Duterte Ancam Berlakukan 'Pemerintahan Revolusioner'

Sabtu, 02 Desember 2017 - 14:37 WIB
Duterte Ancam Berlakukan...
Duterte Ancam Berlakukan 'Pemerintahan Revolusioner'
A A A
MANILA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte secara terbuka telah mengancam untuk memberlakukan pemerintahan darurat yang otoriter. Hal itu akan dilakukan jika pemerintahan oligarki yang dipimpinnya berjalan tidak sesuai dengan kebijakan.

"Sekali Anda menciptakan destabilisasi yang berujung pada kekacauan, Saya tidak akan ragu untuk mengumumkan sebuah pemerintahan revolusioner sampai akhir masa jabatan Saya," kata Duterte seperti disitir dari Sputnik, Sabtu (2/12/2017).

Ia menambahkan bahwa ia dapat menunda konstitusi negara tersebut sehingga dia dan para pendukungnya dapat mereformasi pemerintah tanpa belenggu.

"Pemerintahan revolusioner ini akan mereformasi sistem federal, meratifikasi sebuah konstitusi baru, mengurangi korupsi, memperbaiki dan memodernisasi keamanan serta mengakhiri cengkeraman kartel-kartel obat bius. Semua ini bisa jadi milikmu, orang Filipina, jika kamu hanya memberikan kekuasaan mutlak kepada presiden," ujar Duterte.

Duterte berjalan di atas sebuah platform yang mengklaim bahwa elit dan sindikat obat-obatan kaya bekerja di bawah kendali untuk keuntungan bersama dengan mengorbankan rakyat jelata di Filipina. Tak lama setelah menjabat, dia mengumumkan perang melawan penggunaan narkoba, mendorong polisi untuk menggunakan kekuatan mematikan terhadap pengguna narkoba dan penjajanya.

Gereja Katolik Filipina mengklaim bahwa lebih dari 13.000 orang telah terbunuh dalam perang obat Duterte sejak Juni 2016. Sementara polisi Filipina menyebut tindakan brutal Duterte sangat efektif: kejahatan telah menurun 32 persen dan warga Filipina melaporkan bahwa mereka merasa lebih aman sebagai akibat dari kebijakan represif tersebut.

Duterte juga mengumumkan darurat militer di pulau Mindanao. Mindanao merupakan lokasi pertempuran berdarah antara militer Filipina dan kelompok jihadis Maute dan Abu Sayyaf, yang telah berjanji setia kepada ISIS, di seberang kota Marawi. Lebih dari 1.000 orang terbunuh dan satu juta orang mengungsi dalam lima bulan pertempuran dan seluruh pulau tetap berada di bawah kendali militer bahkan setelah kekalahan ISIS.
(ian)
Berita Terkait
Diskusi Peta dan Kemunculan...
Diskusi Peta dan Kemunculan Bangsa Filipina dengan Pembicara Sejarawan Ternama
Presiden Filipina Duterte...
Presiden Filipina Duterte Bersaing dengan Putrinya Perebutkan Kursi Wapres
Pelaku Bom Filipina...
Pelaku Bom Filipina Disebut WNI, Menlu: Masih Diselidiki
Musuh Sekaligus Pengkritik...
Musuh Sekaligus Pengkritik Perang Narkoba Duterte Maju Pilpres Filipina
Duterte Incar Kursi...
Duterte Incar Kursi Wapres Filipina setelah Lengser
Rencanakan Pemboman,...
Rencanakan Pemboman, 'Calon Pengantin' Perempuan Diciduk Tentara Filipina
Berita Terkini
Israel Ingin Bangun...
Israel Ingin Bangun Kekuatan Militer di Gaza, Hamas: Zionis Ingin Pecah Belah Rakyat Palestina
48 menit yang lalu
Turki Jadi Bagian Penting...
Turki Jadi Bagian Penting Arsitektur Keamanan NATO di Masa Depan
1 jam yang lalu
10 Pemakaman Pemimpin...
10 Pemakaman Pemimpin Dunia yang Dihadiri Jutaan Rakyat, Rekor Khomeini Belum Terpecahkan
2 jam yang lalu
Jerman Tuding China...
Jerman Tuding China Latih Pasukan Rusia, Beijing: Kita Tidak Memihak
3 jam yang lalu
4 Alasan Wapres Filipina...
4 Alasan Wapres Filipina Sara Duterte Terancam Dimakzulkan, Konflik dengan Presiden hingga Terjerat Skandal Korupsi
4 jam yang lalu
Menhan Israel Ancam...
Menhan Israel Ancam Bunuh Para Pemimpin Iran Pengganti Khamenei
5 jam yang lalu
Infografis
Kapal Induk Kedua Tiba...
Kapal Induk Kedua Tiba di Timur Tengah, AS Serius Ancam Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved