Menhan AS Era Obama: Perang Lawan Korut Bertaruh Jutaan Nyawa
Kamis, 01 Februari 2018 - 14:49 WIB
Menhan AS Era Obama: Perang Lawan Korut Bertaruh Jutaan Nyawa
A
A
A
WASHINGTON - Chuck Hagel, Menteri Pertahanan (menhan) Amerika Serikat (AS) era Presiden Barack Obama memperingatkan dampak mengerikan jika pemerintah Donald Trump mengambil opsi perang melawan Korea Utara (Korut). Dia minta pemerintah berpikir lebih pintar.
”Jika Anda ingin bertaruh bahwa jika Anda akan menyerang Korea Utara, dan Anda akan melakukannya, pikirkan bahwa Kim Jong-un dan orang Korut tidak akan melakukan pembalasan, ini adalah pertaruhan yang cukup besar,” kata Hagel. ”Saya tidak ingin mengambil perjudian ini,” ujar Hagel.
”Saya tidak akan melakukannya. Saya rasa Anda tidak bisa melakukan itu,” imbuh Hagel. ”Mari kita lebih pintar,” sambung Hagel dalam wawancara eksklusif dengan Defense News, yang dikutip Kamis (1/2/2018).
Peringatan dari bekas kepala Pentagon ini mengacu pada opsi “bloody nose strike” yang telah diwacanakan administrasi Trump.
Melalui opsi itu, AS berencana menyerang rezim Kim Jong-un secara militer sebagai pesan khusus namun tanpa berlanjut ke perang skala penuh. Tapi, opsi semacam itu diragukan bisa berjalan karena mustahil rezim Pyongyang tidak melakukan pembalasan.
Baca: Trump Akhirnya Ketir-ketir dengan Rudal Nuklir Korut
Argumen Hagel itu mirip apa yang ditulis Victor Cha—calon duta besar AS untuk Korsel—dalam sebuah artikel di New York Times. Cha dalam gagasannya keberatan dengan opsi “serangan kinetik” terhadap Korut karena dampak yang ditimbulkan akan meluas. Sikap itu membuat Cha kemungkinan tidak akan ditunjuk pemerintah Trump sebagai duta besar AS untuk Seoul.
Cha bukan diplomat sembarangan. Dia dipercaya sebagai “elang” di Korut ketika bertugas untuk pemerintah Presiden Bush.
”Untuk menjadi jelas; Presiden akan menempatkan risiko pada populasi Amerika seluas kota yang berukuran sedang di AS—Pittsburgh, katakanlah, atau Cincinnati—dengan asumsi bahwa seorang diktator yang gila dan tidak dapat dipahami akan secara rasional dikuasai oleh demonstrasi kekuatan kinetik AS,” tulis Cha.
Hagel—mantan senator Partai Republik yang menyeberangi garis partai—menjabat sebagai menhan untuk Presiden Obama dari tahun 2013 sampai 2015. Setelah pensiun, Hagel kerap mengkritik Presiden Trump terutama tentang retorikanya terhadap Korut.
”Saya pikir Presiden Trump telah memperburuk keadaan, dengan tweet-nya, 'tombol (nuklir) saya lebih besar dari Anda' dan 'api dan kemarahan' dan 'kami akan menghapus Anda dari muka bumi' dan seterusnya,” kata Hagel merinci berbagai tweet provokatif Trump.
”Itu mengatakan kepada saya bahwa dia tidak mengerti akibat pertukaran nuklir. Tidak ada pemenang dalam hal itu, dan kita harus menghindarinya.”
Jika terjadi konflik, Hagel meyakini Amerika akan menang. Tapi, pertanyaan tentang “menang” akan terlihat sebagai hal yang mengkhawatirkannya.
”Akan ada jutaan orang yang tewas di Korea Selatan, puluhan ribu orang Amerika tewas,” kata Hagel memprediksi. ”Kami memiliki 30.000 tentara di sepanjang DMZ (dona demiliterisasi) ditambah warga Amerika lainnya di sana juga. Mungkin Jepang tidak keluar dari sini tanpa malapetaka,” papar Hagel.
Sebagai gantinya, Hagel meminta diplomasi lebih besar dengan Korea Utara. ”Mari kita memotong retorika, mari kita mengurangi ketegangan, mari kita memotong omong kosong dan keberaniannya, dan marilah kita sibuk dan mulai mengikuti apa yang dilakukan orang Korea Selatan dalam menemukan celah dengan Korea Utara,” kata Hagel.
”Jika Anda ingin bertaruh bahwa jika Anda akan menyerang Korea Utara, dan Anda akan melakukannya, pikirkan bahwa Kim Jong-un dan orang Korut tidak akan melakukan pembalasan, ini adalah pertaruhan yang cukup besar,” kata Hagel. ”Saya tidak ingin mengambil perjudian ini,” ujar Hagel.
”Saya tidak akan melakukannya. Saya rasa Anda tidak bisa melakukan itu,” imbuh Hagel. ”Mari kita lebih pintar,” sambung Hagel dalam wawancara eksklusif dengan Defense News, yang dikutip Kamis (1/2/2018).
Peringatan dari bekas kepala Pentagon ini mengacu pada opsi “bloody nose strike” yang telah diwacanakan administrasi Trump.
Melalui opsi itu, AS berencana menyerang rezim Kim Jong-un secara militer sebagai pesan khusus namun tanpa berlanjut ke perang skala penuh. Tapi, opsi semacam itu diragukan bisa berjalan karena mustahil rezim Pyongyang tidak melakukan pembalasan.
Baca: Trump Akhirnya Ketir-ketir dengan Rudal Nuklir Korut
Argumen Hagel itu mirip apa yang ditulis Victor Cha—calon duta besar AS untuk Korsel—dalam sebuah artikel di New York Times. Cha dalam gagasannya keberatan dengan opsi “serangan kinetik” terhadap Korut karena dampak yang ditimbulkan akan meluas. Sikap itu membuat Cha kemungkinan tidak akan ditunjuk pemerintah Trump sebagai duta besar AS untuk Seoul.
Cha bukan diplomat sembarangan. Dia dipercaya sebagai “elang” di Korut ketika bertugas untuk pemerintah Presiden Bush.
”Untuk menjadi jelas; Presiden akan menempatkan risiko pada populasi Amerika seluas kota yang berukuran sedang di AS—Pittsburgh, katakanlah, atau Cincinnati—dengan asumsi bahwa seorang diktator yang gila dan tidak dapat dipahami akan secara rasional dikuasai oleh demonstrasi kekuatan kinetik AS,” tulis Cha.
Hagel—mantan senator Partai Republik yang menyeberangi garis partai—menjabat sebagai menhan untuk Presiden Obama dari tahun 2013 sampai 2015. Setelah pensiun, Hagel kerap mengkritik Presiden Trump terutama tentang retorikanya terhadap Korut.
”Saya pikir Presiden Trump telah memperburuk keadaan, dengan tweet-nya, 'tombol (nuklir) saya lebih besar dari Anda' dan 'api dan kemarahan' dan 'kami akan menghapus Anda dari muka bumi' dan seterusnya,” kata Hagel merinci berbagai tweet provokatif Trump.
”Itu mengatakan kepada saya bahwa dia tidak mengerti akibat pertukaran nuklir. Tidak ada pemenang dalam hal itu, dan kita harus menghindarinya.”
Jika terjadi konflik, Hagel meyakini Amerika akan menang. Tapi, pertanyaan tentang “menang” akan terlihat sebagai hal yang mengkhawatirkannya.
”Akan ada jutaan orang yang tewas di Korea Selatan, puluhan ribu orang Amerika tewas,” kata Hagel memprediksi. ”Kami memiliki 30.000 tentara di sepanjang DMZ (dona demiliterisasi) ditambah warga Amerika lainnya di sana juga. Mungkin Jepang tidak keluar dari sini tanpa malapetaka,” papar Hagel.
Sebagai gantinya, Hagel meminta diplomasi lebih besar dengan Korea Utara. ”Mari kita memotong retorika, mari kita mengurangi ketegangan, mari kita memotong omong kosong dan keberaniannya, dan marilah kita sibuk dan mulai mengikuti apa yang dilakukan orang Korea Selatan dalam menemukan celah dengan Korea Utara,” kata Hagel.
(mas)