oleh beberapa ahli Rusia di tahun-tahun belakangan ini.
Analis dari War on the Rocks menyatakan, kebijakan "eskalasi menjadi de-eskalasi" Rusia telah dibingkai di Barat, karena doktrin militer Rusia tahun 2014 menyatakan sebaliknya.
Doktrin militer Rusia 2014 tidak secara khusus menyerukan penggunaan senjata nuklir bahkan jika Moskow benar-benar kalah dalam pertempuran konvensional. Doktrin itu menyatakan bahwa senjata nuklir Rusia hanya digunakan sebagai tanggapan terhadap musuh yang menggunakan senjata nuklir atau senjata pemusnah massal lainnya terhadap Moskow atau sekutu-sekutunya, atau sebagai tanggapan terhadap agresi non-nuklir dalam kasus kelangsungan hidup Rusia terancam.
Argumen Kroenig yang menegaskan bahwa Rusia lebih nyaman mengancam untuk menggunakan senjata nuklir ketimbang Barat diduga mengacu pada komentar Presiden Vladimir Putin yang pernah menyatakan siap menempatkan senjata nuklirnya dalam kasus krisis Crimea tahun 2014, namun hal itu tidak terjadi.
Penilaian itu muncul dalam sebuah diskusi panjang tentang persiapan perang nuklir dengan Rusia, yang rekaman video diskusinya diunggah di YouTube pada 24 April 2018. Panel dari Atlantic Council (Dewan Atlantik) berpendapat bahwa Rusia telah mengadopsi kebijakan "eskalasi menjadi de-eskalasi" yang menurunkan ambang batas untuk penggunaan senjata nuklir.
Namun, di bawah kebijakan itu, Rusia—menurut panel Atlantic Council—akan menanggapi serangan militer konvensional berskala besar dengan menggunakan respons nuklir secara terbatas untuk mencegah agresi lebih lanjut terhadap dirinya sendiri.
Matthew Kroenig, wakil direktur untuk strategi di Atlantic Council's Scowcroft Center for Strategy and Security, melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa Rusia "lebih nyaman menggunakan dan mengancam senjata nuklir" daripada Barat.
Kebijakan yang disebut "eskalasi menjadi de-eskalasi" Rusia juga pernah disebut dalam Nuclear Posture Review (NPR), dokumen doktrin nuklir terbaru dari administrasi Trump.
Atlantic Council Gedung Putih bersikeras menganggap bahwa Rusia mencari-cari alasan untuk menggunakan senjata nuklir. Namun, analis lain dari organisasi War on the Rocks, berpendapat bahwa Barat sebenarnya telah salah memahami kebijakan Rusia tentang penggunaan senjata nuklir.
Teori bahwa Rusia lebih bersedia menggunakan senjata nuklir diduga mengadopsi sebuah makalah yang diterbitkan dalam sebuah jurnal militer Rusia pada tahun 1999. Makalah itu menyarankan bahwa menggunakan senjata nuklir untuk melawan balik serangan konvensional mungkin akan memaksa agresor untuk mundur. Argumen yang sama telah dibuat juga oleh beberapa ahli Rusia di tahun-tahun belakangan ini.
Analis dari War on the Rocks menyatakan, kebijakan "eskalasi menjadi de-eskalasi" Rusia telah dibingkai di Barat, karena doktrin militer Rusia tahun 2014 menyatakan sebaliknya.
Doktrin militer Rusia 2014 tidak secara khusus menyerukan penggunaan senjata nuklir bahkan jika Moskow benar-benar kalah dalam pertempuran konvensional. Doktrin itu menyatakan bahwa senjata nuklir Rusia hanya digunakan sebagai tanggapan terhadap musuh yang menggunakan senjata nuklir atau senjata pemusnah massal lainnya terhadap Moskow atau sekutu-sekutunya, atau sebagai tanggapan terhadap agresi non-nuklir dalam kasus kelangsungan hidup Rusia terancam.
Argumen Kroenig yang menegaskan bahwa Rusia lebih nyaman mengancam untuk menggunakan senjata nuklir ketimbang Barat diduga mengacu pada komentar Presiden Vladimir Putin yang pernah menyatakan siap menempatkan senjata nuklirnya dalam kasus krisis Crimea tahun 2014, namun hal itu tidak terjadi.
(mas)