Rezim Assad Diduga Luncurkan Serangan Senjata Kimia di Ghouta

Minggu, 08 April 2018 - 09:58 WIB
Rezim Assad Diduga Luncurkan...
Rezim Assad Diduga Luncurkan Serangan Senjata Kimia di Ghouta
A A A
DAMASKUS - Kelompok pejuang Suriah menuding pasukan pemerintah telah meluncurkan serangan senjata kimia mematikan terhadap warga sipil. Serangan itu terjadi di sebuah kota di Ghouta timur yang dikuasai pejuang.

Tudingan ini diperkuat dengan pernyataan organisasi bantuan medis yang menyebut 35 orang tewas dalam serangan senjata kimia itu.

Pasukan pemerintah Suriah yang didukung Rusia melanjutkan serangan pada Jumat sore dengan serangan udara berat setelah beberapa hari tenang.

Kelompok pemantau Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) mengatakan 11 orang telah meninggal di Douma akibat mati lemas yang disebabkan oleh asap dari senjata konvensional yang dijatuhkan oleh pemerintah. Dikatakan total 70 orang mengalami kesulitan bernapas.

Direktur SOHR, Rami Abdulrahman, mengaku tidak bisa memastikan apakah senjata kimia telah digunakan dalam serangan tersebut.

Organisasi bantuan medis Suriah American Medical Society (SAMS) mengatakan bom klorin menghantam rumah sakit Douma, menewaskan enam orang. Serangan kedua dengan "zat campuran" termasuk zat saraf telah menghantam bangunan di dekatnya.

Basel Termanini, perwakilan SAMS dari Amerika Serikat (AS), mengatakan jumlah korban tewas total dalam serangan senjata kimia itu adalah 35.

"Kami menghubungi pemerintah Inggris dan AS serta pemerintah Eropa," katanya seperti dikutip dari Reuters, Minggu (8/4/2018).

Sementara pejabat politik kelompok pejuang Suriah Jaish al-Islam mengatakan serangan kimia telah menewaskan 100 orang.

Kantor berita milik pemerintah Suriah, SANA, membantah tudingan kelompok pejuang. SANA mengatakan para pemberontak di kota Douma sebelah timur Ghouta berada dalam kondisi goyah dan menyebarkan berita palsu.

"Jaish al-Islam, sedang berupaya seolah-seolah terkena serangan senjata kimi dan gagal untuk menghalangi kemajuan tentara Suriah," tulis SANA mengutip sumber resmi.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan sedang memantau situasi dan Rusia harus disalahkan jika bahan kimia terbukti digunakan.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan mengatakan sejarah pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri tidak usah diperdebatkan lagi.

"Rusia akhirnya memikul tanggung jawab atas penargetan brutal dari Suriah yang tak terhitung jumlahnya dengan senjata kimia," kata pejabat itu.

Pemerintah Suriah telah merebut kembali hampir semua wilayah Ghouta timur dari kelompok pejuang dalam serangan yang dimulai pada Februari lalu. Hanya tinggal wilayah Douma yang berada di tangan kelompok pejuang, Jaish al-Islam.

Dalam menghadapi kekalahan militer, kelompok-kelompok pejuang di bagian lain Ghouta timur memilih untuk menerima perjalanan yang aman dari daerah itu ke wilayah yang dikuasai oposisi di perbatasan Turki.

Beberapa ribu orang - pejuang dan warga sipil - meninggalkan Douma untuk ke Suriah utara dalam beberapa hari terakhir. Di saat bersamaan, Jaish al-Islam mengadakan pembicaraan dengan Rusia mengenai Douma. Jaish al-Islam bersikeras untuk tetap tinggal di kota tersebut.

Kelompok ini menolak apa yang disebutnya kebijakan Presiden Bashar al-Assad untuk memindahkan secara paksa lawan-lawannya ke daerah-daerah dekat perbatasan Turki.

Daerah-daerah yang dikuasai pemberontak di wilayah Ghouta dilanda serangan kimia besar pada 2013.

Tahun lalu, penyelidikan bersama oleh PBB dan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) menemukan bahwa pemerintah Suriah bertanggung jawab atas serangan 4 April 2017 dengan menggunakan gas sarin, gas saraf terlarang di kota Khan Khanikun yang dikuasai oposisi, membunuh belasan orang.

Penyelidikan sebelumnya telah menemukan bahwa pasukan pemerintah Suriah bertanggung jawab atas tiga serangan gas klorin pada tahun 2014 dan 2015. Kelompok militan ISIS juga terbukti menggunakan gas mustard.
(ian)
Berita Terkait
Tenda Permukiman Keluarga...
Tenda Permukiman Keluarga Terlantar yang Dikuasai Pemberontak Ditembaki Pasukan Suriah
Pasukan Suriah Serang...
Pasukan Suriah Serang Qardaha, Bentrokan Sengit di Latakia dan Tartous
Warga Suriah Menyeberangi...
Warga Suriah Menyeberangi Sungai ke Lebanon, Ribuan Mengungsi di Tengah Kekerasan di Pesisir
Gempuran Serangan Udara...
Gempuran Serangan Udara di Idlib, 21 Warga Tewas
Pemberontak Kuasai Aleppo,...
Pemberontak Kuasai Aleppo, Pasukan Bashar al-Assad Mundur
Presiden Iran Minta...
Presiden Iran Minta Negara-negara Islam Bantu Suriah Hadapi Pemberontak
Berita Terkini
4 Alasan Jepang Kini...
4 Alasan Jepang Kini Jadi Aliansi Terpenting AS di Asia, Garda Terdepan Melawan Rusia dan China
12 menit yang lalu
Rusia Diduga Bantu Iran...
Rusia Diduga Bantu Iran Gempur Pangkalan AS, Trump Akan Tanya Langsung Putin
31 menit yang lalu
Mertua Tak Tahu Kondisi...
Mertua Tak Tahu Kondisi Mojtaba Khamenei: Dia Tak Berkomunikasi dengan Orang Mana Pun
1 jam yang lalu
Penegasan sebagai Negara...
Penegasan sebagai Negara Yahudi, Bahasa Arab Dilarang Digunakan Warga Palestina di Israel
1 jam yang lalu
Kim Jong-un Ajak Putrinya...
Kim Jong-un Ajak Putrinya Peringati Perang Korea untuk Pertama Kalinya, Ini Penampakannya
1 jam yang lalu
Dramatis, FSB Tangkap...
Dramatis, FSB Tangkap Pria Rusia atas Tuduhan Jadi Mata-mata Five Eyes
2 jam yang lalu
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved