Dunia Harus Respons Serangan Gas Kimia
Senin, 09 April 2018 - 07:50 WIB
Dunia Harus Respons Serangan Gas Kimia
A
A
A
DAMASKUS - Puluhan orang tewas dalam serangan senjata gas kimia di Douma, Ghouta Timur, Suriah. Jika itu terbukti benar, dunia internasional akan segera merespons dan merapatkan barisan.
Petugas penyelamat dan paramedis Union of Medical Relief Organizations menyebutkan sedikitnya 70 orang tewas di Suriah setelah gas beracun dijatuhkan di Douma. Para relawan pasukan penyelamat Helm Putih menyampaikan gambar sejumlah mayat di ruang bawah tanah. Mereka juga menyatakan jumlah korban tewas diperkirakan akan terus bertambah.
Organisasi bantuan keamanan Syrian American Medical Society (SAMS) menyatakan 49 orang tewas pada serangan yang terjadi pada Sabtu (7/4). Sebelumnya, beredar informasi kalau jumlah korban tewas mencapai 49 orang.
Sebuah video yang diedarkan kubu oposisi menampilkan puluhan anak-anak, perempuan, dan pria, mengalami muntah dengan busa putih di mulut mereka. “Kota Douma, 7 April, ada bau (gas) yang kuat di sini,” demikian bunyi suara dalam video tersebut, dilansir Reuters.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan laporan korban massal serangan itu sangat mengerikan. “Jika dikonfirmasi (serangan gas kimia), permintaan respons secepatnya komunitas internasional segera dibutuhkan,” demikian keterangan mereka.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauret menyebut kembali serangan gas sarin di Suriah di mana Barat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB) menyalahkan pemerintahan Assad. “Rezim Assad dan para pendukungnya harus diperiksa dan perlunya pencegahan serangan selanjutnya,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Inggris juga mengungkapkan jika laporan gas kimia itu benar, maka diperlukan penyidikan. “Komunitas internasional harus merespons. Kita menyerukan rezim Assad dan para pendukungnya untuk menghentikan kekerasan terhadap warga sipil,” demikian keterangan Kemlu Inggris.
Serangan senjata kimia itu langsung dibantah Suriah. Kantor berita pemerintah Suriah, SANA menyebutkan laporan tersebut dibuat oleh Jaish al-Islam, pemberontak yang masih berkuasa di Douma. "Gerilyawan Jaish al-Islam yang tengah hancur dan media mereka yang (membuat) serangan kimia buatan karena terkena dan upayanya gagal untuk menghalangi serangan oleh tentara Arab Suriah," demikian laporan SANA.
Namun, Pemantau Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) menyatakan mereka belum bisa mengonfirmasi apakah serangan tersebut adalah senjata kimia. Direktur SOHR Rami Abdulrahman mengatakan, 11 orang yang tewas di Douma merupakan akibat pernafasan akibat pengeboman yang terus menerus.
Sedangkan organisasi bantuan kemanusiaan SAMS menyatakan serangan bom klorin menghantam rumah sakit Douma dan menewaskan enam orang. Serangan kedua mengguna bahan kimia campuran, termasuk gas syarag yang jatuh di gedung sebelah.
“Sebanyak 35 orang tewas di dekat gedung apartemen, mayoritas anak-anak dan perempuan,” ujar Basel Termanini, wakil presiden SAMS, kepada Reuters. SAMS dan kelompok pertahanan sipil Helm Putih menyatakan lebih dari 500 orang mengalami sakit pernafasan dan keluar busa dari mulut mereka yang berbau klorin.
Kemudian, Tawfik Chamaa, dokter asal Suriah yang bekerja sama dengan Union of Medical Care and Relief Organizations (UOSSM), mengungkapkan 150 orang tewas. Jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah. (Andika Hendra)
Petugas penyelamat dan paramedis Union of Medical Relief Organizations menyebutkan sedikitnya 70 orang tewas di Suriah setelah gas beracun dijatuhkan di Douma. Para relawan pasukan penyelamat Helm Putih menyampaikan gambar sejumlah mayat di ruang bawah tanah. Mereka juga menyatakan jumlah korban tewas diperkirakan akan terus bertambah.
Organisasi bantuan keamanan Syrian American Medical Society (SAMS) menyatakan 49 orang tewas pada serangan yang terjadi pada Sabtu (7/4). Sebelumnya, beredar informasi kalau jumlah korban tewas mencapai 49 orang.
Sebuah video yang diedarkan kubu oposisi menampilkan puluhan anak-anak, perempuan, dan pria, mengalami muntah dengan busa putih di mulut mereka. “Kota Douma, 7 April, ada bau (gas) yang kuat di sini,” demikian bunyi suara dalam video tersebut, dilansir Reuters.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan laporan korban massal serangan itu sangat mengerikan. “Jika dikonfirmasi (serangan gas kimia), permintaan respons secepatnya komunitas internasional segera dibutuhkan,” demikian keterangan mereka.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauret menyebut kembali serangan gas sarin di Suriah di mana Barat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB) menyalahkan pemerintahan Assad. “Rezim Assad dan para pendukungnya harus diperiksa dan perlunya pencegahan serangan selanjutnya,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Inggris juga mengungkapkan jika laporan gas kimia itu benar, maka diperlukan penyidikan. “Komunitas internasional harus merespons. Kita menyerukan rezim Assad dan para pendukungnya untuk menghentikan kekerasan terhadap warga sipil,” demikian keterangan Kemlu Inggris.
Serangan senjata kimia itu langsung dibantah Suriah. Kantor berita pemerintah Suriah, SANA menyebutkan laporan tersebut dibuat oleh Jaish al-Islam, pemberontak yang masih berkuasa di Douma. "Gerilyawan Jaish al-Islam yang tengah hancur dan media mereka yang (membuat) serangan kimia buatan karena terkena dan upayanya gagal untuk menghalangi serangan oleh tentara Arab Suriah," demikian laporan SANA.
Namun, Pemantau Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) menyatakan mereka belum bisa mengonfirmasi apakah serangan tersebut adalah senjata kimia. Direktur SOHR Rami Abdulrahman mengatakan, 11 orang yang tewas di Douma merupakan akibat pernafasan akibat pengeboman yang terus menerus.
Sedangkan organisasi bantuan kemanusiaan SAMS menyatakan serangan bom klorin menghantam rumah sakit Douma dan menewaskan enam orang. Serangan kedua mengguna bahan kimia campuran, termasuk gas syarag yang jatuh di gedung sebelah.
“Sebanyak 35 orang tewas di dekat gedung apartemen, mayoritas anak-anak dan perempuan,” ujar Basel Termanini, wakil presiden SAMS, kepada Reuters. SAMS dan kelompok pertahanan sipil Helm Putih menyatakan lebih dari 500 orang mengalami sakit pernafasan dan keluar busa dari mulut mereka yang berbau klorin.
Kemudian, Tawfik Chamaa, dokter asal Suriah yang bekerja sama dengan Union of Medical Care and Relief Organizations (UOSSM), mengungkapkan 150 orang tewas. Jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah. (Andika Hendra)
(nfl)