Presiden Korsel: Korut Siap Denuklirisasi Menyeluruh
Kamis, 19 April 2018 - 17:28 WIB
Presiden Korsel: Korut Siap Denuklirisasi Menyeluruh
A
A
A
SEOUL - Korea Utara (Korut) telah menyatakan keinginannya untuk denuklirisasi menyeluruh Semenanjung Korea. Pyongyang juga tidak mengajukan syarat seperti penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari Korea Selatan (Korsel) untuk mewujudkan hal itu.
Hal itu dikatakan oleh Presiden Korsel Moon Jae-in. Menurut Moon, gambaran besar tentang kesepakatan normalisasi hubungan antara kedua Korea dan AS seharusnya tidak sulit untuk dicapai melalui pertemuan yang direncanakan dalam upaya untuk mengendalikan program nuklir dan misil Korut.
Pertemuan dua Korea, yang dihadiri langsung oleh Moon Jae-in dan Pemimpin Korut Kim Jong-un, direncanakan akan terjadi pekan depan. Sedangkan pertemuan antara Korut dengan AS akan dilakukan pada pertengahan tahun ini.
"Korea Utara menyatakan keinginan untuk denuklirisasi menyeluruh," kata Moon kepada wartawan.
“Mereka belum memasukkan persyaratan apa pun yang tidak dapat diterima AS, seperti penarikan pasukan Amerika dari Korea Selatan. Yang mereka ekspresikan adalah berakhirnya kebijakan bermusuhan terhadap Korea Utara, diikuti oleh jaminan keamanan,” tuturnya dilansir dari Reuters, Kamis (19/4/2018).
Korut telah mempertahankan program persenjataannya, yang menyimpang dari resolusi Dewan Keamanan PBB. Pyongyang beralasan program tersebut adalah alat pencegah yang diperlukan terhadap sikap permusuhan AS. AS sendiri menempatkan 28.500 pasukan di Korea Selatan, warisan Perang Korea 1950-53.
Korut telah mengatakan selama bertahun-tahun bahwa mereka dapat mempertimbangkan menyerahkan persenjataan nuklirnya jika AS menarik pasukannya dari Korsel. Korut juga menuntut AS menarik kembali apa yang disebutnya sebagai payung pencegahan nuklir Korsel dan Jepang.
Korsel sebelumnya mengumumkan tengah mempertimbangkan mengubah perjanjian gencatan senjata selama satu dekade dengan Korut menjadi perjanjian damai seiring persiapkan pertemuan Utara-Selatan bulan ini.
Korut yang tertutup dan Korsel yang kaya serta demokratis secara teknis masih berperang karena konflik 1950-53 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Moon juga mengatakan ia melihat kemungkinan perjanjian damai, atau bahkan bantuan internasional untuk ekonomi Korut jika kesepakatan denuklirisasi terjadi.
Namun ia juga mengatakan pertemuan itu memiliki banyak kendala, karena kedua Korea tidak bisa membuat kemajuan terpisah dari pertemuan Korut-AS, dan tidak bisa mencapai kesepakatan yang melampaui sanksi internasional.
"Jadi pertama, KTT Korea Selatan-Utara harus membuat awal yang baik, dan dialog antara kedua Korea kemungkinan harus berlanjut setelah kita melihat hasil pertemuan Korea Utara-Amerika Serikat," terang Moon.
Direktur CIA Mike Pompeo telah mengunjungi Korut pekan lalu dan bertemu dengan Kim Jong-un dan membentuk "hubungan baik", seperti dikatakan Presiden AS Donald Trump.
Sementara itu media pemerintah Korut, KCNA melaporkan, Pyongyang akan mengadakan rapat pleno dari komite pusat partai yang berkuasa pada hari Jumat.
"Pertemuan itu diadakan untuk membahas dan memutuskan isu-isu kebijakan tahap baru" guna memenuhi tuntutan periode penting bersejarah saat ini," tulis KCNA.
Hal itu dikatakan oleh Presiden Korsel Moon Jae-in. Menurut Moon, gambaran besar tentang kesepakatan normalisasi hubungan antara kedua Korea dan AS seharusnya tidak sulit untuk dicapai melalui pertemuan yang direncanakan dalam upaya untuk mengendalikan program nuklir dan misil Korut.
Pertemuan dua Korea, yang dihadiri langsung oleh Moon Jae-in dan Pemimpin Korut Kim Jong-un, direncanakan akan terjadi pekan depan. Sedangkan pertemuan antara Korut dengan AS akan dilakukan pada pertengahan tahun ini.
"Korea Utara menyatakan keinginan untuk denuklirisasi menyeluruh," kata Moon kepada wartawan.
“Mereka belum memasukkan persyaratan apa pun yang tidak dapat diterima AS, seperti penarikan pasukan Amerika dari Korea Selatan. Yang mereka ekspresikan adalah berakhirnya kebijakan bermusuhan terhadap Korea Utara, diikuti oleh jaminan keamanan,” tuturnya dilansir dari Reuters, Kamis (19/4/2018).
Korut telah mempertahankan program persenjataannya, yang menyimpang dari resolusi Dewan Keamanan PBB. Pyongyang beralasan program tersebut adalah alat pencegah yang diperlukan terhadap sikap permusuhan AS. AS sendiri menempatkan 28.500 pasukan di Korea Selatan, warisan Perang Korea 1950-53.
Korut telah mengatakan selama bertahun-tahun bahwa mereka dapat mempertimbangkan menyerahkan persenjataan nuklirnya jika AS menarik pasukannya dari Korsel. Korut juga menuntut AS menarik kembali apa yang disebutnya sebagai payung pencegahan nuklir Korsel dan Jepang.
Korsel sebelumnya mengumumkan tengah mempertimbangkan mengubah perjanjian gencatan senjata selama satu dekade dengan Korut menjadi perjanjian damai seiring persiapkan pertemuan Utara-Selatan bulan ini.
Korut yang tertutup dan Korsel yang kaya serta demokratis secara teknis masih berperang karena konflik 1950-53 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Moon juga mengatakan ia melihat kemungkinan perjanjian damai, atau bahkan bantuan internasional untuk ekonomi Korut jika kesepakatan denuklirisasi terjadi.
Namun ia juga mengatakan pertemuan itu memiliki banyak kendala, karena kedua Korea tidak bisa membuat kemajuan terpisah dari pertemuan Korut-AS, dan tidak bisa mencapai kesepakatan yang melampaui sanksi internasional.
"Jadi pertama, KTT Korea Selatan-Utara harus membuat awal yang baik, dan dialog antara kedua Korea kemungkinan harus berlanjut setelah kita melihat hasil pertemuan Korea Utara-Amerika Serikat," terang Moon.
Direktur CIA Mike Pompeo telah mengunjungi Korut pekan lalu dan bertemu dengan Kim Jong-un dan membentuk "hubungan baik", seperti dikatakan Presiden AS Donald Trump.
Sementara itu media pemerintah Korut, KCNA melaporkan, Pyongyang akan mengadakan rapat pleno dari komite pusat partai yang berkuasa pada hari Jumat.
"Pertemuan itu diadakan untuk membahas dan memutuskan isu-isu kebijakan tahap baru" guna memenuhi tuntutan periode penting bersejarah saat ini," tulis KCNA.
(ian)