Rusia Sebut Operasi Militer Suriah di Ghouta Hampir Berakhir
Jum'at, 30 Maret 2018 - 06:21 WIB
Rusia Sebut Operasi Militer Suriah di Ghouta Hampir Berakhir
A
A
A
MOSKOW - Serangan militer besar-besaran Suriah yang didukung Rusia di pinggiran timur Damaskus hampir berakhir. Saat ini kelompok pejuang hanya menguasai satu kota saja setelah sebelumnya mereka meninggalkan sejumlah wilayah. Demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh pihak Rusia.
Rusia dan faksi pejuang yang mengendalikan Douma, kota Ghouta terakhir yang masih berada di tangan pemberontak, mengatakan mereka masih bernegosiasi mengenai nasib kota itu. Moskow mengatakan pihaknya melihat kesempatan bagi para pemberontak yang tersisa untuk keluar dari Douma.
Ribuan pejuang telah menerima kesepakatan yang diperantarai oleh Rusia untuk meninggalkan bagian lain dari daerah kantong itu dalam seminggu terakhir. Bersama keluarganya, mereka meninggalkan wilayah yang diduduki menggunakan bus yang disediakan pemerintah, memberi mereka perjalanan yang aman ke daerah-daerah yang dikuasai pejuang lainnya. Puluhan ribu warga sipil lainnya tetap tinggal untuk menerima kekuasaan negara, dan puluhan ribu lainnya melarikan diri ke garis depan.
Runtuhnya kontrol pejuang di Ghouta timur, setelah salah satu kampanye paling sengit dari perang tujuh tahun, telah memberi para gerilya kekalahan terburuk mereka sejak mereka diusir dari Aleppo pada 2016.
Pada jumpa pers mingguan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan operasi kontra-teroris di Ghouta timur hampir selesai, menurut kantor berita RIA.
Wakil Menteri Luar Negeri Mikhail Bogdanov mengatakan mungkin ada kemajuan dalam pembicaraan dengan para pejuang dari kelompok Jaish al-Islam, yang menguasai Douma, seperti dikutip Reuters dari RIA, Jumat (30/3/2018).
Ghouta Timur, pusat awal pemberontakan 2011 melawan Presiden Bashar al-Assad, hingga bulan lalu merupakan kubu pejuang terbesar dan paling padat penduduknya di dekat ibu kota.
Merebutnya akan menjadi rentetan serangkaian kemenangan di medan perang bagi pemerintah Presiden Bashar al-Assad sejak Rusia mengirim angkatan udaranya untuk bergabung dengan upaya perangnya melawan pejuang pada September 2015, membuat posisinya tidak tergoyahkan.
Seorang komandan dalam aliansi pendukung Assad, yang selain Rusia termasuk milisi Iran dan Syiah dari Libanon serta Irak, mengatakan negosiasi dengan Jaish al-Islam telah berhenti.
Namun, pejabat Jaish al-Islam Mohammad Alloush, yang berbasis di luar Suriah, mengatakan kepada Reuters melalui pesan teks bahwa pembicaraan masih terus berlanjut, meskipun ada laporan tentang ancaman dan provokasi untuk menekan warga sipil.
Rusia dan faksi pejuang yang mengendalikan Douma, kota Ghouta terakhir yang masih berada di tangan pemberontak, mengatakan mereka masih bernegosiasi mengenai nasib kota itu. Moskow mengatakan pihaknya melihat kesempatan bagi para pemberontak yang tersisa untuk keluar dari Douma.
Ribuan pejuang telah menerima kesepakatan yang diperantarai oleh Rusia untuk meninggalkan bagian lain dari daerah kantong itu dalam seminggu terakhir. Bersama keluarganya, mereka meninggalkan wilayah yang diduduki menggunakan bus yang disediakan pemerintah, memberi mereka perjalanan yang aman ke daerah-daerah yang dikuasai pejuang lainnya. Puluhan ribu warga sipil lainnya tetap tinggal untuk menerima kekuasaan negara, dan puluhan ribu lainnya melarikan diri ke garis depan.
Runtuhnya kontrol pejuang di Ghouta timur, setelah salah satu kampanye paling sengit dari perang tujuh tahun, telah memberi para gerilya kekalahan terburuk mereka sejak mereka diusir dari Aleppo pada 2016.
Pada jumpa pers mingguan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan operasi kontra-teroris di Ghouta timur hampir selesai, menurut kantor berita RIA.
Wakil Menteri Luar Negeri Mikhail Bogdanov mengatakan mungkin ada kemajuan dalam pembicaraan dengan para pejuang dari kelompok Jaish al-Islam, yang menguasai Douma, seperti dikutip Reuters dari RIA, Jumat (30/3/2018).
Ghouta Timur, pusat awal pemberontakan 2011 melawan Presiden Bashar al-Assad, hingga bulan lalu merupakan kubu pejuang terbesar dan paling padat penduduknya di dekat ibu kota.
Merebutnya akan menjadi rentetan serangkaian kemenangan di medan perang bagi pemerintah Presiden Bashar al-Assad sejak Rusia mengirim angkatan udaranya untuk bergabung dengan upaya perangnya melawan pejuang pada September 2015, membuat posisinya tidak tergoyahkan.
Seorang komandan dalam aliansi pendukung Assad, yang selain Rusia termasuk milisi Iran dan Syiah dari Libanon serta Irak, mengatakan negosiasi dengan Jaish al-Islam telah berhenti.
Namun, pejabat Jaish al-Islam Mohammad Alloush, yang berbasis di luar Suriah, mengatakan kepada Reuters melalui pesan teks bahwa pembicaraan masih terus berlanjut, meskipun ada laporan tentang ancaman dan provokasi untuk menekan warga sipil.
(ian)