Ledek Kim Jong-un, Tombol Nuklir Trump Ternyata Cuma Mitos
Kamis, 04 Januari 2018 - 11:33 WIB
Ledek Kim Jong-un, Tombol Nuklir Trump Ternyata Cuma Mitos
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump meledek diktator muda Korea Utara (Korut) Kim Jong-un dengan mengklaim tombol nuklir AS di mejanya lebih besar dan lebih kuat daripada yang dimiliki Kim. Namun, tombol nuklir yang disesumbarkan itu ternyata tidak pernah ada alias mitos.
Retorika “tombol nuklir” di antara kedua pemimpin itu telah memicu asumsi bahwa tombol untuk dimulainya serangan nuklir berada di sebuah meja dengan warna merah. Tapi, faktanya tidak demikian.
Seorang presiden AS sejatinya memiliki akses ke “football” nuklir yang pada dasarnya berwujud sebuah tas kerja. Tas itu berisi alat komunikasi dan ”Denny menu” pilihan nuklir yang dapat dikirimkan setiap saat.
Ta situ dibawa oleh sekelompok perwira militer yang mengikuti presiden AS di pesawat Air Force One, lapangan golf, kereta api hingga ke lokasi makan malam pribadi di Mar-a-Lago sekalipun.
Presiden AS juga memiliki akses ke kartu yang dikenal sebagai “the biscuit”, yang berisi kode-kode nuklir yang mengidentifikasi dia sebagai Presiden. Akses itu ditujukan ke pejabat militer di Pentagon, yang memungkinkannya untuk melakukan serangan nuklir ke manapun di dunia dalam waktu empat menit.
Jadi, “tombol merah” di meja yang digambarkan sebagai tombol nuklir tidak ada secara teknis. Meski demikian, Presiden Trump memang memiliki kemampuan unik untuk melakukan serangan nuklir tanpa ada pemeriksaan atas kewenangannya.
Baca: Ledek Kim Jong-un, Trump: Tombol Nuklir Saya Lebih Besar!
Ahli nuklir, Garrett Graff, mengatakan kepada news.com.au beberapa waktu lalu menggambarkan singkat kewenangan presiden AS dalam memerintahkan serangan nuklir.”Tidak ada bagian dari proses ini, di mana ada suara kedua yang harus mengatakan 'iya ada alasan bagus untuk meluncurkan senjata nuklir',” kata Graff.
”Atau, ya, saya sudah dua kali mengecek dan Presiden tidak ‘mabuk gila’ sekarang,” lanjut Graff menegaskan kewenangan absolut seorang presiden AS.
“Presiden pada keadaan apapun kapanpun dia harus memastikan bahwa dia adalah Presiden AS. Itu satu-satunya cek atau keseimbangan pada keseluruhan sistem. Dari situlah seluruh sistem diarahkan untuk meluncurkan senjata nuklir secepat mungkin,” paparnya.
Klaim tombol nuklir Presiden Trump yang dia klaim lebih besar dari milik Kim Jong-un sejatinya sebagai balasan atas pidato pemimpin Korut itu.
Baca juga: Usai Tombol Nuklir, AS Klaim Mental Trump Ungguli Kim Jong-un
Dalam pidato Tahun Baru, Kim Jong-un mengklaim seluruh AS berada dalam jangkauan senjata nuklirnya.
”Seluruh Amerika Serikat berada dalam jangkauan senjata nuklir kita, dan sebuah tombol nuklir selalu ada di meja saya. Ini kenyataan, bukan ancaman,” kata Kim.
Pidato itu membuat Trump terpancing untuk merespons. ”Akankah (mampu) seseorang dari rezimnya yang kekuarangan dan kelaparan makanan, tolong beritahu dia bahwa saya juga memiliki tombol nuklir, tapi ini lebih besar dan lebih kuat daripada yang dia miliki, dan tombol nuklir saya bekerja!,” tulis Trump via akun @realDonaldTrump.
Pihak Gedung Putih sejatinya juga tahu bahwa tombol nuklir yang disesumbarkan Trump itu tidak pernah ada. Namun, juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders, tetap membela retorika Trump.
”Presiden sangat menyadari bagaimana proses kerjanya dan kapasitas Amerika Serikat. Dan saya dapat mengatakan bahwa ini lebih baik dari Korea Utara,” kata Sanders, seperti dikutip Reuters, Kamis (4/1/2018).
Retorika “tombol nuklir” di antara kedua pemimpin itu telah memicu asumsi bahwa tombol untuk dimulainya serangan nuklir berada di sebuah meja dengan warna merah. Tapi, faktanya tidak demikian.
Seorang presiden AS sejatinya memiliki akses ke “football” nuklir yang pada dasarnya berwujud sebuah tas kerja. Tas itu berisi alat komunikasi dan ”Denny menu” pilihan nuklir yang dapat dikirimkan setiap saat.
Ta situ dibawa oleh sekelompok perwira militer yang mengikuti presiden AS di pesawat Air Force One, lapangan golf, kereta api hingga ke lokasi makan malam pribadi di Mar-a-Lago sekalipun.
Presiden AS juga memiliki akses ke kartu yang dikenal sebagai “the biscuit”, yang berisi kode-kode nuklir yang mengidentifikasi dia sebagai Presiden. Akses itu ditujukan ke pejabat militer di Pentagon, yang memungkinkannya untuk melakukan serangan nuklir ke manapun di dunia dalam waktu empat menit.
Jadi, “tombol merah” di meja yang digambarkan sebagai tombol nuklir tidak ada secara teknis. Meski demikian, Presiden Trump memang memiliki kemampuan unik untuk melakukan serangan nuklir tanpa ada pemeriksaan atas kewenangannya.
Baca: Ledek Kim Jong-un, Trump: Tombol Nuklir Saya Lebih Besar!
Ahli nuklir, Garrett Graff, mengatakan kepada news.com.au beberapa waktu lalu menggambarkan singkat kewenangan presiden AS dalam memerintahkan serangan nuklir.”Tidak ada bagian dari proses ini, di mana ada suara kedua yang harus mengatakan 'iya ada alasan bagus untuk meluncurkan senjata nuklir',” kata Graff.
”Atau, ya, saya sudah dua kali mengecek dan Presiden tidak ‘mabuk gila’ sekarang,” lanjut Graff menegaskan kewenangan absolut seorang presiden AS.
“Presiden pada keadaan apapun kapanpun dia harus memastikan bahwa dia adalah Presiden AS. Itu satu-satunya cek atau keseimbangan pada keseluruhan sistem. Dari situlah seluruh sistem diarahkan untuk meluncurkan senjata nuklir secepat mungkin,” paparnya.
Klaim tombol nuklir Presiden Trump yang dia klaim lebih besar dari milik Kim Jong-un sejatinya sebagai balasan atas pidato pemimpin Korut itu.
Baca juga: Usai Tombol Nuklir, AS Klaim Mental Trump Ungguli Kim Jong-un
Dalam pidato Tahun Baru, Kim Jong-un mengklaim seluruh AS berada dalam jangkauan senjata nuklirnya.
”Seluruh Amerika Serikat berada dalam jangkauan senjata nuklir kita, dan sebuah tombol nuklir selalu ada di meja saya. Ini kenyataan, bukan ancaman,” kata Kim.
Pidato itu membuat Trump terpancing untuk merespons. ”Akankah (mampu) seseorang dari rezimnya yang kekuarangan dan kelaparan makanan, tolong beritahu dia bahwa saya juga memiliki tombol nuklir, tapi ini lebih besar dan lebih kuat daripada yang dia miliki, dan tombol nuklir saya bekerja!,” tulis Trump via akun @realDonaldTrump.
Pihak Gedung Putih sejatinya juga tahu bahwa tombol nuklir yang disesumbarkan Trump itu tidak pernah ada. Namun, juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders, tetap membela retorika Trump.
”Presiden sangat menyadari bagaimana proses kerjanya dan kapasitas Amerika Serikat. Dan saya dapat mengatakan bahwa ini lebih baik dari Korea Utara,” kata Sanders, seperti dikutip Reuters, Kamis (4/1/2018).
(mas)