Paus Francis Menggambarkan 'Fake News' sebagai Ajaran Setan

Rabu, 24 Januari 2018 - 20:46 WIB
Paus Francis Menggambarkan...
Paus Francis Menggambarkan 'Fake News' sebagai Ajaran Setan
A A A
VATIKAN - Pemimimpin spiritual Vatikan, Paus Franciskus mengutuk kemunculan berita palsu dan menyebutnya sebagai ajaran setan. Dia mengatakan, wartawan dan pengguna media sosial harus menghindari dan melepaskan manipulasi "taktik ular" yang memicu perpecahan untuk melayani kepentingan politik dan ekonomi.

"Berita palsu adalah pertanda sikap tidak toleran dan hipersensitif, dan hanya mengarah pada penyebaran kesombongan dan kebencian. Itulah hasil akhir dari ketidakbenaran," kata Paus Francis dalam dokumen pertama oleh seorang paus mengenai masalah ini, seperti dilansir Reuters pada Rabu (24/1).

Dokumen tersebut dikeluarkan setelah berbulan-bulan perdebatan tentang seberapa banyak berita palsu yang mungkin mempengaruhi kampanye Presiden Amerika Serikat (AS) pada 1990 dan pemilihan Presiden Donald Trump.

"Menyebarkan berita palsu dapat digunakan untuk memajukan tujuan tertentu, mempengaruhi keputusan politik, dan melayani kepentingan ekonomi," tulisnya, kemudian mengutuk penggunaan manipulatif dari jejaring sosial dan bentuk komunikasi lainnya.

Dia kemudian menyatakan bahwa Kebenaran akan membebaskan semua orang dari berita palsu dan jurnalisme hanya digunakan untuk perdamaian. Dokumen tersebut dikeluarkan sebelum Hari Sosial Gereja Dunia pada tanggal 13 Mei.

"Berita palsu tapi bisa dipercaya ini 'captious', karena menggenggam perhatian orang dengan memikat stereotip dan prasangka sosial umum dan mengeksploitasi emosi sesaat seperti kegelisahan, penghinaan, kemarahan dan frustrasi," ungkapnya.

Berita palsu, kata Paus Francis, menyebar dengan sangat cepat, sehingga penolakan otoritatif pun seringkali tidak dapat menahan kerusakan yang terjadi dan banyak orang berisiko menjadi kaki tangan yang bersedia menyebarkan gagasan yang bias dan tidak berdasar.

Dia meminta adanya sebuah pendidikan atau pembelajaran yang akan membantu orang membedakan, mengevaluasi dan memahami berita untuk mengenali mana rayuan licik dan berbahaya yang masuk ke dalam hati dengan argumen palsu dan memikat dan mana berita yang sebenarnya.

Paus Francis kemudian membandingkan penggunaan berita palsu dengan kisah di Alkibat tentang setan, yang menyamar sebagai seekor ular, membujuk Hawa untuk memakan buah dari pohon terlarang. Dia mengatakan bahwa dia (Hawa) diberi informasi yang salah oleh Setan, yang mengatakan kepadanya bahwa buah itu akan membuatnya dan Adam menjadi seperti Tuhan.

"Kita perlu membuka topeng apa yang bisa disebut 'taktik ular' yang digunakan oleh mereka (penyokong berita palsu) yang menyamarkan diri mereka untuk menyerang setiap saat dan tempat," tukasnya.
(esn)
Berita Terkait
Menengok Laboratorium...
Menengok Laboratorium Restorasi Lukisan di Museum Vatikan
Kardinal Kunci Vatikan...
Kardinal Kunci Vatikan Mendadak Resign di Tengah Skandal Keuangan
5 Fakta Paus Fransiskus,...
5 Fakta Paus Fransiskus, Pertama dari Luar Eropa sejak 1.200 Tahun
Antar Kepergian Paus...
Antar Kepergian Paus Fransiskus menuju Soetta, Warga Histeris saat Dapat Pemberkatan
Kardinal Vatikan Diadili...
Kardinal Vatikan Diadili dalam Kasus Penipuan
Vatikan Tegaskan Menentang...
Vatikan Tegaskan Menentang Operasi Ganti Kelamin
Berita Terkini
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
1 jam yang lalu
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
1 jam yang lalu
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
2 jam yang lalu
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
3 jam yang lalu
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
4 jam yang lalu
Demo Anti-Pemerintah...
Demo Anti-Pemerintah Digelar selama 50 Hari, Bolivia Deklarasikan Status Darurat
5 jam yang lalu
Infografis
5 Calon Pengganti Paus...
5 Calon Pengganti Paus Fransiskus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved