Pentagon Ketakutan dengan Kemajuan Senjata Anti-Satelit China dan Rusia

Kamis, 01 Februari 2018 - 07:02 WIB
Pentagon Ketakutan dengan Kemajuan Senjata Anti-Satelit China dan Rusia
Pentagon Ketakutan dengan Kemajuan Senjata Anti-Satelit China dan Rusia
A A A
WASHINGTON - Pentagon dikabarkan tengah khawatir bahwa China dan Rusia sedang mengembangkan rudal anti satelit (ASAT). Senjata ini bisa menembakkan misil yang mencapai orbit Bumi rendah (LEO) AS keluar dari bintang dalam dua tahun ke depan.

Direktorat intelijen Kepala Staf Gabungan, yang disebut J-2, mengatakan kepada Washington Free Beacon bahwa rudal-rudal ini saat ini dalam pembangunan dan akan memiliki kemampuan tempur sejak tahun 2020.

Pada bulan Mei, Direktur Intelijen Nasional Dan Coats mengatakan bahwa Moskow dan Beijing semakin mempertimbangkan serangan terhadap sistem satelit sebagai bagian dari doktrin peperangan masa depan mereka.

"Keduanya akan terus mengejar senjata ASAT secara penuh sebagai sarana untuk mengurangi keefektifan militer AS," kata Coats kepada Kongres.

"Rusia mencari rangkaian kemampuan yang beragam untuk mempengaruhi satelit di semua rezim orbit, seperti senjata laser untuk Tuhan," imbuhnya.

Free Beacon memperkirakan bahwa Moskow menghabiskan USD5 miliar per tahun untuk senjata ASAT seperti rudal peluncuran rudal Nudol ASAT yang baru-baru ini diuji pada bulan Desember 2016. Rudal darat ke udara S-300, S-400, dan S-500 mereka juga memiliki kemampuan untuk menyerang target LEO.



Sementara itu, program China bersifat rahasia, tapi dianggap hebat. Pada tahun 2010, 2013, dan 2014, Beijing melakukan uji coba rudal mid-course yang menurut Pentagon sebagai sistem yang juga dapat dimodifikasi dengan mudah untuk menembak jatuh satelit.

"Program modernisasi militer China jelas mencakup upaya untuk meningkatkan permainannya di luar angkasa. Senjata untuk ruang melibatkan lebih dari sekedar sistem ASAT, tapi ini adalah tanda kemajuan China yang paling mencolok," kata mantan Direktur CIA John McLaughlin pada awal bulan Januari lalu kepada Cipher Brief seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (1/2/2018).

Berbicara kepada news.com.au, John Blaxland, profesor Studi Keamanan dan Intelijen Internasional dan direktur ANU di Southeast Asia Institute, mengatakan bahwa teknologi semacam itu telah terus berkembang selama beberapa waktu.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2021 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1188 seconds (10.101#12.26)