Turki Peringatkan AS Sebelum Bombardir Afrin
Senin, 22 Januari 2018 - 02:59 WIB
Turki Peringatkan AS Sebelum Bombardir Afrin
A
A
A
WASHINGTON - Turki memberitahu Amerika Serikat (AS) jelang serangan udara terhadap milisi Kurdi yang didukung AS dan Washington tetap berhubungan dengan Ankara terkait perjalanan ke depan. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Pertahanan AS, Jim Mattis, saat penerbangan ke Asia.
"Turki bersikap jujur. Mereka memperingatkan kita sebelum mereka meluncurkan pesawat yang akan mereka lakukan, berkonsultasi dengan kami," kata Mattis, tanpa mengungkapkan reaksi AS atas pemberitahuan Turki.
"Dan kita tengah dalam perjalanan ke depan. Kami akan menyelesaikan ini," sambungnya seperti dikutip dari Reuters, Senin (22/1/2018).
Serangan udara Turki di provinsi Afrin di Suriah membuka sebuah front baru dalam perang yang hampir berusia 7 tahun itu. Operasi tersebut menempatkan Turki melawan pejuang Kurdi yang bersekutu dengan AS di tengah hubungan antara Ankara dan Washington tampak sangat dekat dengan titik tolak.
Turki telah lama marah atas dukungan AS terhadap milisi YPG di Suriah. Ankara melihat YPG sebagai perpanjangan tangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang. PKK telah melakukan pemberontakan yang mematikan selama tiga dekade di tenggara Turki yang sebagian besar dihuni kelompok Kurdi.
"Turki memiliki masalah keamanan yang sah," kata Mattis, mencatat bahwa itu adalah satu-satunya sekutu NATO dengan pemberontakan aktif di dalam perbatasannya.
Pada saat yang sama, Mattis mengatakan militer AS ditempatkan di Suriah dengan cara yang memungkinkannya memastikan bahwa persenjataan yang disediakan AS digunakan untuk memerangi pemberontak, bukan Turki. Dukungan tersebut telah memungkinkan koalisi pimpinan AS untuk menghancurkan ISIS.
"Mereka (pejuang Kurdi dan pejuang lainnya yang didukung AS) telah membuktikan keefektifannya," kata Mattis.
"Mereka telah kehilangan ribuan korban jiwa. Tapi Anda telah melihat mereka, dengan dukungan koalisi, menghancurkan (ISIS) kekhalifahan di Suriah," imbuhnya.
Sejauh ini, argumen tersebut gagal meredakan kekhawatiran Ankara.
Mattis mengatakan militer Turki menginformasikan Washington tentang operasi udaranya dalam sebuah panggilan telepon ke tingkat tinggi militer AS. Ia mengatakan tidak ada pasukan AS yang saat ini mendapatkan risiko dari operasi Turki.
Ketika ditanya apakah dia khawatir dengan situasinya, Mattis berkata: "Kami sangat waspada terhadapnya. Pejabat tinggi kami masih berhubungan. Dan kami bekerja untuk melewatinya."
"Turki bersikap jujur. Mereka memperingatkan kita sebelum mereka meluncurkan pesawat yang akan mereka lakukan, berkonsultasi dengan kami," kata Mattis, tanpa mengungkapkan reaksi AS atas pemberitahuan Turki.
"Dan kita tengah dalam perjalanan ke depan. Kami akan menyelesaikan ini," sambungnya seperti dikutip dari Reuters, Senin (22/1/2018).
Serangan udara Turki di provinsi Afrin di Suriah membuka sebuah front baru dalam perang yang hampir berusia 7 tahun itu. Operasi tersebut menempatkan Turki melawan pejuang Kurdi yang bersekutu dengan AS di tengah hubungan antara Ankara dan Washington tampak sangat dekat dengan titik tolak.
Turki telah lama marah atas dukungan AS terhadap milisi YPG di Suriah. Ankara melihat YPG sebagai perpanjangan tangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang. PKK telah melakukan pemberontakan yang mematikan selama tiga dekade di tenggara Turki yang sebagian besar dihuni kelompok Kurdi.
"Turki memiliki masalah keamanan yang sah," kata Mattis, mencatat bahwa itu adalah satu-satunya sekutu NATO dengan pemberontakan aktif di dalam perbatasannya.
Pada saat yang sama, Mattis mengatakan militer AS ditempatkan di Suriah dengan cara yang memungkinkannya memastikan bahwa persenjataan yang disediakan AS digunakan untuk memerangi pemberontak, bukan Turki. Dukungan tersebut telah memungkinkan koalisi pimpinan AS untuk menghancurkan ISIS.
"Mereka (pejuang Kurdi dan pejuang lainnya yang didukung AS) telah membuktikan keefektifannya," kata Mattis.
"Mereka telah kehilangan ribuan korban jiwa. Tapi Anda telah melihat mereka, dengan dukungan koalisi, menghancurkan (ISIS) kekhalifahan di Suriah," imbuhnya.
Sejauh ini, argumen tersebut gagal meredakan kekhawatiran Ankara.
Mattis mengatakan militer Turki menginformasikan Washington tentang operasi udaranya dalam sebuah panggilan telepon ke tingkat tinggi militer AS. Ia mengatakan tidak ada pasukan AS yang saat ini mendapatkan risiko dari operasi Turki.
Ketika ditanya apakah dia khawatir dengan situasinya, Mattis berkata: "Kami sangat waspada terhadapnya. Pejabat tinggi kami masih berhubungan. Dan kami bekerja untuk melewatinya."
(ian)