AS Berencana Jatuhkan Sanksi kepada Oligarki Rusia
Kamis, 05 April 2018 - 10:01 WIB
AS Berencana Jatuhkan Sanksi kepada Oligarki Rusia
A
A
A
WASHINGTON - Pemberian sanksi Amerika Serikat (AS) kepada Rusia masih belum berakhir terkait tudingan campur tangan dalam pemilu presiden 2016 lalu. Terbaru, AS berniat untuk menjatuhkan sanksi kepada oligarki Rusia minggu ini menurut sumber yang mengetahui hal ini.
Sanksi ini bisa menjadi langkah yang paling agresif terhadap elit bisnis Rusia. Bukan tidak mungkin sanksi ini menyasar orang-orang yang dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Sanksi-sanksi itu akan mengikuti keputusan AS pada 15 Maret lalu yang memberikan sanksi kepada 19 orang dan lima entitas, termasuk dinas intelijen Rusia, atas serangan siber yang terjadi setidaknya dalam dua tahun terakhir.
Tindakan minggu ini akan mencakup sanksi terhadap oligarki Rusia, termasuk beberapa yang memiliki hubungan dengan Putin dan juga pemerintah Rusia, menurut dua pejabat AS.
Empat sumber mengatakan sanksi akan dikenakan di bawah Undang-undang Amerika Melawan Musuh Melalui Sanksi (CAATSA). Undang-undang ini disahkan untuk menghukum Rusia pada 2014 atas pencaplokannya terhdap Crimea dari Ukraina, keterlibatan dalam perang sipil Suriah dan campur tangan dalam pemilihan presiden AS 2016.
Gedung Putih dan Departemen Keuangan menolak berkomentar terkait rencana penjatuhan sanksi ini. Ketika ditanya tentang masalah ini, seorang pejabat senior AS mengatakan:
“Pemerintah berkomitmen untuk menerapkan hukum CAATSA seperti yang telah kami katakan berkali-kali. Kami menerbitkan sebutan oligarki baru-baru ini dan sekretaris Departemen Keuangan mengatakan tindakan lebih lanjut akan diambil. Tetapi saat ini kami tidak memiliki sesuatu yang spesifik untuk diumumkan,” ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Kamis (5/4/2018).
Mematuhi undang-undang, pemerintah Trump pada 30 Januari menerbitkan daftar kepala perusahaan-perusahaan milik negara Rusia dan "oligarki," termasuk tokoh-tokoh terkemuka seperti Alexei Miller, kepala eksekutif Gazprom, dan Igor Sechin, kepala eksekutif dari Rosneft.
Hubungan AS-Rusia memburuk dengan tuduhan, yang ditolak Moskow, bahwa Rusia bertanggung jawab atas serangan zat saraf terhadap mantan mata-mata Rusia di Inggris pada 4 Maret lalu. Pada 26 Maret, AS dan beberapa negara Eropa mengumumkan rencana untuk mengusir lebih dari 100 diplomat Rusia sebagai tanggapan.
Sanksi ini bisa menjadi langkah yang paling agresif terhadap elit bisnis Rusia. Bukan tidak mungkin sanksi ini menyasar orang-orang yang dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Sanksi-sanksi itu akan mengikuti keputusan AS pada 15 Maret lalu yang memberikan sanksi kepada 19 orang dan lima entitas, termasuk dinas intelijen Rusia, atas serangan siber yang terjadi setidaknya dalam dua tahun terakhir.
Tindakan minggu ini akan mencakup sanksi terhadap oligarki Rusia, termasuk beberapa yang memiliki hubungan dengan Putin dan juga pemerintah Rusia, menurut dua pejabat AS.
Empat sumber mengatakan sanksi akan dikenakan di bawah Undang-undang Amerika Melawan Musuh Melalui Sanksi (CAATSA). Undang-undang ini disahkan untuk menghukum Rusia pada 2014 atas pencaplokannya terhdap Crimea dari Ukraina, keterlibatan dalam perang sipil Suriah dan campur tangan dalam pemilihan presiden AS 2016.
Gedung Putih dan Departemen Keuangan menolak berkomentar terkait rencana penjatuhan sanksi ini. Ketika ditanya tentang masalah ini, seorang pejabat senior AS mengatakan:
“Pemerintah berkomitmen untuk menerapkan hukum CAATSA seperti yang telah kami katakan berkali-kali. Kami menerbitkan sebutan oligarki baru-baru ini dan sekretaris Departemen Keuangan mengatakan tindakan lebih lanjut akan diambil. Tetapi saat ini kami tidak memiliki sesuatu yang spesifik untuk diumumkan,” ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Kamis (5/4/2018).
Mematuhi undang-undang, pemerintah Trump pada 30 Januari menerbitkan daftar kepala perusahaan-perusahaan milik negara Rusia dan "oligarki," termasuk tokoh-tokoh terkemuka seperti Alexei Miller, kepala eksekutif Gazprom, dan Igor Sechin, kepala eksekutif dari Rosneft.
Hubungan AS-Rusia memburuk dengan tuduhan, yang ditolak Moskow, bahwa Rusia bertanggung jawab atas serangan zat saraf terhadap mantan mata-mata Rusia di Inggris pada 4 Maret lalu. Pada 26 Maret, AS dan beberapa negara Eropa mengumumkan rencana untuk mengusir lebih dari 100 diplomat Rusia sebagai tanggapan.
(ian)