Korban Tewas Bom Bunuh Diri di KPU Afghanistan Capai 48
Minggu, 22 April 2018 - 20:25 WIB
Korban Tewas Bom Bunuh Diri di KPU Afghanistan Capai 48
A
A
A
KABUL - Korban tewas akibat bom bunuh diri di komisi pemilihan umum Afghanistan mencapai 48 orang termasuk perempuan dan anak-anak serta melukai 112 orang. Kelompok ekstrimis ISIS mengaku bertanggung jawab atas aksi brutal ini.
Baik Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengkonfirmasikan korban terakhir untuk serangan itu.
Serangan ini menggaribawahi meningkatnya kekhawatiran tentang keamanan menjelang pemilu legislatif yang dijadwalkan pada 20 Oktober mendatang. Penyelenggaraan pemilu ini dilihat sebagai uji coba untuk pemilu presiden pada tahun depan.
"(Pemboman) itu terjadi di gerbang masuk pusat. Itu adalah serangan bunuh diri," kata Kepala polisi Kabul, Dawood Amin, seperti dikutip dari laman The Telegraph, Minggu (22/4/2018).
Seorang petugas kesehatan masyarakat mengatakan setelah laporan awal, jumlah korban tewas akibat ledakan itu naik menjadi 48 pada hari Minggu sore, dengan 112 lainnya terluka.
Serangan ini pun menuai kecaman dari dunia internasional.
"Kekerasan tak berperasaan ini menunjukkan kepengecutan dan ketidakmanusiawian musuh-musuh demokrasi dan perdamaian di Afghanistan," kata Duta Besar AS John Bass di Twitter.
NATO juga mengutuk pemboman itu.
Serangan besar terakhir yang terjadi di Kabul adalah pada 21 Maret lalu. Kala itu seorang pembom bunuh diri ISIS meledakkan dirinya dalam kerumunan masyarakat yang tengah merayakan liburan Tahun Baru Persia dan menewaskan sedikitnya 33 orang.
Di tempat lain, ledakan di pinggir jalan di provinsi utara Baghlan menewaskan enam orang, termasuk tiga wanita dan dua anak.
Presiden Ashraf Ghani mengutuk kedua serangan itu sebagai tindakan "keji".
Afghanistan mulai mendaftarkan pemilih pada 14 April untuk pemilihan legislatif yang lama tertunda. Selama dua bulan ke depan, pihak berwenang berharap untuk mendaftarkan hingga 14 juta orang dewasa di lebih dari 7.000 tempat pemungutan suara untuk pemilihan dewan dan distrik.
Polisi dan pasukan Afghanistan telah ditugaskan untuk melindungi pusat-pusat pemungutan suara.
Para pejabat telah mengakui bahwa keamanan merupakan perhatian utama karena Taliban dan kelompok militan lainnya mengendalikan atau menentang sebagian besar wilayah negara.
Baik Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengkonfirmasikan korban terakhir untuk serangan itu.
Serangan ini menggaribawahi meningkatnya kekhawatiran tentang keamanan menjelang pemilu legislatif yang dijadwalkan pada 20 Oktober mendatang. Penyelenggaraan pemilu ini dilihat sebagai uji coba untuk pemilu presiden pada tahun depan.
"(Pemboman) itu terjadi di gerbang masuk pusat. Itu adalah serangan bunuh diri," kata Kepala polisi Kabul, Dawood Amin, seperti dikutip dari laman The Telegraph, Minggu (22/4/2018).
Seorang petugas kesehatan masyarakat mengatakan setelah laporan awal, jumlah korban tewas akibat ledakan itu naik menjadi 48 pada hari Minggu sore, dengan 112 lainnya terluka.
Serangan ini pun menuai kecaman dari dunia internasional.
"Kekerasan tak berperasaan ini menunjukkan kepengecutan dan ketidakmanusiawian musuh-musuh demokrasi dan perdamaian di Afghanistan," kata Duta Besar AS John Bass di Twitter.
NATO juga mengutuk pemboman itu.
Serangan besar terakhir yang terjadi di Kabul adalah pada 21 Maret lalu. Kala itu seorang pembom bunuh diri ISIS meledakkan dirinya dalam kerumunan masyarakat yang tengah merayakan liburan Tahun Baru Persia dan menewaskan sedikitnya 33 orang.
Di tempat lain, ledakan di pinggir jalan di provinsi utara Baghlan menewaskan enam orang, termasuk tiga wanita dan dua anak.
Presiden Ashraf Ghani mengutuk kedua serangan itu sebagai tindakan "keji".
Afghanistan mulai mendaftarkan pemilih pada 14 April untuk pemilihan legislatif yang lama tertunda. Selama dua bulan ke depan, pihak berwenang berharap untuk mendaftarkan hingga 14 juta orang dewasa di lebih dari 7.000 tempat pemungutan suara untuk pemilihan dewan dan distrik.
Polisi dan pasukan Afghanistan telah ditugaskan untuk melindungi pusat-pusat pemungutan suara.
Para pejabat telah mengakui bahwa keamanan merupakan perhatian utama karena Taliban dan kelompok militan lainnya mengendalikan atau menentang sebagian besar wilayah negara.
(ian)